Monday, December 09, 2013

ADZRA, RAWON, DAN MITOS KECANTIKAN KULIT PUTIH

Pagi-pagi sambil sarapan cereal, Adzra ngecipris dengan berbagai cerita. Sudah biasa begitu tiap hari. Bahasa Inggrisnya yang semakin natural sering membuat saya melongo. Serasa kalah jauh dari segi natural fluency. Saya bilang ke Adzra, "kalau ketemu bude Lies, kamu pasti dikruwes." 

"Who's bude Lies?" tanya Adzra
"Remember my friend who told you not to eat rawon? Jangan makan rawon Dzra, nanti kulitmu hitem lho." Jawab saya, mencoba mengingatkan dia saat digoda bude Lies Amin di kantor jurusan beberapa tahun lalu.

Saat itu, ketika Adzra masih belum genap 4 tahun, dia sempat tidak mau makan rawon. "Kan kata temennya ibu, nanti kulitku jadi hitam."

Siapa sangka ini jawabannya sekarang :You don't have to worry about your skin, mommy. Some people are black. Some are white. It doesn't really matter if your skin is dark."

Sempat speechless mendengar jawaban tak terduga ini, saya tepuk pipinya. "That was a fantastic answer, sayang." 

Bertahun-tahun saya belajar teori feminisme. Saya baca banyak novel yang menyiratkan tema white beauty standard dan dampaknya terhadap citra diri perempuan. Saya menulis artikel jurmal tentang itu, dan mengompori para mahasiswa untuk sensitif terhadap isu ini. Tapi saya tidak menyangka seorang anak perempuan yang baru genap 6 tahun ini bisa mengeluarkan pernyataan di atas dengan ringan dan spontan. Bahkan tangannya masih bermain-main dengan laptop mainan. Yet, it's so deep in meaning.

Saya ingat beberapa mahasiswa bimbingan saya yang mengangkat tema white beauty standard di dalam novel The Bluest Eye karya Toni Morrison. Novel ini berkisah tentang seorang anak kecil berkulit hitam bernama Pecola. "She's black, poor, and ugly." Di kelas sastra saya, kutipan ini kami bahas, membayangkan betapa rendahnya citra diri kita bila berada di sisi Pecola. Bagaimana gempuran iklan pemutih di TV mencerminkan citra diri kita inferior di bawah didominasi kecantikan standar kulit putih. 

Secara umum, skripsi-skripsi tersebut mengupas bagaimana novel The Bluest Eye mengkritisi dampak negatif white beauty standard terhadap citra diri perempuan kulit hitam di Amerika. Pentingnya identitas kultural juga dinilai amat penting dalam membentuk kepercayaan diri perempuan. Mereka yang kuat identitas kulturalnya akan mampu menyaring dan menolak dominasi standar kecantikan kulit putih. Sebaliknya, tanpa identitas budaya yang melekat pada diri, banyak perempuan yang menjadi inferior dan tidak tahan dengan gempuran konsumerisme, yang lagi-lagi merujuk pada standar kulit putih.

Apakah anak kecil punya kesadaran terhadap perbedaan kulit? Saat di Kinder dulu, Adzra pernah bertanya, "Ibuk, kenapa kulit Mary kok hitam banget?" 
"Mary itu dari Afrika. Orang Afrika banyak yang kulitnya hitam. Rambutnya juga curly. 
"Tapi Mary temanku kan?" tanya dia lagi. 
"Semua teman Adzra. Ada yang hitam kayak Mary, putih kayak Hanna. Coklat kayak Adzra dan Alifya. We're all friends."

Mengetahui bahwa tiap orang punya warna kulit yang berbeda mungkin sudah menjadi realita sehari-hari di sekolah. Teman-temannya di Moreland Primary School amat multikultural. Namun memahami bahwa perbedaan kulit bukanlah penghalang dalam bergaul adalah cerita yang berbeda. Perlu pembiasaan dan contoh yang konsisten dari orang-orang di sekitarnya. Barangkali  sebagai ibu yang lumayan sensitif gender,  tanpa sadar saya menanamkan nilai ini kepada dia melalui obrolan, mainan, dan buku-buku yang saya pilih untuk dia. 

Di rumah, salah satu buku favoritnya berjudul Children around the World. Ada foto-foto anak dari berbagai belahan bumi. Dengan warna kulit dan dandanan baju yang beragam. Dia suka buku itu karena amat colorful, dengan berbagai kisah unik tentang kebiasaan anak-anak dari berbagai negara. 

"Mommy, I have a story about a girl." sambung Adzra. Lalu dia mengarang cerita dengan lancar tentang seorang gadis cilik bernama Sasha. Setelah makan rawon pada siang hari, tiba-tiba kulitnya jadi hitam pada malam harinya. "Mommy, why is my skin darker? I can't take it off. And then her mom said, you can't take it off. Because that's how it goes. Our skin is dark. People look different. It doesn't matter. Don't worry about it."

Saya jadi bengong lagi. Cepet banget dia berimajinasi dan menghasilkan sebuah cerita. "I hope you'll be a great writer someday, Adzra," sambil saya uyel-uyel badannya.

"Has Kerry or Kelly ever told you that? You know, stories about people and their skin colour?" tanya saya, menyebut nama dua orang gurunya di kelas Prep. Adzra mengangguk mengiyakan

Pendidikan karakter barangkali sudah menjadi bagian dari kurikulum sekolah di banyak negara. Namun menanamkannya dengan cara yang pas sesuai usia anak didik adalah tantangan tersendiri. Nampaknya guru-guru di MPS sudah berhasil menjalankan tugas mereka. Baru saja minggu lalu Adzra bertanya tentang mengapa banyak orang dari negara lain pindah ke Australia. Saya tersadar bahwa gurunya sedang menanamkan nilai empati terhadap nasib para imigran gelap di Australia  Sekarang nampak lagi nilai yang lain. Nilai kesetaraan tanpa membedakan warna kulit.

Saya sudah lama mengikuti bahwa tema pembelajaran di MPS amat sadar terhadap isu multikulturalisme. Kebanggan atas identitas kultural tertanam melalui Asian Studies. Setelah belajar budaya Jepang pada semester 1 yang lalu, kini tema Indonesian studies amat berhasil membuat anak-anak kami bangga dengan identitas budayanya. Puncaknya, tari Saman yang ditarikan 39 anak Indonesia, semua siswa MPS, menjadi pusat perhatian dalam acara sekolah minggu lalu. Ini apresiasi kami atas pengakuan keberadaan komunitas Indonesia di MPS. 

"It's far more difficult to murder a phantom than a reality," begitu quote dari Virginia Woolf, pengarang novel Mrs. DallowayKetika seorang anak seperti Adzra sadar bahwa dirinya perempuan, berasal dari Indonesia, kulitnya sedikit gelap, belajar main dakon, suka Barbie dolls, suka bermain Three Musketeers dengan teman-teman bulenya, mudah-mudahan Adzra dan teman-temannya belajar meyakini bahwa warna kulit bukanlah hantu yang mati-matian ingin mereka bunuh. 

1 comment:

Ekyami Tonik R. said...

Smart girl moommm...hope she will be a great writer someday...I'll waiting for her stories mamm...