Sunday, February 12, 2012

Unas, RSBI, dan Sekolah Luar Negeri


Sekolah RSBI dirancang dengan salah satu tujuan agar lulusan bisa mencapai standar internasional, atau setara dengan sekolah di luar negeri. Ironisnya, anak-anak yang bersekolah SMP dan/atau SMA di luar negeri tidak bisa dengan mudah diterima kembali bersekolah di tanah air, karena ijazahnya tidak diakui. Salah satu alasannya adalah karena tidak punya nilai Unas.

Salah seorang teman bercerita tentang anaknya yang tidak bisa masuk PT di Indonesia, sekembalinya sekolah SMA di Aussie, mengikuti ortu yang juga studi. Koneksi ortu 'terpaksa' bermain sehingga akhirnya si anak masuk melalui jalur non-regular (bukan SNMPTN). Seorang teman lain ingin mengirimkan anaknya bersekolah dia Singapore. Saat itu si anak masih di kelas 10 salah satu SMA RSBI terfavorit di Surabaya. Iseng-iseng sang ibu menanyakan kemungkinan apakah si anak bisa kembali ke SMA di Sby bila ternyata tidak kerasan di Singapore. Jawaban Kepala Sekolah, "tidak bisa bu, bahkan juga tidak bisa di kelas yang setingkat." "lho kok bisa pak, kan sekolah ini juga punya program pertukaran dengan sekolah di Singapore?" tanya si ibu. Kepala Sekolah menjelaskan,"memang bu, tapi rencana ibu kan tidak menjadi bagian dari program sekolah." 

Ketika saya mengurus kepindahan Ganta, anak sulung saya, dari SMA-nya di Surabaya, Wakasek juga mengingatkan akan kemungkinan nantinya Ganta akan sulit masuk ke PTN, sekembalinya dari Aussie. Meski beliau heran juga mengapa sistem pendidikan di Indonesia kok mbuletisasi seperti ini. Sekolah sempat menemui kesulitan saat akan menerima seorang calon siswa yang lulusan SMP di Amerika, dengan alasan yang sama, yakni Unas. Langkah yang sering disarankan adalah mengambil Kejar Paket C, agar punya nilai Unas. Memang isunya adalah nilai Unas. Ketika isu ini saya lemparkan ke milis keluarga Unesa, seorang teman, mas Satria Dharma, yang juga Ketua IGI, menyatakan ketidak-percayaannya atas aturan yang tidak memperbolehkan lulusan LN untuk sekolah di Indonesia tanpa nilai Unas. Gayanya yang selalu kritis menggerakkan saya untuk mulai mencari ada tidaknya dokumen tentang aturan ini. Menurut beliau, biasanya hal ini terjadi karena Kepala Sekolah tidak menemukan dokumen aturan yang memperbolehkan, sehingga kemudian diterjemahkan menjadi TIDAK BOLEH.

Dalam tataran lebih tinggi, sebenarnya yang sudah kuliah di luar negeripun harus menyetorkan ijazahnya di Dikti untuk diakreditasi. Tanpa ini, terutama yang PNS, ijazah tidak akan diakui (terutama utk urusan naik pangkat/golongan). Aneh kan. Pemerintah Indonesia yang mengirimkan SDM-nya untuk sekolah ke LN, begitu pulang ke Indonesia, ybs harus mendapatkan pernyataan dari Dikti bahwa ijazahnya bukan dari universitas/sekolah yang ecek-ecek. Itu yang harus saya lakukan tahun 2004 lalu, sepulang dari Amrik. Gak peduli sekolahnya atas beasiswa Fulbright yang prestigious, ijazah tetap harus diakreditasi dulu. Dan untuk urusan sertifikasi dosen 2 tahun lalu, saya harus ke Jakarta (hanya) untuk memperoleh 5 lembar legalisir salinan pengesahan ijazah LN. Itupun tidak bisa langsung jadi. Untung saya pas ada tugas ke Jakarta, sehingga bisa nebeng transport. Bisa dibayangkan ribetnya teman dari Papua, misalnya, untuk melakukan hal yang sama.

Di pihak lain, mendaftar ke sekolah LN malah tidak ribet sama sekali. Hanya butuh nilai rapot 3 semester terakhir, ijazah, dan terjemahannya. Ketika Ganta masih di Indonesia, proses pendaftaran tetap jalan, dan dalam waktu 2 minggu sudah keluar nomor induk siswa dari Dinas Pendidikan setempat. Surat penerimaan (dan bebas SPP bila ortu mahasiswa S2/S3 riset) bisa dipakai untuk mendaftar ke sekolah terdekat. Perkara masuk kelas berapa dan berapa lama program language upgrading akan menjadi urusan sekolah, sesuai dengan nilai rapot dan tes bahasanya. Yang ditanya sebenarnya malah nilai rapot yang cenderung angka dan tidak ada deskripsi kualitatifnya. Bagi mereka, rapot kita kurang menjelaskan kompetensi apa yang telah dicapai siswa. 

