Friday, December 21, 2012

HARI-HARI LITERASI


Hadiah yang paling saya sukai adalah buku. Baik untuk diberikan kepada orang lain maupun saat menerima hadiah dari sahabat dan saudara. Nah, kemarin saya dapat hadiah buku dari mas Satria Dharma. Beliau termasuk salah satu orang di milis Ganesa yang sukses merongrong saya untuk lebih banyak membaca dan menulis. Meski sebenarnya dua kegiatan ini sudah menjadi hobi saya sejak kecil. Bedanya, sekarang saya lebih berani dan percaya diri membagikan tulisan saya. Terutama yang bersifat kreatif. Selama ini saya cenderung berada di zona nyaman saya, menulis secara akademik. Kalaupun catatan pribadi, hanya saya simpan dalam tumpukan buku harian saya.

Penelitian yang saya tekuni sekarang ini, tentang literasi, ternyata malah menawarkan cara yang betul-betul saya nikmati. Menulis sesuatu yang sebenarnya akademik dalam kemasan kreatif.  Peluang ini saya dapatkan ketika riset saya mengawinkan antara analisis teks dengan etnografi. Jujur, metode ini membuat saya jadi lebih terlatih membuat fieldnote yang dengan rasa cerpen atau feature.

Sejak saya terima kemarin siang, buku berjudul Twenty Years of Joy and Happiness sudah langsung saya buka-buka dan pilih halamannya. Saat saya duduk di atas becak menuju Rolak Gunungsari, menunggu bemo lyn G, dan berlanjut ketika bemo mulai melaju.

Subjudul yang dibesut cukup menarik perhatian saya. Menuju Budaya Literasi. Subjudul ini juga muncul di setiap halaman di bagian bawah. Mengenal mas Satria selama ini, saya cukup paham gairah, kalau tidak bisa disebut obsesi, mas Satria untuk menyebarkan budaya literasi secara masif.

Kita selalu bertanya-tanya, apakah bangsa Indonesia memang belum berbudaya literasi? Apakah literasi itu sendiri adalah budaya? Bila ya, praktik literasi seperti apakah yang akrab dengan kita? Apakah kita termasuk dalam golongan a bad reader atau a good reader. Selain itu, bila literasi adalah praktik budaya, maka literasi bisa dikonstruksi. Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita tengok sejenak konsep literasi dari dimensi sosial budaya.

Untuk memahaminya, cara terbaik adalah melakukan refleksi pada kehidupan kita sehari-hari. Apa yang kita baca dan tulis dalam keseharian kita. Ayo kita sama-sama menggunakan diri kita sebagai objek pengamatan. Saya mulai dengan diri saya sendiri dulu, dengan menengok hari-hari saya saat di Melbourne.

Sebagai mahasiswa, tentunya waktu saya cukup banyak tersedot untuk urusan baca tulis. Saya menggunakan website perpustakaan untuk mengecek katalog dan mencari artikel di e-journal. Untuk memperpanjang peminjaman, saya lakukan secara online. Portal kampus juga menjadi jujugan saya paling tidak 3 kali sehari. Untuk mengecek akun email kampus dan banyak keperluan administratif lainnya.

Hampir semua artikel jurnal saya baca dari laptop atau komputer di kampus. Hanya buku perpustakaan saja yang saya baca dalam bentuk cetak. Semua kegiatan ini jelas punya tujuan akademik, sesuai dengan peran dan tuntutan sebagai mahasiswa.

Di luar itu, dengan peran saya sebagai ibu, saya juga melakukan kegiatan literasi. Mengecek resep secara online atau membaca buku resep yang saya punya. Jadi biasanya laptop saya usung ke dapur untuk panduan memasak.  Bila banana bread atau macaroni schotel yang saya bawa ke pengajian atau kirimkan ke tetangga dipuji, maka file resep atau websitenya berpindah ke FB group teman-teman pengajian. Media ini yang juga saya pakai untuk menengok resep maknyus yang pernah dibagikan teman lain.

Saya juga perlu membaca kandungan bahan makanan yang tercantum di kemasan ketika saya belanja. Maklum, harus hati-hati dengan bahan yang tidak halal. Informasi seperti ini juga menghiasi FB group yang sama. Alhasil kami jadi tahu supermarket mana yang perlu jadi jujugan bila ingin membeli bahan tertentu. Atau mengingat kode bahan kimia apa yang dianggap halal.

FB group pengajian Aisyah menjadi wadah komunikasi kegiatan utama kami, yakni pengajian dan TPA anak-anak kami. Untuk peran sosial ini, literasi dalam bentuk digital kental mewarnai kegiatan saya. Yang menarik, bahkan ketika pengajian, banyak di antara kami yang menggunakan IPhone atau IPadnya. Untuk bergantian membaca Al-Qur’an, mengecek surat dan ayat yang sedang menjadi pokok bahasan, dan juga mencatat point-point penting dalam tausiyah.

