Saturday, January 26, 2013

MENGENTAS KEMISKINAN MELALUI PENDIDIKAN: SEBUAH RESEPSI FILM HONG KONG HELPER NGAMPUS


Jumat pagi yang lalu saya menerima kiriman CD film Hong Kong Helper Ngampus (HHN) dari Ani Ema Susanti. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya, Ani adalah mantan buruh migran yang sukses menyelesaikan kuliahnya di bidang psikologi. Saat ini Ani lebih menekuni bidang penyutradaraan film.

Film HHN sendiri adalah film dokumenter pertama Ani. Digarap bersama dengan rekannya, Yuni Dhevie Hapsari,  HHN menjadi finalis dalam Eagle Award 2007 yang diadakan Metro TV.

HHN yang berdurasi sekitar 17 menit ini berkisah tentang dua mantan TKW Hong Kong. Subiantini bekerja di HK selama 8 tahun, sedangkan Acik Saadah hanya bekerja selama 1 tahun 4 bulan. Tidak sampai finish kontrak. Dari hasil kerjanya , Tini memiliki cukup dana untuk membayar hutang orang-tua dan membeli sawah, sedangkan Acik hanya memegang cukup uang untuk membantu pengobatan ibunya dan membayar hutang bapaknya. Dengan sisa dana terbatas dan dorongan orang-tua, Acik bertekad merealisasikan cita-citanya kuliah di perguruan tinggi.

Sebagai media yang tidak terlalu panjang, HHN cukup utuh memotret lika-liku TKW dari sudut pandang yang berbeda. Dari kacamata Tini dan Acik misalnya, penonton disuguhi persepsi bahwa TKW bukanlah pekerjaan yang memiliki martabat tinggi di mata masyarakat.

“Tahu sendirilah apa pekerjaan TKW. Tidak seperti guru yang sangat dihormati, TKW atau petani itu sama, kayak orang biasa,” begitu penuturan Acik.

Meski demikian, Tini menganggap bahwa pekerjaan TKW memberi penghidupan bagi orang lain yang merasa lebih tinggi statusnya. Itu dia ungkapkan ketika seorang pengusaha PJTKI (sekarang PPTKIS) merendahkannya.” Kamu tahu nggak, kamu itu cuman babu.” begitu tirunya. Tini menimpali perlakuan itu dengan cerdas, “Lho, bapak ini jangan seenaknya menghina babu, bapak ini bisa makan juga dari babu.”
HHN juga tak lupa mengambil sudut pandang pengusaha PJTKI. Situasi Balai Latihan Kerja milik PJTKI, di mana calon TKW yang belajar tentang pengasuhan anak, belajar bahasa, dan saat proses pemberangkatan menjadi bagian beberapa scene. Pelatihan seperti ini diperlukan untuk menyiapkan calon TKW dengan kompetensi yang diperlukan sesuai kontrak kerja. Pak Welem, sang pengusaha, mengatakan bahwa dia dan beberapa koleganya juga menerapkan strategi pelatihan yang sama untuk pembekalan. “Saya berharap sebagai pengusaha, mereka tidak hanya berorientasi pada keuntungan. Namun juga ada pertimbangan kemanusiaan dan kepentingan sosial. Itu harusnya jadi tujuan utama”

Potret pelatihan ini mengingatkan saya pada suasana balai latihan kerja di kawasan Gempol di Jawa Timur. Sehari sebelum saya terbang ke Hong Kong pada awal Januari 2013 yang lalu, saya mendapat ijin untuk melihat sendiri kondisinya yang bersih dan cukup nyaman. Ada ruang pelatihan bahasa, pengasuhan anak, perawatan orang-tua, dapur, ruang makan untuk praktek penyajian makanan, dan mesin cuci berbagai model. Salah seorang managernya, sebut saja Bu Puji, menyatakan bahwa sebelum kontrak kerja turun, semua calon TKW memperoleh semua jenis pelatihan. Begitu kontrak kerja turun, mereka akan dilatih lebih khusus sesuai dengan jenis pekerjaan yang tercantum di kontrak kerja. Bu Puji sempat bercerita bahwa di kalangan PPTKIS memang ada pengusaha yang cenderung profit-oriented. Bu Puji malah mengaku bahwa dia bisa hidup dari para TKW juga. Itu sebabnya secara pribadi, sebutan TKW atau buruh justru kurang dia sukai. Bu Puji lebih suka menyebutkan mereka siswi Hong Kong atau Taiwan, bergantung pada negara yang akan dituju. Setidaknya kode etik ini yang dia coba terapkan di antara para stafnya.

Dengan judul HHN, sosok Acik memang menjadi sorotan film ini. Meski tidak sampai menyelesaikan kontraknya, gara-gara majikannya dipecat dan tidak mampu lagi membayar gaji, Acik tetap mempertahankan keinginannya kuliah. Acik mengingat kembali masa-masa di mana dia selalu merasa minder bila melihat sosok mahasiswa. Di matanya, mahasiswa adalah figur yang cerdas. Keinginan ini tersampaikan ketika dia bisa duduk di bangku kuliah di Fakultas Tarbiyah di salah satu universitas Islam swasta di Jawa Timur. Sambil kuliah, dia juga mengajar SD di desanya di Jombang. Status guru di desa amat dihargai, dan ini memberikannya identitas diri yang lebih berdaya. “Bila saya jadi TKW lagi, maka selamanya ya akan tetap jadi TKW. Beda dengan kalau saya kuliah.” Dengan memperoleh ilmu dari bangku kuliah, Acik melihat masa depan yang lebih cerah. Dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, dan tidak perlu menjadi TKW lagi. “Orang jadi TKW itu kan karena tidak ada lapangan pekerjaan di Indonesia.”

Sebagai sebuah film dokumenter, HHN cukup berhasil mengajak pemirsanya mengubah persepsi bahwa buruh migran adalah sosok yang tidak berdaya.  Acik sendiri menuturkan bahwa teman-teman kuliahnya tahu statusnya sebagai mantan TKW. Bagi mereka, tidak ada masalah dengan pekerjaan itu. Bahkan ketika mereka tahu bahwa Acik menggunakan hasil kerjanya untuk membiayai kuliahnya dan adiknya, mereka sangat mengapresiasi tekad dan semangat Acik.  Sementara itu, Tini bertekad mengupayakan agar anaknya yang berusia balita nanti dapat mengenyam pendidikan tinggi, agar tidak bernasib sama seperti orang-tuanya. Kalau untuk itu dia harus berangkat lagi menjadi TKW, asalkan suaminya mengijinkan, dia mungkin akan berangkat lagi.

Pemberdayaan masyarakat membutuhkan banyak pihak untuk berperan sebagai katalisator. Tentunya diperlukan peran PPTKIS yang berorientasi kemanusiaan dan pemberdayaan perempuan. PPTKIS yang mau membuka diri terhadap kalangan di luar, agar mereka juga bisa menjalankan perannya dengan baik. Dalam hal ini, Ani, sang sutradara, menilik pengusaha PJTKI yang membuka pintu perusahaannya menjadi tempat shooting. Sang pengusaha ini akhirnya malah mengajak Ani untuk terlibat dalam pembekalan calon TKW. Film HHN menjadi andalan Ani sebagai media informasi. Atas ijin Ani, saya sendiri berharap bisa memberikan copy CD film ini ke kalangan PPTKIS, bila mereka tertarik menggunakannya untuk pembekalan. Berangkat ke luar negeri dengan misi jelas akan menjadi suntikan semangat luar biasa bagi para calon TKW.

Di mata saya, Acik mewakili suara Ani sendiri. Sebagai mantan BMI yang berhasil lulus kuliah, Ani (dan Acik) menorehkan harapan bagi teman-temannya yang masih bekerja di Hong Kong atau negara lain, dan juga para calon TKW yang berada di pembekalan. “Janganlah menyia-nyiakan kerja kerasmu. Kalau kamu punya impian, apapun itu, kejarlah sampai dapat. Setiap orang yang mau berusaha, pasti bisa.”
Ani, Acik, dan banyak mantan buruh migran yang sudah membuktikannya. Sebagaimana pernyataan di awal film, “Bye bye Hong Kong, I'm a teacher now.”

No comments: