Tuesday, February 21, 2012

Budaya Copas dalam Menyusun RPP (1)


Saat browsing tentang artikel pembelajaran, saya malah menemukan artikel saya sendiri yang pernah dimuat di harian Surya, sekitar 3 tahun yang lalu, tepatnya pada akhir Januari 2008. Artikelnya ada 2 bagian. dan dimuat dalam 2 edisi berbeda. Bagian pertama artikel ini diunggah di blog Dinas Pendidikan Sumatra Barat, dengan link ini: http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2008/02/27/menyusun-rencana-pelakasanaan-pembelajaran-rpp-jiplakan-dan-budaya-potong-kompas/.  Ini dia artikelnya. Mudah-mudahan masih relevan dengan kondisi dunia pendidikan sekarang ini.

 ================================================================= 

Bila Anda seorang guru, Anda barangkali sudah terbiasa dengan rutinitas awal semester. Mengumpulkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan mempersiapkan materi untuk satu semester ke depan.

Tapi bila ditanya, apakah tujuan dan langkah-langkah pembelajaran di dalam RPP yang Anda susun betul-betul direalisasikan dalam proses belajar mengajar, barangkali Anda akan tersenyum simpul. Bagaimana tidak? RPP seringkali hampir seragam dengan teman sejawat atau sesama guru bidang studi dari sekolah lain. Pendek kata, teknik copy and paste boleh dikata sudah biasa dilakukan oleh para guru.

Apakah ini salah? Barangkali tidak ada yang salah dengan RPP yang hampir sama, dengan sedikit modifikasi di sana-sini, sesuai dengan kondisi kelas. Namun bagaimana kalau seorang guru justru tidak paham dengan kalimat yang dia tulis sendiri di RPP? Lho, apa ada guru yang tidak mengerti apa yang dia tulis di RPP?

Mengapa tidak? Temuan ini penulis peroleh selama menjalankan tugas sebagai instruktur di Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG). Mari kita ambil salah satu contoh ini. Seorang guru mata pelajaran bahasa Inggris misalnya. Dia mencantumkan kalimat sebagai berikut sebagai salah satu tujuan pembelajaran di RPPnya: Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri kebahasaan dalam teks naratif. Namun ketika praktek mengajar, tujuan pembelajaran di atas tidak muncul. Ketika ditanya mengapa, justru guru yang bersangkutan malah bertanya balik, “Ciri kebahasaan itu apa sih, bu?”. Kasus sejenis terjadi dalam kaitan dengan pedoman penilaian yang digunakan.

Di dalam RPP, seorang guru yang lain menetapkan mechanics sebagai salah satu aspek penilaian kemampuan siswa dalam ketrampilan berbicara. Ini jelas logika yang tidak jalan, karena mechanics dalam bahasa Inggris mengacu antara lain pada cara penulisan yang benar, seperti penggunaan huruf besar, singkatan, angka, atau cetak miring dalam kalimat. Usut punya usut, ternyata guru yang bersangkutan (dan guru-guru yang lain dalam kelompok tersebut) belum tahu arti kata mechanics dalam konteks pengajaran bahasa Inggris.

RPP ‘jiplakan’ juga menjadi keprihatinan penulis. Sebagian besar guru peserta PLPG mengakui, mereka tak punya cukup waktu untuk betul-betul menulis RPP dengan benar, karena tuntutan tugas mengajar yang padat dan tugas-tugas lain sebagai guru. Para guru bahkan tak sempat menggunakan RPP ‘hasil kerja sama’ sebagai panduan mengajar. Banyak guru memilih mengajar dengan teknik potong kompas, seperti penerjemahan tiap kalimat untuk ketrampilan membaca (reading skill), atau tetap menggunakan bahasa Indonesia saat mengajar Bahasa Inggris.

Padahal skenario pembelajaran yang tercantum dalam RPP cukup bagus dan sesuai dengan tujuan komunikatif pembelajaran bahasa Inggris. Alasan klasiknya: tuntutan menyelesaikan materi dalam satu semester atau kualitas siswa yang rendah. Mana sempat menggunakan metode pembelajaran yang komunikatif kalau dikejar-kejar materi yang padat?

Di pihak lain, banyak dosen paham cara menyusun RPP yang baik dan model pembelajaran yang menarik. Namun mereka sepertinya masih nangkring di menara gading. Walaupun para dosen telah membagi ilmunya dengan para guru melalui diklat atau lokakarya, masih saja ada anggapan bahwa para dosen ‘terlalu memaksakan’ bentuk-bentuk pembelajaran yang ideal, tanpa mempertimbangkan kondisi sekolah atau kelas secara nyata. “Yang lebih tahu kondisi dan kualitas siswa kan kami, bukan dosen,” begitu kira-kira gerutu sebagian guru. 

No comments: