Thursday, August 15, 2013

Berlebaran dengan si Kemo

Membaca warna-warni acara lebaran di milis Keluarga Unesa, bisa saya bayangkan serunya. Yang cerita perjalanan, meriahnya makanan, sampai cerita jin.*:-O surprise

Saya sendiri melewati hari-hari pasca lebaran dengan meringkuk di bawah selimut. Hiks hiks. Tapi alhamdulillah hari-hari itu sudah lewat.

Hari raya Eid pas Kamis kemarin sebenarnya berkah luar biasa buat saya. Gak mengira bisa segar bugar dan pasang senyum lebar ke mana-mana. Foto-foto yang saya unggah di FB agar bisa dilihat keluarga di Surabaya jadi bukti. Bapak ibu bungah sekali melihat kondisi saya. Maklumlah, sehari sebelumnya saya baru saja menjalani kemoterapi. Padahal malam lebaran juga sudah mulai melayang tubuh ini.

Begitulah, lontong dan opor ayam dan uba rampenya,  sajian komunitas Indonesia bisa saya nikmati. Meski kali ini saya milih kebagian bawa buah saja. Dengan alasan jaga-jaga gak kuat masak pada malam lebaran. Biasanya sih ikut setor masakan.

Tapi kemudian saya harus merelakan kekebalan saya dihempaskan obat kemo sejak Kamis malam. Selama 4 hari, praktis saya tidak menghirup udara luar. Bahasa ibu saya, gak ndelok padhang hawa. Suara lemah, perut serasa diudek, pingin muntah tapi gak ada yang keluar. Mulut kering dan pahit. Jangan ditanya soal nafsu makan. Bisa memaksakan cereal dan oatmeal masuk sudah bagus. Alhasil perut malah jadi kaku. Padahal master chef Prapto buka dapurnya 24/7. Mau makan apa, siap sedia. Padahal susah banget menyelesaikan oatmeal yang cuma separuh mangkuk. Andalan saya cuma buah saja. Agar tidak sariawan. Juga terus menenggak noni juice untuk menambah daya tahan tubuh. Mulut kering dan pahit sudah cukup menggerus selera makan. Pokoknya, kelima panca indera dihempaskan ke titik rendah. Jangan lagi ditambahi dengan sariawan. Paling tidak, itu kata buku tentang efek samping kemoterapi. 

Saya mencoba mencari cara agar pikiran tidak ikut sakit. Trust me. It wasn't easy (Iya lah, kalau gampang kan bukan disebut ujian). Saya membayangkan saja lagi morning sickness ibu hamil. To bring hope. It was hard, but helped a bit. Meski mata sedang sensitif dengan cahaya. Telinga gak bisa dengar suara sedikit melengking. Mau mengalihkan perhatian dengan membaca juga pusing. Boro-boro nulis (Meski ternyata ada beberapa draft di blog yang sempat saya tulis). 

Saya coba ajak ngobrol si kemo.

"Yok opo rek kok awakku mbok gawe ngene?"
Jawab kemo: I'm just doing my job." Aku ngono sakjane ya mbantu awakmu. Ola opo nganggep aku musuh?"
Aku nawar: lha iki sik onok maneh gak, liyane weteng mulek plus gak doyan mangan. Sampai pirang ndino rek?"Kesel dadi kembang kasur. Gak iso lapo-lapo."
Kemo jawab lagi: Yo mbuh, takono awakmu dhewe. Wis ta ning, sabar thithik po'o. Awakmu ate mencolot nang ndi se? Listen to your body. Kan ngono jarene dokter."

Saya ingat janji saya sebelum kemo. "I wouldn't let you take the best of me." Sekarang saya jadi ragu sendiri. Apa yang saya maksud dengan the best of me?  Tetap semangat kerja meski sakit? Dream on it now. Jangan-jangan bukan itu makna seharusnya. Mungkin maksudnya sabar dalam menghadapi ujian ya begini ini. 

Ya sudahlah. Barangkali memang harus begitu. Kata ustadzah Fida, sabar itu ketika datang ujian pertama. Berarti ini memang maknanya. Maka ketika telinga yang bisa diandalkan, saya coba mendengarkan beberapa tausiyah Yusuf Mansur di youtube. Supaya bisa tersenyum sambil menunggu esok hari yang mudah-mudahan lebih ramah. Ujian kesabaran. Mudah-mudahan dinaikkan derajat oleh Allah. Semoga digugurkan dosa-dosa masa lampau. Semoga ya Allah (sambil ngarep setengah meksa. Dasar manusia maunya sendiri)

Menginjak hari kelima. Senin pagi sebelum shubuh. Badan terasa lebih enak. Tidak lagi nggliyeng. Saya ke dapur bikin kopi buat mas Prapto. Sereal buat saya sendiri. Roti bakar isi mentega dan pisang yang dibuat mas Prapto sukses masuk perut tanpa protes.  Saya siapkan nasi goreng dan telur dadar buat sarapan anak-anak. Hidung saya ternyata juga mulai ramah dengan bau makanan. This is gonna be a promising day, batin saya. 

