Monday, October 28, 2013

KETIKA HARI BERJALAN LEBIH LAMBAT

Seberapa cepat waktu berlalu? Tanyakan pada mereka yang sedang dikejar target pekerjaan, deadline tugas, atau sederetan to-do list. Kemungkinan besar jawabannya adalah bahwa 24 jam tidak cukup untuk mengerjakan semuanya. Tapi coba tanyakan pada orang yang tidak punya banyak hal untuk dikerjakan. Maka waktu akan terasa berjalan lebih lambat. 

Persepsi kita tentang waktu memang sedikit banyak bergantung pada seberapa efektif, produktif, dan bermaknanya waktu yang kita punya. Dan saya tengah mengalami transisi. Dari orang yang merasa kekurangan waktu, ke orang yang bingung mau mengerjakan apa. Tentu saja bukan karena sekarang saya berubah jadi orang malas. Saya (terpaksa) mengubah persneling dari 3 atau 4 menjadi posisi 1. Paling banter 2. Dan pedal gas praktis tidak pernah ditekan. 

Terbiasa muncul sebagai sosok Tiwik yang meski kecil badannya tapi lincah dan cepat larinya, saya berubah seperti dalam lirik lagu 'dondong opo salak, mlaku tiwik tiwik.' Adaptasi ini tidak terlalu mudah saya lakukan. Apalagi, menurut suami saya yang orang Psikologi, saya termasuk golongan dengan personality type A. Cenderung stress dan senewen bila tidak produktif, bahkan saat menikmati waktu senggangpun. Yang terjadi sekarang ini, saya memang harus banyak-banyak rehat. Tidak boleh terlalu lelah. Dan memang menjadi gampang lelah. Meski itu hanya karena terlalu lama duduk membaca atau mengetik di depan laptop. 

Seperti yang sempat saya ceritakan singkat di message thread kisah operasi mbak Ikit, kemo keempat ini membawa pola efek samping yang amat berbeda. Bila sebelumnya saya bisa menikmati hari-hari bagus selama 10 hari secara normal, kali ini, setidaknya sampai hari ke 12 pasca kemo keempat ini, belum saya rasakan hari normal. Berita baiknya, tidak ada hari buruk yang terlalu parah. Kecuali rasa sakit sekujur tubuh. Hehe, ini juga amat tidak enak sebenarnya. Tapi setidaknya saya tetap bisa makan banyak. Dan obat penghilang rasa sakit ekstra bisa diandalkan, bila rasa sakit tidak tertahankan.

Hanya saja, energy level saya menjadi lumayan anjlok. Seperti orang yang sedang flu. Gampang meriang. Suhu tubuh akan naik di atas 37 bila mulai kelelahan, yang mungkin hanya karena cuci piring dan masak-masak ringan. Obatnya cuma tidur beberapa jam. Baru kemudian akan segar lagi, dan suhu tubuh kembali turun di bawah angka 37. Begitu seterusnya, termometer menjadi indikator apakah saya harus rehat atau tidak. Suami juga sudah terbiasa dengan pola ini. Bila melihat saya mulai lemes dan gak konek ketika diajak ngobrol, dia akan menyuruh saya untuk tidur. 

Dengan pola hidup seperti ini, mau tidak mau saya harus menerima kenyataan bahwa produktivitas (sesuai ukuran saya) turun drastis. Bila mbak ikit mengibaratkan seperti slow motion dalam film, saya mengamininya. Hanya saja, yang bergerak lambat cuma saya. Sementara tokoh-tokoh lain tetap bergerak secepat kilat. Terus terang, saya sering membayangkan diri saya menjadi penonton, 'watching the world go by.' Semua orang di sekitar saya berkelibatan dengan cepat, seperti kilatan cahaya kabur saat tertangkap kamera. Dan saya mematung di sisi jalan, pening melihat gerakan tak beraturan.

Saat ini teman-teman lain sedang amat sibuk dengan deadline. Yang kuliah S2 sedang dikejar deretan paper dan jadwal exam. Maklum, pertengahan November ini, perkuliahan semester genap akan berakhir. Ada yang melepaskan semua part-time jobnya, dan memilih semedi di kamar terus. Ada yang nyaris pingsan kelelahan belajar di perpustakaan. Sebagian teman S3 juga dikejar deadline untuk submit thesisnya, tagihan chapter draft, atau transkripsi rekaman wawancara yang tak berkesudahan. 

Dan studi saya praktis berhenti sementara. Maunya memaksakan diri menyelesaikan chapter draft yang terlalu lama tertunda, supervisor selalu mengingatkan untuk rehat saja. "You will finish your thesis, Tiwi. No matter what." Begitu emailnya mencoba menenangkan saya, setiap kali saya berusaha berjanji untuk tetap produktif. Nyatanya, upaya saya memang tidak pernah bisa optimal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Buku-buku perpustakaan menjadi jarang tersentuh, dan saya hanya memperpanjangnya tiap bulan, tanpa daya yang cukup untuk betul-betul menyerap isinya. 

This is easier said than done. Berulang kali saya mengatakan pada diri sendiri. Sekarang memang waktunya rehat. Tapi ternyata tidak mudah mengubah cara pandang dan karakter. Bila 'staying productive' itu bisa dianggap sebuah karakter. Saat ini, ketika suami sedang pulang ke Surabaya selama seminggu, saya memotivasi diri untuk bangkit. Tanpa terlalu membebani diri secara fisik. Saya hanya ingin memberikan rasa 'a sense of accomplishment' dan nuansa deadline yang saya ciptakan sendiri. Tadi pagi alhamdulillah cukup kuat berjalan mengantar Adzra ke sekolah. Berangkat sedikit lebih pagi, mengimbangi kecepatan langkah kaki yang belum bisa berjalan cepat. Setelah belanja sebentar ke supermarket dekat rumah, sinyal tubuh mengisyaratkan untuk rehat. Jadi tidurlah saya, selama 3 jam. Ketika bangun, badan terasa enak, dan lapar. Belum sempat masak apa-apa, tapi masih ada sisa sayuran dan sambel pecel plus perkedel. Plus kiriman tahu kecap dan oseng-oseng terong teri dari Chicca, salah satu sohib terbaik di Melby. Tancap saja semuanya. Alhamdulillah tidak ada bagian mulut dan perut yang rewel. 

Sendirian di rumah, jadi kangen suami. Ih, padahal baru ditinggal sehari. Cari-cari HP, pingin nelpon. Entah ini yang namanya ikatan batin atau apa, sontak HP saya berbunyi. Suami telpon, sedang di kantor, dan nanya kabar. "Baru bangun ya," tanyanya. Hehe, sudah hapal dia. 

Deadline. Deadline. Kenapa sih saya butuh rasa stress dikejar deadline? Padahal saya tahu rasanya membuat badan semakin meriang. Padahal stress itu tidak baik untuk penderita kanker. Tapi stress dengan dosis secukupnya kan boleh-boleh saja. Tanpa sadar saya membangun gambaran ini, sambil mencoba mengunyah 1 bab dari buku Literacies, Global and Local. Saya membaca dan memahami sedikit lebih lamban sekarang. Mungkin ini yang dinamakan chemo-brain. Biarlah, bagaimanapun, otak ini tetap harus diasah. Mudah-mudahan akan banyak manfaatnya, agar bisa sedikit melupakan rasa tidak nyaman karena kemo. 

Entah alam bawah sadar saya yang tak henti menginginkan sebuah deadline, sekarang datanglah tagihan itu. Atau kalau boleh saya katakan, berkah datang dalam bentuk yang tidak terduga. Saya menerima email dari jurusan Komunikasi UI. Paper yang saya presentasikan di konferensi internasional di UI Desember 2012 lalu, terpilih untuk menjadi salah satu chapter dalam proyek buku yang direncanakan berjudul Indonesia: Diversity in the Age of Convergence. Buku ini akan digawangi oleh Prof. Khrisna Sen sebagai editor. Beliau adalah pakar media dari The University of Western Australia. Teman baik mbak Sirikit juga. 

Ini proyek yang cukup panjang. Sekitar 8 bulan untuk sampai ke draft final. Dengan beberapa deadline dalam prosesnya. Dan deadline untuk draft awal adalah akhir November ini. Dan masih ada dua siklus kemo yang harus saya lakoni sampai jadwal deadline itu. Bisakah saya menyelesaikannya? Melihat tantangan yang menggiurkan ini, saya tidak tahan untuk tidak mengiyakan undangan proyek buku ini. Harusnya tidak terlalu susah. Paper tentang Indonesian migrant workers' digital literacy practices ini sudah dalam bahasa Inggris. Sudah dikoreksi supervisor sebelum dipresentasikan. Selain itu, proyek buku ini akan melebarkan sayap saya ke bidang baru, yakni Media dan Komunikasi. Selama ini tulisan ilmiah saya lebih banyak berkutat di bidang pembelajaran sastra dan kritik sastra. Bonus yang paling penting, bila tulisan saya masuk dalam buku ini, maka tiket lulus PhD akan semakin meyakinkan. Punya 1 chapter dalam tesis yang juga menjadi bagian dari buku ilmiah. Killing two birds with one stone

You want it, now you get it. Seize the day. It's funny now that I hear the clock ticking

5 comments:

Halina Said said...

Sek Mam, bijim, njenengan sakit juga? Seperti bu Sirikit :(

Halina Said said...

sek Mam, bijim, njenengan sakit juga? seperti Bu Sirikit? :(

Pratiwi Retnaningdyah said...

Ya begitulah Han. Episodenya sedang menjalani ujian kesabaran dan keteguhan tekad. Mohon doanya semoga dimudahkan segala urusan ya.

Halina Said said...

Allah sayang padamu, Ibu :)

AHMAD SYAM said...

Tulisan santai tetapi dalam :)