Sunday, October 12, 2014

JUST AN EASY WAY TO FEEL GREAT

Hari Selasa lalu saya menjalani terapi Herceptin yang ke-18. Ini adalah injeksi yang terakhir. Setelah memulai terapi ini tahun lalu, dengan datang ke rumah sakit Western Health tiap 3 minggu sekali, Alhamdulillah semua rangkaian terapi untuk pengobatan kanker payudara saya tuntas sudah. Mau dikatakan cepat ya tidak juga. Satu tahun itu cukup lama. Belum termasuk kemoterapi selama 6 kali, sejak Agustus sampai November 2013,  setelah operasi pengangkatan payudara kiri saya Juli tahun lalu.

Tidak seperti kemoterapi yang membuat saya tepar, turun berat badan drastis, dan praktis meninggalkan studi saya selama beberapa waktu, terapi Herceptin ini tidak banyak efeknya ke aktivitas. Sejak Januari 2014, saya sudah praktis kembali ke aktivitas semula. Efek samping ke fungsi jantung yang dikhawatirkan juga selalu dipantau. Setiap kelipatan 4 kali suntikan, jantung saya akan di-scan. Selain itu pemeriksaan ECG juga dilakukan. Scan jantung terakhir dilakukan sehari menjelang terapi terakhir. Alhamdulillah sampai terapi selesai, semua berfungsi dengan normal dan bagus.

Saat ditanya dokter bagaimana perasaan saya, saya katakan, “I’m so excited that it’s going to be the last injection.” Dokter dan perawat yang selalu mendampingi saya ketawa. “We’ve heard that so many times.”

Salah satu cek rutin yang saya lakukan sendiri di rumah sakit adalah berat badan. Badan saya yang cenderung kurus memang susah sekali naik berat badannya. Flu sebentar saja sudah melorot di bawah 39 kg. Kalau lagi sehat ya Cuma naik 1 kilo. Angka 40 masih susah ditembus.

Itu makanya saya terkejut ketika melihat angka di timbangan digital. 40.2 kg. Wah rekor nih. Alhamdulillah. Saya sempat merunut ke belakang. Kok bisa ya. Ternyata saya pikir-pikir, di tengah-tengah kejar tayang garap tesis, saya mulai banyak ngemil. Porsi makan saya juga mulai menggunung.

Perkembangan ini membuat saya semakin bersemangat saja. Apalagi matahari musim semi mulai sering menghangatkan sekujur tubuh. Tadi pagi ketika saya buka pintu, udara amat cerah. Sejuk seperti udara di Sarangan. Dari langit yang biru bersih, nampaknya hari ini akan panas.

Saya geliatkan seluruh tubuh. Jogging sebentar di depan rumah. Enak banget. Sinar matahari langsung jatuh ke wajah saya. Saya masuk rumah. Mengganti sandal dengan sneakers. Adzra mulai tanya,”where are you going, Mommy? I’m coming with you.”

Saya jadi tergoda untuk mengajak Adzra bersepeda. Selama musim dingin yang berkepanjangan kemarin dulu, sepeda praktis tidak saya sentuh lagi. Baru Kamis yang lalu saya mulai memancal sepeda saya lagi. Berangkat mengaji di rumah teman, daripada naik tram. Ngirit dan menyehatkan.

Adzra sendiri sudah lama tidak berlatih bersepeda lagi, sejak ayahnya balik ke tanah air. Apakah dia masih bisa naik sepeda tanpa roda kecil di sisi kiri.
Can you still ride your bike? tanya saya. “Wanna give it a go?”

Maka saya dan Adzra segera ke halaman belakang apartemen. Mengambil sepeda masing-masing. Pakai helm. Dan mulailah kami mengayuh sepeda, mengambil jalur pejalan kaki di sepanjang jalan. Lebih aman buat Adzra yang masih belajar keseimbangan.

Setelah beberapa kali berhenti, tidak yakin dengan cara mengayuh dan mengendalikan setir yang pas, akhirnya Adzra mulai menemukan ritmenya dengan cepat. Jalan di kompleks dekat rumah masih sepi pada pukul 8 pagi. Hanya satu dua mobil yang lewat. Dari jalur di sepanjang De Carle Street, kami belok kanan, menyeberang ke Davies Street. Ada beberapa keluarga Indonesia yang tinggal di daerah ini. Tapi jalan Davies sama sepinya.

