Wednesday, June 05, 2013

When Skin Colour doesn't Matter Anymore

Setiap hari Selasa, Ganta biasanya pulang sekitar pukul 6 sore. Jadwalnya latihan bola sepulang sekolah. Hari ini, dia pulang dengan 2 orang temannya. Yang satu berwajah Korea. Namanya Jin Yup. Anak ini sudah akrab dengan Ganta sejak masih sama-sama di Brunswick Language Centre tahun lalu. Sudah beberapa kali dolan ke rumah juga. Teman satunya lagi berwajah Asia Selatan setengah Arab. Namanya Omar, dari Maldives (Maladewa). Baru kali ini dia dolan, meski namanya sudah beberapa kali disebut Ganta dalam obrolan di rumah. 

Sejak masih di Kebraon dulu, aku sudah terbiasa melihat lalu lalang teman Ganta di rumah. Jadi markas anak-anak kecil teman Adzra juga sudah jamak. Dan itu berlanjut ketika kami tinggal di Melbourne sekarang ini.

Begitu masuk rumah, mereka langsung ke kamar Ganta, dan ngglenik dengarkan musik sambil ngobrol dan main dart atau apa saja. Adzra, seperti biasa, kalau ada orang yang dolan ke rumah, selalu saja ikut bergabung. Yang pamer mainan atau ikut menyela ngobrol. Weleh, anak remaja laki-laki kok dipameri boneka, diwawancarai 'where are you from?' sampai ditanya 'what's your favourite colour?.'

Aku jadi ditinggal sendiri. Wadah kayak wong melas ae. Tapi lumayan lah ada waktu untuk meneruskan baca-baca. Tapi baru saja mulai tuned in, Ganta keluar dari kamarnya. "Onok makanan bu'?." Habis main bola, udara dingin, apalagi yang dicari selain makanan. Aku buatkan Indomie goreng 3 bungkus dan telur dadar. Dan mereka kusuruh pindah ke ruang tamu. Kebetulan siang ini aku beres-beres rumah, jadi kondisi lumayan rapilah. Mereka pindah ke ruang tamu dan lesehan di atas karpet. Gak sampai 10 menit sudah langsung tandas. Rasa Indomie goreng memang mendunia.

Selesai makan, acara cangkrukan masih berlanjut. Apalagi setelah oom Bayu, tetangga yang tinggal di lantai atas ikut bergabung. Dia adalah guru musik ketika di Jakarta. Di sini dia menemani istrinya studi S2, dan anak mereka, Sarah, adalah teman Adzra di Prep-year, dan pastinya teman main tiap hari. Oom Bayu dan Ganta sudah seperti tumbu oleh tutup. Sama-sama getol musik, dan Ganta akhirnya malah seperti dapat mentor, sementara Bayu seperti nemu partner. Dengan Bayu memegang gitar, kudengar mereka menyanyikan beraneka lagu, mulai Michelle-nya Beatles sampai geremengan K-pop. Kata Jin Yup, "oh, I know that song." Belum tahu dia kalau K-pop juga menjarah menit-menit remaja Indonesia.

Adzra masih saja bertahan di kerumunan Ganta dan teman-temannya. Tak bosannya ngajak ngobrol, meski kadang cuma dijawab sambil lalu. Jin Yup ditanya, can you say, 'ni hau' (karena dikira dari China). Bisa-bisanya juga dia tanya, 'are you going to sleep here?, 'why you not going home?' Weleh, dulu, pertanyaan-pertanyaan ini biasanya meluncur dari mulut Adzra bila ada teman atau mahasiswaku dolan sampai berjam-jam ke rumah. Kalau ada yang pernah bertandang ke rumah, mungkin masih ingat ketika ditanya Adzra, "Mau tidur sini ta?," "kok gak pulang-pulang se?" Tapi Adzra juga betah ikut menemani (menyela) obrolan.

Kecerewetan Adzra memang tetap saja, hanya saja sekarang sudah mulus full Inggris. Meski grammar-nya belum sempurna, untuk urusan fluency, kadang aku merasa 'lewat.' Sepertinya, informasi di otaknya sudah diproses dalam Bahasa Inggris, ngomong kayak gak pakai mikir. 

Aku sudah pindah ke kamar, dan bercanda dengan laptop. Sebenarnya sudah lewat pukul 8 malam. Kuajak Adzra tidur, tapi enteng dijawab, 'I'm not tired.' Jadilah aku merasa 'sendiri.' Bukan hanya secara fisik, ketika anak-anak berkumpul di ruang tamu. Harus kuakui, anak-anakku adalah anak dari jaman mereka sendiri. Jaman yang semakin mengaburkan batas spasial. 

Secara kultural, aku merasa harus banyak belajar dari mereka. Pergaulan di sekolah yang sangat multikultural telah membuat mereka lumer seperti coklat Cadbury yang dikunyah saja. Batas-batas negara akhirnya memang hanyalah garis imajiner saja. Warna kulit tidak lagi menjadi simbol yang memisahkan manusia. Di mata mereka, beda warna kulit, wajah, dan bahasa menjadi daya tarik untuk saling mengenal. Untuk hal yang satu ini, nampaknya orang dewasa harus banyak belajar dari mereka, agar rasa curiga memberi jalan kepada keinginan saling memahami. 
 

1 comment:

Askhaarina Aulia said...

asik bude ceritanya :)