Melihat proses yang lancar ini, saya jadi berpikir, tanpa RSBI-pun sebenarnya tiap anak Indonesia bisa sekolah di luar negeri. Peraturan di sini mengharuskan anak berusia sekolah harus masuk ke sekolah sesuai dengan tingkat usianya. Penerimaan dari Dinas Pendidikan setempat menjadi salah satu syarat utama untuk memperoleh visa tinggal. Jadi sekali lagi, embel-embel RSBI tidak penting bila ingin sekolah ke luar negeri. Bila saya melihat ke sekitar, berapa banyak sudah lulusan yang berijazah dari alma mater saya tercinta, IKIP Surabaya/Universitas Negeri Surabaya, baik dari program S1 maupun S2 yang bisa menembus berbagai program beasiswa berkelas internasional atau bekerja di lingkungan global. Tak satupun dari mereka adalah lulusan sekolah RSBI. Tinggal manusianya sendiri, PD apa gak? Karena sebenarnya masih saja ada sebagian mahasiswa (bahkan dosen) Unesa yang kurang PD dengan embel-embel Unesa di ijazahnya. Inferiority complex gitu loh!

Bagi mas Satria Dharma, sistem pendidikan di Indonesia kita tercinta ini aneh sekali, kok tidak bisa compatible dengan sistem pendidikan di negara manapun. Saya jadi ingat judul film, “Alangkah Lucunya Negeri ini.”

Ganta di Brunswick Language Centre

Mengamati hari-hari pertama Ganta bersekolah di Melbourne merupakan pengalaman yang menyenangkan. Ganta sudah menyelesaikan semester 1 kelas 11 di SMA Negeri 14 Surabaya. Di sini, Ganta mengikuti program Bahasa Inggris dulu di Brunswick English Language Centre. BELC ini terpadu dengan Brunwick Secondary College, tempat Ganta nantinya akan meneruskan sekolahnya. Setelah mengikuti tes lisan dan tulis, Ganta disarankan mengikuti program language upgrading selama 20 minggu, dan nantinya akan masuk ke Year 10. Menurut Toula, koordinator ELC, bahasa Inggris Ganta 'not bad,' namun 'sense of grammar' nya yang perlu disempurnakan. Bagiku sama sekali tidak ada masalah, yang penting Ganta sendiri senang menjalaninya. Lalu bagaimana dengan keputusan kembali ke Year 10? Di Australia, tahun ajaran dimulai pada bulan Februari. 1 tahun dibagi menjadi 4 terms. Kalau dipikir-pikir masalah waktu, bisa saja dianggap rugi, namun dengan mengikuti Year 10 selama setengah tahun, Ganta malah bisa lebih utuh merasakan pendidikan SMAnya di sini. Awal tahun 2013 Ganta akan bisa masuk ke Year 11 secara penuh.Jadi kalau dihitung-hitung, insya Allah pendidikan SMAnya bisa selesai pada akhir tahun 2014. Pas dengan perkiraan studiku juga akan selesai pada akhir tahun 2014. Mudah-mudahan semua berjalan lancar.

Selama 1 minggu ini Ganta bersekolah, aku lihat dia sangat menikmatinya. Brunswick Secondary College tidak jauh dari apartemen tempat kami tinggal. Hanya berjarak 5 stop dengan menggunakan Tram route 19 di sepanjang Sydney Road. Tiap pagi sekitar pukul 8.15 Ganta sudah berangkat dengan naik tram dari stop 26. Tidak sampai 10 menit sudah akan sampai di stop 21, dan kemudian akan berjalan selama 5 menit di Dawson Street. Setiap hari Ganta juga membawa bekal makan siang. Kadang kubawakan nasi, lauk, dan buah, dan beberapa hari terakhir ini minta dibawakan burger sandwich. Lebih praktis katanya. Sekolah berlangsung sampai pukul 15.10, dan biasanya sekitar 15.30 Ganta sudah leyeh-leyeh di sofa sambil tanya, 'masak apa hari ini bu?'

Dari segi materi yang diperoleh, aku senang ternyata kemampuan Ganta ok juga. Dia masuk di room 2, untuk kelompok 'intermediate.' Aku lihat, bacaan dan latihan yang dibahas kira-kira setara dengan bahan yang biasanya dipakai untuk mahasiswa semester 1 di Unesa. Kadang cukup panjang juga, sekitar 3-5 halaman bacaan. Bahkan Ganta jadi punya motivasi sendiri untuk membaca bacaan pendek. Kusodori buku Stories for Reproduction yang berisi anekdot-anekdot lucu. Dalam 2 hari, ternyata Ganta bilang sudah menyelesaikan sekitar 30an cerita. Boleh juga anakku ini. Kali lain dia nongkrong di depan TV untuk mendengarkan TV news. Kalau begini, biasanya memang ada tugas membuat summary, untuk diceritakan kembali di depan kelas. Besok Senin, Ganta bilang, akan dilakukan regrouping. Dia belum tahu akan masuk kelompok mana. Tapi dia sudah bisa mengukur kemampuannya sendiri dibandingkan teman-temannya. Yang dari Cina agak susah dipahami kalau bicara, yang dari Korea dan Somalia cukup jelas, yang dari Iraq medok banget aksen Arabnya. Kalau yang dari Indonesia (maksudnya, dia sendiri) sangat jelas. "Very good reading," begitu apresiasi tutornya saat Ganta diminta membaca keras.

