Thursday, July 04, 2013

SENTUHAN PERSONAL

Menginap 3 hari di Royal Women’s Hospital, aku jadi kenal dengan banyak perawat. Cantik-cantik, kayak model. Kata mas Prapto. Brea, Sarah, Alice, Lisa, Alisha. Mereka bergantian melakukan check-up. Tekanan darah. Suhu tubuh. Bekas luka. Drain tube. Saking rutinnya, sampai aku hafal, dan tinggal menyodorkan tangan kananku. Membuka sisi kanan jilbab untuk dicek temperatur tubuh lewat telinga. Mengingatkan untuk tidak menyuntikkan apapun atau memeriksa tekanan darah di lengan kiri. Di situlah lokasi efek samping mastectomy akan bisa terjadi. So, keep it clear.
Ada rasa perkawanan yang berbeda. Besar kemungkinan memang prosedur pelayanan. Tapi aku juga merasakan atmosfer kerja yang menyenangkan, yang membuat senyum para perawat ini selalu mengembang. Setiap ada personil baru yang mendatangiku, selalu mereka kenalkan nama dan tugas mereka pada shift itu. Aku akan menjawab dengan I’m good. No pain. Meski sebenarnya pada hari pertama setelah operasi, rasa mual dan ingin muntah tidak kunjung hilang. Sudah kuprediksi juga sih. Seperti operasi 2 minggu lalu. Pain is not the issue. It’s nausea that I’m worried. 
Betul juga. Sepanjang malam sampai siang, entah berapa kali aku muntah karena efek anastesia. Tidak banyak. Cuma cairan. Tapi pahit. Tentu saja ketika perut sudah diajak puasa sejak Rabu pagi. Beberapa kali aku disuntik pain killer dan anti-nausea, tapi cairan masih saja berontak keluar. Kabar baiknya, setiap kali selesai muntah, aku merasa jauh lebih baik.
Kamis siang, aku didorong di atas kursi roda oleh Brea dan Alisha, ke rumah sakit seberang, Royal Melbourne Hospital, untuk diinjeksi sebagai persiapan bone scan. Brea yang berbadan kekar harus berkali-kali minta maaf karena driving skillsnya membuatku erat memegang wadah penadah cairan muntahku.  Beberapa kali dia harus berhenti membiarkanku tenang. Oh poor you, Tiwi. Tapi aku tetap bilang, go ahead. I’ll be fine. Setidaknya, aku terhibur dengansense of humournya.
Karena bone scan baru akan dilakukan 3 jam kemudian, aku dibawa kembali ke RMH, lantai 5, sisi utara. DI sini tempat pasien rawat inap onkologi ditempatkan. Tetap dengan kondisi tergolek lemah. Tidak berani bicara banyak. Kuatir muntah lagi. Setiap kali kubuka mataku, tangan mas Prapto siap dengan lambaiannya. Senyumnya tetap mengembang. Tempat tidur dia naik turunkan sesuai permintaanku. Cuma genggaman tangannya yang bicara, bahwa dia akan menjadi suami siaga.
Mungkin berkat injeksi anti-nausea, aku merasa lebih kuat pada sore hari. Ketika didorong Alice kembali ke Radiology di RMH, kami banyak ngobrol selama menyusuri koridor. Tertawa bersama ketika berteam work membuka pintu otomatis yang harus kuganjel kaki kanan. Supaya dia bisa mendorong kursi roda. Hey, we made it, teriak Alice, ketika kami akhirnya susah payah bisa melawati pintu.
Terkantuk-kantuk menunggu antrian radiology, aku baru dapat giliran pukul 5 sore. 1,5 jam penantian. Ditambah 25 menit proses bone scan. Bukan waktu sebentar di tengah wajah-wajah lelah yang juga menunggu. Untung tidak ada lagi rasa mual. Tepukan di punggungku oleh salah satu perawat cukup menenangkan. How’re you feeling? Hope it wont be much longer.
Waktu 2 jam akhirnya terbayar, ketika Dr. Reza, radiologist, mendekatiku. Hi Tiwi, all is good. Your bone scan is clear.
Tak lama setelahnya, Alice datang kembali menjemputku, membawaku kembali ke RWH. Kukabarkan hasil scan pada Alice yang ikut berbinar. Ketika kami melewati kantor Breast Care nurse, kuintip Sue Thomas masih di dalam. Aku minta berhenti untuk say hello. Sue mengiira aku menunggu di RMH sejak siang. Kubilang nggak lah. Yang jelas dia ikut lega dengan hasil scan. Dia nitip pesan, one more scan tomorrow at 10. And you’ll be done. I won’t be here tomorrow, but Monique will be in to explain everything.
Di ujung koridor menuju ke kamar, kami berpapasan dengan mas Prapto. Tadi siang dia pulang sebentar. Dan sekarang sudah balik lagi. Kali ini mengajak serta Adzra. Dari jauh kulihat Adzra dan Ganta duduk di ruang tunggu. Adzra melambaikan selembar kertas. Aku sudah menduga. Pasti ada surat baru untukku (terima kasih mbak Diana, sudah mengajarkan afeksi untuk putriku). Mummy, I’ve got something for you. Close your eyes. Ketika kubuka kembali, kulihat tulisan tangannya. Mummy, get well soon. Love, Adzra. I love you.
Terima kasih anakku. Celotehannya sepanjang malam bisa membawaku sedikit lelap. Ketika Adzra dipangku ayahnya, sambil mendongeng, ‘once upon a time, there was a girl. Her name is Sarah. She lives in the farm. Then she met her friend. Ken. Dan tak kuingat lagi jelas detilnya. 10 menit kemudian aku terjaga. Menatap takjub mata mas Prapto. Dowo nek ndongeng, kata mas.
Kupuaskan rasa lapar sejak Rabu pagi. Ganta dan Adzra ikut menghabiskan jatah makan malam. Sampai waktu menunjukkan pukul 7.30 malam. Sebaiknya sama-sama istirahat. Deru angin kencang terlihat dari balik jendela. Tidak akan terlalu aman buat mas Prapto menyetir dalam kondisi cuaca seperti ini. Dengan anak-anak pula.
Hari ini roller coaster sudah mereda. Kondisi semakin segar. Pelukan mas Prapto dan anak-anak semakin menghangatkan jiwa raga. Aku menyelinap ke lembaran selimut dan piyama. Menebus rasa lelah yang belum lunas di malam sebelumnya. Alhamdulillah, malam kedua terlewati dengan senyuman. Insya Allah besok akan jauh lebih baik.

1 comment:

Shasha Setiyadi said...


Bunda saya juga mengalami hal yg sama, radical mastectomy di mammae kiri. Just a week after she found the lump, langsung dioperasi. It all happened too fast, the changes and everything. Jadi saya senang sekali ketemu blog ini karena saya khawatir skali tdk bsa mengerti perasaan ibu saya setelah operasi itu. :')

All the best wishes! Tetap semangat dan terimakasih banyak!!