Monday, March 20, 2006

Not many people dare to think about death. Do I think a lot about it? Sometimes I do. I don't know whether I'm scared because I'm not prepared, or whether I fear how people around me would cry when I'm gone. Or...perhaps, it's the separation I can't bear. I know it's not right. I always pray to Allah so I can be freed from things I love if they do more harm than good to me. I also pray to Allah so I can be closer to things I hate if they do more good than harm to my life.


KETIKA KEMATIAN DATANG MENJEMPUTKU

Ketika kematian datang menjemputku
Masihkah aku akan gelisah memikirkanmu
Membayangkan kau menangis menunggu waktu

Sedangkan bibirku barangkali akan terbata-bata
Belum tentu kau akan merasa kehilangan tenaga
Bisa jadi kelegaan ada di depan mata

Untuk apa bejana hati terkuras mengharap hadirmu
Kutak pernah tahu apa aku sempat mampir dalam doamu
Sementara malaikat pencabut nyawa menanti di depan pintu

Bila aku harus kehilangan
Bila memang tak lagi sejalan
Adakah gunanya bertahan
Atau justru ini yang disebut ujian kesabaran

Sudahkah cinta berubah makna?
Atau aku memang sudah mati dalam kembara sukma?

4 comments:

adit boys 007 blog said...

kematian itu adalah kepastian,dimana kematian akan datang dalam kata siap, dan tidak siap

seperti itukah maknanya?

Pratiwi Retnaningdyah said...

Nggak juga sih, kita bayangkan dunia akan menangis bila kita pergi. Sepertinya, life goes on whether you're there or not.

Delia said...

Waktu kecil, aku melihat kematian itu menakutkan. Kematian ku asosiasikan dg batu nisan, hantu gentayangan, dll yg ngeri2.

Ketika dewasa, dan menyaksikan kematian kerabat atau teman, yang ku rasakan bukan ngeri tapi sedih. Biasanya ada sekarang ngga ada. Sedih krn kehilangan.

Kalo aku sendiri, sejujurnya belum siap untuk mati. Dosaku banyak banget, aku ingin hidup amat lama sehingga doa2ku minta ampunan cukup banyak untuk bisa betul2 menghapus dosa (insya Allah). Aku juga punya banyak cita2 yg ingin kucapai sebelum mati, krn di masa lalu aku sudah menyiakan banyak waktu (bertahun2) utk hal2 tak berguna. Tapi hidup mati di tangan Tuhan. Siap ato tidak siap kita harus menghadapi kematian. Makanya mumpung masih hidup kita lakukan hal2 yg baik & berguna.

Sekarang bu Haji tau kenapa aku memilih utk diam & menjauh kalo ada temen2 yg berbuat aneh2, daripada bertengkar frontal kaya bu Haji hehehehe (jgn tersinggung yach). Aku juga kurang suka berkumpul dg bbrp orang di jurusan krn yg diomongkan pasti "eh dosen X tuh bhs Inggrisnya kok jelek bangets, dosen Y tuh doktor tapi kok bodo, dosen Z tuh kok begini begitu beginu..." dst dst dst. Males deh kalo diajak omong yg gini. Mestinya titipan nyawa yg berharga ini dipake buat yg baik2 aja. Jangan disia2kan buat mengecewakan orang lain.

rukin firda said...

Dulu, bagiku kematian adalah akhir segalanya yang bisa menyelesaikan masalah. Seringkali, ketika suntuk menghadapi masalah yang tidak terselesaikan, rasanya ingin mati saja.

Ternyata saya salah. Kematian justru awal dari kehidupan yang lebih hakiki. Bagaimana kehidupan kita kelak, sangat bergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini. Dan pilihan ada di tangan kita. Memilih nikmat di kehidupan dunia saat ini dengan mengabaikan kehidupan di akhirat kelak? Atau mengumpulkan bekal untuk menuju kehidupan nanti?

wassalam.