It's amazing how our body works. Setelah tepar 5 hari, sel-sel sehat yang baru saja dirusak obat kemo bisa memperbarui diri dengan cepat. Dari rasa terrible morning sickness menjadi craving for food. Persis kayak orang hamil. Kiriman tahu kecap dari teman membuat saya pingin menyendok nasi terus. Roti kukus hantaran lebaran dari tetangga Singapore seperti tak cukup mengganjal perut. Apa yang di ada di meja makan bergantian pindah ke perut. 

Saya sambut suka cita sinar matahari yang sempat keluar di sela-sela hari berangin dahsyat. Dari slow motion kayak nenek-nenek, dan kemudian bisa jalan kaki lagi menjemput Adzra ke sekolah. Hal yang sesimpel ini, di mata saya adalah such a great improvement. Tempe mendoan dan ikan goreng, plus sambal bawang dan kulupan bayam membuat saya terbang ke pinggir rel kereta api Ketintang di depot kincir angin. Mantaap dah. 

Ya Allah, terima kasih sudah memberi saya arti hidup yang lebih bermakna. Terima kasih ya Allah atas karunia kesehatan yang super duper mahal harganya. Saya sudah bisa duduk di depan laptop lagi. Membaca lagi. Menulis lagi. Ampuni ya Allah kalau hari-hari kemarin saya sempat slendro dengan waktu saya. Terlalu banyak diisi hal yang sebenarnya bukan prioritas.  

Bila kemo pertama ini adalah pola yang berulang di kelima siklus berikutnya, saya memberanikan diri bertekad mengatakan, "It was not that bad. I can get through this." (I wish I could say this last week*:( sad). Semoga 2 minggu ke depan adalah hari-hari menyenangkan. Saya ingin mengejar beberapa ketertinggalan. Semampang diberi kebugaran. Pelajaran bagi saya untuk tidak memboroskan waktu. Sebelum kemo lagi 2 minggu mendatang. Sebelum hari-hari hibernasi datang lagi.

Innama al usri yusro wa innama al usri yusro.
There's a silver lining behind the dark cloud. 
There are always good things even in terrible situations.
Sembarang dah mau kalimat bijak apa lagi
Yang penting menjaga semangat di tingkat tertinggi.
Ketika diri serasa berada di titik nadir.

Life is too beautiful to be complaining about. Terima kasih ya Allah. Hidup ini indah sekali. 

3 comments:

Gustaf Wijaya said...

MInal Aidzin wal Faidzin Mam

Saya kaget sekali membaca beberapa latest posts blog panjengenengan Mam. (di Facebook, wow, semua seperti baik-baik saja Mam)

Semoga diberi ketabahan dan segera sembuh Mam,
kami hanya bisa membantu dengan doa.

Saya salut dengan tangan Mam Tiwi, jemarinya tetap ngetik dan menulis, walaupun terbaring di rumah sakit (berdasarkan blog Mam yang saya baca).

Jadi inget salah satu judul artikel Pak Khoiri Mam, "Menulis itu menyembuhkan". Semoga hal ini juga terjadi pada Mam Tiwi. Cepat sembuh Mam, lalu terus menginspirasi kami :)

Gustaf.

Pratiwi Retnaningdyah said...

Taqabbal Allahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin juga ya Gustaf.

Hehe, ternyata baca juga postingan yang tidak saya share ke mana-mana, seperti biasanya via FB. Yah ini sebenarnya mbujuk juga. Kalau sudah publish di blog kan pastinya ada yang baca.

Insya Allah saya bisa kuat menjalani semuanya. Dukungan dan doa orang-orang terdekat (termasuk kamu juga) akan sangat menguatkan. Sekarang lebih ke bagaimana mengelola waktu, sehingga hari-hari bugar pasca kemo bisa digunakan untuk sebanyak-banyaknya produktivitas. Dan pas hari-hari suram datang, itu tandanya rehat dan fokus ke menata hati agar energi tetap positif mengalir ke otak.

Makasih atas doanya ya.

arara carter said...

semoga cepat sehat kembali bu tiwik #Herra#