Masalah pertemanan tidak perlu dikhawatirkan. Meski Ganta kelihatannya pendiam, sebenarnya temannya banyak dan dari berbagai lapisan. Selama di SD-SMA di Surabaya dulu, ada yang disebut teman sekelas, teman sekolah, teman band ini, band itu. Bahkan teman mainnya malah jarang dari kelas yang sama. Di sini, sejak hari pertama, Ganta sudah menghabiskan sebagian waktu makan siangnya untuk bermain bola. Tidak hanya dengan anak ELC, namun juga dengan anak-anak Brunswick Secondary College. Memang saat makan siang,  mereka cenderung berbaur. Yang membedakan hanyalah pakaian. Anak ELC berpakaian bebas, sedangkan anak BSC pakai seragam. Namun anak yang supel tidak akan punya masalah dalam berteman. Ganta juga ternyata suka berinisiatif untuk mengajak ngobrol teman-teman barunya. Apalagi dengan hobi olahraga yang dimilikinya, sepakbola dan basket bisa menjadi ajang cari teman baru dari kelas lain.

Hari-hari Ganta masih terhitung 2 minggu, sejak kami datang pada tanggal 28 Januari 2012. Aku berdoa semoga hari-hari berikutnya, yang masih panjang, akan memberi warna lebih indah dalam kehidupan Ganta. Semoga pengalaman belajar di sini akan menjadi bekal bagi masa depan Ganta nantinya. Semoga Allah memberkati. Amin.


Saturday, February 04, 2012

Adzra, Fikri, dan Toni


Jumat sore kemarin pak Munir and the gang dolan ke apartemenku. Ngobrol-ngobrol santai lesehan di atas karpet yang sudah setengah lusuh sambil makan pizza yang dibawakan pak Munir. Dua keluarga berkumpul lengkap. Mas Prapto sudah seminggu di sini, ikut terbang bersamaku, Ganta dan Adzra, yang akan memulai hari-hari sekolah di Melbourne. Pak Munir, dik Lia, Fikri dan Toni malah sudah tinggal menghitung minggu untuk balik ke tanah air. Pak Munir memang sudah submit tesisnya. 

Apartemen 3/53 De Carle Street di Brunswick jadi hangat, diselingi celotehan dan teriakan anak-anak. Setelah berbulan-bulan apartemenku sepi karena hanya dihuni Silvi dan aku, sekarang terasa jadi rumah betulan, lengkap dengan mainan Adzra di seluruh pojok ruang tamu.

Mengagumkan melihat bagaimana anak-anak kecil begitu cepat berinteraksi. Padahal Fikri dan Fatoni ngomong bahasa Inggris terus. Maklum, sudah  tiga tahun lebih mereka di sini. Adzra tertawa ceria dan kagum lihat teman-teman barunya. Dengan cepat mereka rebutan main pinguin race. Kruntelan di sofa. Untungnya Adzra bukan anak perempuan yang anteng. Bahasa tubuh dan mimik wajah menjadi sarana pengikat komunikasi mereka. 

Esoknya, aku dan anak-anak mengantar mas Prapto ke Southern Cross Station, untuk kemudian langsung ke bandara. Sudah waktunya dia balik ke Surabaya. Sesampai di apartemen, Adzra sibuk main dengan Ganta, sementara aku membereskan urusan dapur dan cucian baju. Tiba-tiba aku dengar Adzra tertawa-tawa dan bilang 'this one, this one.' Kuhentikan pekerjaanku, dan kutanya pada Adzra, "darimana Adzra belajar itu?" Ternyata kumpul 2 jam bisa cepat mengajari Adzra makna 'this one,' 'sorry', dan 'don't do that.'

Adzra bilang bahwa dia ingin bisa bahasa Inggris seperti Fikri dan Toni. Aku katakan bahwa di sekolah nanti akan diajari, karena Fikri dan Toni juga belajar di sekolah. Ini menjadi suntikan motivasi bagi Adzra. Kalau hari-hari sebelumnya dia enggan sekolah, maka sekarang dia bertanya terus. Nanti diajari apa, main apa saja. Kamis kemarin da sudah sempat kuajak ke sekolahnya untuk lihat-lihat suasana, dan dia cuma mau main pasir di playground. Gak mau masuk ke kelas. Besok Senin insya Allah Adzra akan memulai hari pertamanya di kindergarten dan child care. Mudah-mudahan hari pertamanya bisa memberikan kesan yang menyenangkan.

Terima kasih pak Munir dan dik Lia, sudah mengenalkan Fikri dan Toni ke kehidupan Adzra.