Kayuhan sepeda Adzra semakin stabil. Dari belakangnya, saya memotivasinya untuk terus mengayuh. “Pedal faster. That’s good. You’re doing great. Keep moving.” Sesekali Adzra berhenti, hanya untuk bertanya, “Am I doing good?” Saya jawab, “you really are.”

Sampai di perempatan Davies dan Barrow Street, terlihatlah taman kecil. “Mommy, let’s go to the park.” Adzra kangen dengan taman ini. Dua tahun lalu, saat Adzra masih di Kindergarten, Barrow street adalah route kami sehari-hari. Taman ini adalah jujugan Adzra sepulang dari Kinder.

Kami menyeberang jalan, mengayuh menuju taman. Dan sepeda langsung kami sandarkan di kayu pembatas taman. Tidak ada seorangpun di taman. Suasana sepi hanya dipecahkan oleh teriakan nenek tua yang berjalan tanpa tujuan. Dari bahasanya, nampaknya dia orang Yunani. Dia meneriaki siapa saja yang kebetulan lewat atau dia lihat. Kasihan. Di Melbourne ini, cukup sering saya menemukan lansia yang terganggu jiwanya.

Adzra sudah langsung menikmati slide dan monkey bars. Di manapun ada playground, baik di sekolah maupun di Warr Park dekat rumah, kedua mainan ini adalah favoritnya. Saya perhatikan Adzra cukup atletis dan lentur gerakan tubuhnya. Dia dengan mudah memindahkan tangannya dari satu bar ke bar lain. Persis seperti monyet yang bergelantungan di pohon. Itu sebabnya mainan ini disebut monkey bars.

Di lingkungannya, Adzra bukanlah anak perempuan satu-satunya yang jago di monkey bars. Teman-teman perempuannya, sesama anak Indonesia, suka saling bersaing. Adu cepat atau kekuatan. Itu pemandangan yang acapkali kami lihat saat pulang sekolah. Anak-anak biasanya tidak mau pulang dulu.

Di taman kecil ini, saya mencoba kekuatan tangan saya. Apakah saya bisa bergelantungan di monkey bars juga. Ternyata lengan saya tidak atau belum cukup kuat sebagai tumpuan agar badan saya bisa terayun. Susah juga ternyata. Sementara Adzra dengan ringannya berayun-ayun.

Maka saya ganti acara. Pull-up, dengan menggunakan dua bar sebagai pegangan, dan kaki saya miringkan ke depan. Sukses 10 kali. Akhirnya saya ulangi beberapa kali. Wajah dan tubuh saya terasa dialiri darah. Hangat dan menyegarkan. Saya tambahi lari-lari kecil di sekitar taman. To be honest, I really feel good about myself.

Maunya berlama-lama di taman, kalau tidak ingat belum menyiapkan sarapan. Maka saya ajak Adzra pulang. Adzra sudah semakin menikmati bersepeda ria. Setiap ada jalan agak menurun, dia selalu berteriak, “this is the fun part.” “Another fun part.” Tanpa berhenti mengayuh, anak yang ekspresif ini bilang, “this is the best day of my life.” Ah, Adzra selalu bilang begitu setiap kali dia menikmati pengalaman barunya.

Saya kira Adzra memang benar. Pengalaman seringan apapun akan selalu membawa kebahagiaan. Nampaknya kami perlu lebih sering melakukannya. Mungkin perlu cari sepeda lagi, agar Ganta juga bisa mengawal kami. Dan taman-taman yang sedikit lebih jauh bisa jadi jujugan olahraga pagi.  

Ada banyak cara mudah untuk mensyukuri menit-menit yang kita punya. I’ve started my day feeling great. How about you?

2 comments:

Hamzah Fauzi said...

Sudah brp lama Bu di sana? Smg selalu oleh Allah diberi kelancaran dan barokah ... Amien YRA

ayunita leliana said...

Happy 4 u bu Tiwik. Semoga ibu selalu sehat :) sehingga bisa selalu mendampingi Ganta & Adzra (sy selalu merasa bahagia saat ibu tercinta saya selalu ada utk saya).
Dan semoga kita termasuk hamba yg selalu pandai mensyukuri nikmatNya.
Have a lovely life, bu Tiwik :)