Thursday, August 20, 2015

MENJADI PELANGGAN YANG TELITI

Tadi malam belanja ke toko swalayan 'G' dekat rumah dengan Adzra, anak saya. Seperti biasa, saya mempertimbangkan harga barang. Mana produk yang lebih murah dengan kualitas sebanding, maka itu yang saya pilih. Itulah sebabnya saya cukup ingat berapa harga barang yang masuk ke keranjang belanja. Sampai di kasir, saya menerima printout total harga, yang membuat saya agak kaget. Tidak sesuai perkiraan saya. Setelah saya bayar, saya cek satu-persatu harga yang tertera. Dari situlah saya menemukan perbedaan harga satu item. Di struk tertera Rp. 18000an, sementara saya ingat bahwa saya memilih item itu karena harganya 16000an. Masih berpikir positif, mungkin saya yang salah lihat, saya memberitahukan ke kasir kalau saya mau masuk ke dalam lagi untuk memastikan kebenaran harga.

Betul perkiraan saya, ada kesalahan scan harga saat di kasir. Setelah saya beritahukan tentang perbedaan harga ini, saya kembali ke kasir. Salah satu staf memastikan kembali informasi yang saya sampaikan. Kasir akhirnya mengembalikan sisa uang sekitar 1500.

Bagi saya, ini bukan masalah uang yang mungkin jumlahnya remeh untuk sebagian orang. Ini adalah tentang hak konsumen. Mengalami kejadian ini membuat saya lebih awas dengan setiap harga barang yang saya beli agar tertera sama dengan di display dan kasir. Sebagai konsumen, saya tidak boleh mendiamkan saja, terutama juga agar pihak swalayan juga bisa langsung melakukan koreksi harga di sistem.

Hal yang lain yang saya catat adalah pelayanan yang kurang ramah. Kesalahan seperti ini belum tentu disengaja. Meskipun begitu, sebuah kekeliruan haruslah diikuti dengan permintaan maaf. Bukanlah citra sebuah tempat usaha bergantung pada layanan yang diberikan? Yang terjadi kemarin, kasir dan staf lain tidak melakukan kontak mata dengan saya. Juga tidak ada senyum, alih-alih kata 'maaf.' Sementara saya berupaya menyampaikan 'temuan' saya tadi dengan hati-hati dan santun agar tidak menyinggung perasaan.

Saya menerima kembalian uang dengan kata 'terima-kasih'. Saat berjalan pulang, saya memberitahukan ke Adzra akan pentingnya 'melek' harga barang dan mengecek kesesuaian harga di struk pembayaran. Pengalaman yang kurang enakpun adalah sarana pembelajaran untuk anak.

Pagi ini saya menceritakan kejadian tadi malam ke Abay, asisten rumah tangga kami. Ternyata dia sudah mengalami hal ini berulang kali, dan bahkan sudah pada titik menghindari belanja ke toko 'G' dengan alasan tersebut.

Barangkali saya dengan reverse culture shock. Kaget dengan harga barang di tanah air, tergagap dengan bedanya layanan pelanggan. Ataukah hal seperti ini memang sudah lama adanya. Entahlah. Yang jelas saya lebih menikmati belanja di pasar lokal atau toko 'mracang' dekat rumah. Di situ saya bisa dapat harga yang lebih ramah plus obrolan hangat dengan bu Imam atau mbak Yati di kios langganan saya.

1 comment:

Ave Fauzisar said...

IBuk kok lama tidak menulis lagi, sudah lebih dari 4 minggu.. saya silent reader blog ibu lho. saya yang sejak dulu punya cita-cita tinggal sekolah di aussi..