Sebagai bagian dari komunitas, hidup saya juga praktis diwarnai oleh teknologi komunikasi. Milis keluarga unesa, jurusan, dan indomelb misalnya, sering menggoda saya untuk sering-sering cek email dan melihat postingan baru atau mengirimkan postingan saya. Semua milis saya arahkan ke akun saya di yahoo, sedangkan urusan lain yang lebih pribadi mengumpul di gmail. Akun email kampus tentunya lebih banyak untuk urusan administrasi dan akademik.

Sementara itu, update status Facebook saya semakin jarang saya lakukan. FB praktis lebih banyak berfungsi untuk menjaga komunitas saya di pengajian, melakukan pengamatan virtual FB group teman-teman BMI, dan membagi postingan yang baru saya unggah di blog saya. Yah, baru tersadar bahwa saya juga masih sering sekali menggunakan FB. Perasaan saya tentang FB masih terbelah. Di satu sisi, saya butuh untuk penelitian saya, di sisi lain, seliweran status baru kadang menggoda saya untuk ikut berkomentar. Beberapa teman yang sudah masuk tahun kritis biasanya men-deaktivasi akun FBnya. Saya lihat beberapa teman buruh migran di Hong Kong juga melakukan hal sama bila sibuk dengan tugas-tugas domestiknya.

Bagaimana dengan interaksi saya dengan anak-anak? Dengan Adzra, saya lebih suka menggunakan cara yang lebih konvensional. Buku-buku cerita yang saya beli di secondhand stores banyak mengisi jam-jam menjelang tidur, atau saat menemani Adzra bermain. Cerita-cerita tentang Adzra juga menginspirasi saya untuk menulis catatan harian di blog saya. Adzra sendiri suka fanatik dengan buku-buku tertentu. Meski sudah dibaca bolak-balik, dia sering minta dibacakan cerita yang sama. Biasanya dia akan menyela dan meneruskan ceritanya dengan versinya sendiri.

Ganta sendiri lebih banyak terpapar dengan literasi digital. Setiap hari dia mengecek portal sekolah untuk mengunduh tugas atau melihat pengumuman terbaru. Saya juga punya akses ke portal sekolah, dengan akun sebagai orang tua. Di situ saya bisa melihat status presensi Ganta, jadwal pelajaran, pengumuman terbaru, termasuk misalnya mengirimkan email kepada gurunya. Beberapa guru Ganta juga suka mengirimkan email kepada orang-tua untuk memberitahukan tugas dan materinya. Dasarnya saya sendiri punya rasa ingin tahu yang tinggi, saya hampir selalu ikut membaca materi pelajaran Ganta. Dari situ saya ikut belajar tentang Nazi dan Hitler yang menjadi pokok bahasan pelajaran Sejarah, melihat rubrik penilaian yang digunakan untuk mengevaluasi esai siswa, atau mengikuti bagaimana pelajaran Physical Education kental sekali dengan materi Biology.

Kadang saya merasa capai karena terpapar dengan screen. Mulai pagi sampai malam, di rumah, di jalan, dan di kampus, mata saya tertuju pada IPhone, laptop, dan desktop. Bila begitu, saya suka refreshing. Sekedar jalan saja ke secondhand store dekat rumah. Herannya juga, setelah pegang-pegang barang tanpa beli, saya malah suka mengitari rak buku. Yang terjadi, keranjang belanja malah terisi dengan novel-novel yang belum pernah saya baca. Yah, mau bagaimana lagi, apa saya harus menyalahkan bapak saya yang suka melepas anaknya berjam-jam di Sari Agung atau Gramedia pada masa kecil dulu?

Refleksi diri seperti ini menyadarkan saya bahwa ternyata saya memang suka membaca dan menulis. Baik dalam memainkan peran saya sebagai mahasiswa, ibu, maupun bagian dari komunitas, tulisan mewarnai hari-hari saya. Yang berubah secara drastis (dan baru saya sadari) adalah ketergantungan saya dengan teknologi informasi dan komunikasi untuk melakoni praktik literasi saya.  Jujur, saya rindu suasana menenangkan di masa kecil ketika saya menghabiskan siang hari di atas atap rumah dan membaca komik pinjaman. Ketika pohon jambu kami ditebang, saya termasuk yang paling sedih. Batang pohon yang kokoh yang menjulur sampai ke atap rumah itulah yang mengantarkan saya ke tempat persembunyian favorit. Sekarang, gadget screen-lah yang menyambungkan saya dengan dunia lebih luas, dan ironisnya, memutus saya dari lingkungan terdekat.

Saya kok jadi bingung sendiri, maunya menulis literasi sebagai praktik budaya, ternyata ending-nya malah bernostalgia. Atau memang seperti ini yang diharapkan dalam penelitian literasi dalam dimensi sosial budaya ya?

No comments: