Saturday, May 05, 2012

NO NEED TO FEEL LIKE DYING FOR A PEE

Pernahkah Anda merasa 'kebelet' saat berada di ruang terbuka seperti taman, atau anak Anda yang masih kecil tiba-tiba bilang, 'mau pipis.? Apakah Anda akan tolah-toleh mencari toilet umum terdekat? Bila tidak ketemu, mungkin pilihannya adalah menyuruh anak menahan pipisanya sampai ada toilet. Resikonya, celananya akan basah duluan. Atau mau 'sembunyi'  di dekat semak-semak? Pilihan kedua boleh dikata sering jadi pilihan banyak orang. Ini terbukti dari aroma amonia yang sering kita jumpai di pojok-pojok taman.

Bagaimana urusan 'panggilan alam' diatasi di Melbourne? Alkisah, ketika anak-anak dan suami baru saja datang ke Melbourne, saya ajak mereka menikmati matahari dan playground di taman di seputaran kampus the University of Melbourne. Enak-enak main, tiba-tiba Adzra pingin pipis, Maunya saya mau segera dia ke gedung terdekat. Ternyata kami berdiri tepat di depan public toilet

Fasilitas umum yang satu ini menarik perhatian Adzra. Ada lampu hijau berkedip-kedip. Tertulis 'vacant' di bawahnya. Sementara saya masih mencoba membaca instruksi penggunaan di dinding, Adzra sudah memencet tombol hitam dengan tulisan ' touch to open door', dan terbukalah pintu metal seperti pintu lift






Eh, ternyata bisa bicara juga. "Door opened." Begitu saya dan Adzra masuk, tombol di pintu dipencetnya lagi. Dan menutuplah pintu sambil terdengar, "door closed." Di dalam toilet yang bersih seluas kira-kira 2x2 meter persegi, mata saya dan Adzra mulai bereksplorasi. Sambil mendudukkan Adzra di toilet, muncullah suara, "you have ten minutes to use the toilet. Diikuti dengan musik instrumentalia. Nyaman banget membuang hajat sambil dihibur musik.

Mata Adzra sudah kemana-mana. Tangan kanannya memencet tombol di dinding kanan, dan keluarlah tissue. Di dinding sebelah kiri, menempel papan yang bisa dibuka untuk mengganti diaper bayi. 




Saya mencari-cari di mana wastafel. Di dinding kanan dekat pintu, ada built-in sink  tanpa kran. Namun ada tiga lubang di bagian atas. Ada tulisan soap, water, dan hand-dryer di sisi atas. Tapi bagaimana cara mengeluarkan airnya? Belum selesai saya mencari instruksi, Adzra sudah mengulurkan tangannya di bawah pancuran, dan meluncurlah air. Pada saat yang sama, flush toilet menyiramkan air secara otomatis. Adzra semakin girang. Dipikir dia sedang bermain-main. Dia pindah ke lubang sebelah kiri. Crut crut, dua tiga tetes sabun cair meluncur. Hanya butuh waktu beberapa detik buat Adzra untuk paham fungsi tombol. Dengan enaknya dia pindahkan tangannya di bawah lubang tengah untuk mencuci tangan dari sabun. Dia lihat ada lubang lain di sebelah kanan. Kali ini saya sudah paham instruksinya. "Ini buat keringkan tangan, sayang," ujar saya. Wush, udara panas menghembus dari hand-dryer.

 




 
Musik masih berdenting. Dalam 3 menit, kami sudah menunaikan panggilan alam. Tombol hitam dipencet Adzra, dan suara 'door opened' mengantarkan kami ke dunia luar. 

Pengalaman baru tentang penggunaan toilet di tempat umum ini begitu menyenangkan. Ganta dan mas Prapto jadi ikut bergantian mencobanya. Dari luar saya lihat lampu merah dengan tulisan 'occupied' di bawahnya berkedip-kedip ketika ada orang di dalam toilet. 

Sekarang, setiap kali pergi taman atau tempat umum terbuka, yang saya cari duluan adalah lokasi public toilet. Warr Park di dekat rumah, tempat favorit bermain anak-anak, juga memiliki fasilitas ini. Kami tidak perlu pulang ke  apartemen bila harus ke toilet. Kadang Adzra pingin ke toilet itu bukan karena pingin pipis, tapi lebih karena ingin bermain-main dengan tombol dan menikmati kerlip lampu.

Saya membayangkan betapa nyamannya hidup di kota yang pemerintahnya memperhatikan urusan fasilitas hajat hidup orang banyak, termasuk hajat kecil dan hajat besar. Tak seorangpun tidak butuh fasilitas penting seperti toilet. Nampaknya sepele, tapi krusial bila sudah sampai injury time. Kota Melbourne terbukti sebagai 'the most livable city in the world' dengan menyediakan toilet yang tidak hanya user-friendly bagi orang normal, namun juga bagi para difabled. Ada railing  untuk pegangan tangan dan instruksi dalam huruf Braille.  Andai saja taman-taman kota di Indonesia dilengkapi dengan toilet yang nyaman, maka bau pesing tidak harus menganggu kenikmatan bermain, atau tidak perlu ada tulisan 'dilarang kencing di sini selain anjing.' Dengan toilet nyaman dalam jangkauan, tidak perlu lagi merasa mau pingsan menahan 'panggilan alam.'   

Brunswick, 5 Mei 2012

2 comments:

Pratiwi Utaminingsih said...

ngebayangin orang yg baru pertama menggunakan toilet tsb dengan keadaan yg amat sangat kepepet, lol
pasti kebingungan tiada tara --"

rima khumaira said...

Toilet di luar negri bersih dan nyaman. Bahkan ada sebagian tmn BMI shalatnya di toilet krn darurat. Tapi jangan bayangkan toilet seperti d indonesia tentu najisnya dimana2,becek,banjir..heeee..heeeeeeeee..
Dari masalah sepele justeru ini yang membuat orang nyaman :)