Sunday, September 11, 2011

MELBOURNE...I'M COMING


Meski secara fisik aku tidak lagi bisa menatap wajah-wajah mereka kucintai, hubungan telpon tetap intensif kami lakukan selama perjalanan. Ketika check-in, setiap 10 menit mas Prapto menelpon, memastikan semua proses lancar. Meskipun jatah bagasiku 40 kg, dia takut ada excess baggage. Di rumah sebenarnya sudah kami timbang, dan tidak ada masalah.  "37 kg mas, alhamdulillah lancar, dan bagasi langsung bisa 'check through' ke Melbourne, sehingga tidak perlu kerepotan lagi ketika transit di Denpasar. Untunglah selalu kuturuti kecerewetan suamiku, sehingga aku bisa melenggang hanya dengan backpack dan tas kecil menggantung di bahu. Setelah proses check-in beres, barulah suami dan rombongan meninggalkan bandara.

Pesawat Garuda yang kutumpangi boarding tepat waktu. Penumpang di pesawat menuju Denpasar tidak terlalu padat. Dan aku duduk sendirian di aisle seat. Kubuang pandanganku ke arah jendela, dan lelehan air mata tak henti mengalir di sela-sela deru pesawat.

22.00. Aku sudah berada salah satu depot di bandara Internasional Ngurah Rai. Di depanku ada semangkok soto kudus dan teh hangat. Rasa menjadi tidak penting, karena lidahku terasa kelu, terlalu pahit untuk menelan makanan. Tapi demi kesehatan, aku tetap harus makan. Tidak boleh ada cerita masuk angin selama perjalanan nanti.

Check-in dan pemeriksaan imigrasi berjalan mulus, dan aku langsung meluncur ke waiting room. Pemandangan turis dari Australia yang berlibur mencari hangatnya mentari Bali bertebaran di setiap pojok. Hampir semuanya berpakaian sangat santai, ala pantai. Kulihat diriku yang terbalut kaos panjang, kemeja flanel Ganta yang tadi tiba-tiba saja kusaut dari lemari, dan jaket tebal milik mas Prapto. Maunya, aku ingin tetap merasa hangat 'ditemani' mereka. Beberapa kali masih kuhubungi mas Prapto, Ganta dan bapakku via sms dan telpon. 'Adzra sudah tidur lelap dengan mbah Uti,' 'iya bu, Ganta akan jaga shalat dan jaga adik,' dan 'hati-hati di jalan, salam dari adik-adikmu.' Ini antara lain isi sms dari mas, Ganta, dan bapakku yang bergantian kasih kabar.

23.55. Time to really say goodbye to Indonesia. Kumatikan handphone, kusandarkan tubuhku di seat nomor 27 J, dalam pesawat Airbus yang lapang dan nyaman. Seat di sebelahku tetap kosong. Seperti kosongnya separuh hatiku yang sementara harus pergi. Separuh hati lainnya melihat keluar jendela. "Melbourne .... I'm coming!

No comments: