Saya sedang berada di ruang tunggu bandara Internasional Juanda. Pagi ini insya Allah saya akan terbang menuju negeri beton, Hong Kong. Pesawat Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CX 780 L dijadwalkan take off pukul 08.15 WIB.
Saat mau check in tadi, saya sudah merasakan aroma yang beda. Ketika koper saya geret menuju check-in counter, seorang petugas mencegat saya. "Mbak, mbak, kesana dulu, ke security." Tidak kasar memang, tapi tanpa sapaan. Saya berterima kasih, dan langsung menuju ke petugas security. "Tolong tiket dan paspornya mbak," ujar petugas di situ. Saya sapa dia, "pagi pak," sambil mengeluarkan paspor biru saya. Dalam hitungan detik, petugas mengubah nada bicaranya, "pagi bu, mau ke Hong Kong?. Aku mengiyakan, sambil membatin, kalau paspor saya berwarna hijau, apa mungkin nada bicaranya berubah ya.
Urusan check in dan imigrasi akhirnya lancar jaya. Nampaknya warna biru paspor saya sakti. Saya sebenarnya sempat khawatir akan dimintai exit perrmit. Pemegang paspor dinas malah cenderung ribet kalau harus ke luar negeri. Saya ditanya ke HK untuk urusan apa. Saya bilang aja liburan sambil mengeluarkan surat keterangan dari KJRI Melbourne. Paspor diibuka-buka oleh petugas imigrasi, dan malah dia kemudian bertanya berapa lama perpanjangan paspor dinas saya di KJRI Melbourne. Malah dicurhati bahwa paspor dia lama banget proses perpanjangannya. DOK! Sahlah keberangkatan saya ke Hong Kong, dengan stempel imigrasi.
Menuju ruang tunggu di gate 10, tidak terlalu ramai. Praktis sebagian besar calon penumpang adalah buruh migran. Ada yang berombongan kecil dengan jaket seragam. Biasanya mereka baru pertama kali berangkat. Seorang perempuan muda duduk di samping saya. Sambil tersenyum, dia bertanya, "ke Hong Kong mbak?" Saya mengangguk. "Lagi cuti?, tanya dia lagi. Hmm, penampilan saya yang amat biasa meski rapi jali ternyata kalah dengan beberapa di antara calon penumpang. Saya bilang kalau ada dinas dari kantor. Di samping kanan saya ada mbak lain. Dia necis dengan boots-nya, sambil berbicara lancar dalam Bahasa Inggris di telpon. Cukup lama. Dari hasil nguping, saya bisa menduga bahwa dia juga BMI.
Saya mulai 'jail.' Mbak yang duduk di kiri saya mulai saya ajak ngobrol. Mbak Marni namanya, dari Ponorogo. Pulang cuti 2 minggu, dan kembali untuk kontrak kedua, dengan majikan yang sama.
"Tadi ditanya KTKLN mbak?," tanya saya. Dia menggeleng, dan menjelaskan lancarnya urusan. Hanya dengan paspor dan tiket, dia sudah melenggang.
"Bagus kalau begitu," jawab saya. Saya ikuti di media, peraturan baru tentang KTKLN yang berfungsi sebagai ID card untuk BMI sering jadi alasan untuk pungli oknum imigrasi bila BMI tidak memilikinya.
Saya lihat wajah-wajah sumringah di antara mereka. Semoga ini pertanda bahwa kehidupan mereka di Hong Kong juga begitu. Setidaknya, musim dingin di sana akan tetap diisi dengan semangat menyala. Ini yang ingin saya temukan di komunitas penulis BMI nanti.
Hong Kong, I'm coming.
Gate 10, bandara Juanda Surabaya, 07.30 WIB.
Each and every minute counts if you always try to look around and see that even a falling leaf or a small drop of rain means something. But its meaning may fade quickly, unless you make an effort to keep the track.
Friday, January 04, 2013
Friday, December 21, 2012
HARI-HARI LITERASI
Hadiah yang paling saya sukai adalah buku. Baik untuk diberikan kepada orang lain maupun saat menerima hadiah dari sahabat dan saudara. Nah, kemarin saya dapat hadiah buku dari mas Satria Dharma. Beliau termasuk salah satu orang di milis Ganesa yang sukses merongrong saya untuk lebih banyak membaca dan menulis. Meski sebenarnya dua kegiatan ini sudah menjadi hobi saya sejak kecil. Bedanya, sekarang saya lebih berani dan percaya diri membagikan tulisan saya. Terutama yang bersifat kreatif. Selama ini saya cenderung berada di zona nyaman saya, menulis secara akademik. Kalaupun catatan pribadi, hanya saya simpan dalam tumpukan buku harian saya.
Penelitian yang saya tekuni sekarang ini, tentang literasi, ternyata malah menawarkan cara yang betul-betul saya nikmati. Menulis sesuatu yang sebenarnya akademik dalam kemasan kreatif. Peluang ini saya dapatkan ketika riset saya mengawinkan antara analisis teks dengan etnografi. Jujur, metode ini membuat saya jadi lebih terlatih membuat fieldnote yang dengan rasa cerpen atau feature.
Sejak saya terima kemarin siang, buku berjudul Twenty Years of Joy and Happiness sudah langsung saya buka-buka dan pilih halamannya. Saat saya duduk di atas becak menuju Rolak Gunungsari, menunggu bemo lyn G, dan berlanjut ketika bemo mulai melaju.
Subjudul yang dibesut cukup menarik perhatian saya. Menuju Budaya Literasi. Subjudul ini juga muncul di setiap halaman di bagian bawah. Mengenal mas Satria selama ini, saya cukup paham gairah, kalau tidak bisa disebut obsesi, mas Satria untuk menyebarkan budaya literasi secara masif.
Kita selalu bertanya-tanya, apakah bangsa Indonesia memang belum berbudaya literasi? Apakah literasi itu sendiri adalah budaya? Bila ya, praktik literasi seperti apakah yang akrab dengan kita? Apakah kita termasuk dalam golongan a bad reader atau a good reader. Selain itu, bila literasi adalah praktik budaya, maka literasi bisa dikonstruksi. Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita tengok sejenak konsep literasi dari dimensi sosial budaya.
Untuk memahaminya, cara terbaik adalah melakukan refleksi pada kehidupan kita sehari-hari. Apa yang kita baca dan tulis dalam keseharian kita. Ayo kita sama-sama menggunakan diri kita sebagai objek pengamatan. Saya mulai dengan diri saya sendiri dulu, dengan menengok hari-hari saya saat di Melbourne.
Sebagai mahasiswa, tentunya waktu saya cukup banyak tersedot untuk urusan baca tulis. Saya menggunakan website perpustakaan untuk mengecek katalog dan mencari artikel di e-journal. Untuk memperpanjang peminjaman, saya lakukan secara online. Portal kampus juga menjadi jujugan saya paling tidak 3 kali sehari. Untuk mengecek akun email kampus dan banyak keperluan administratif lainnya.
Hampir semua artikel jurnal saya baca dari laptop atau komputer di kampus. Hanya buku perpustakaan saja yang saya baca dalam bentuk cetak. Semua kegiatan ini jelas punya tujuan akademik, sesuai dengan peran dan tuntutan sebagai mahasiswa.
Di luar itu, dengan peran saya sebagai ibu, saya juga melakukan kegiatan literasi. Mengecek resep secara online atau membaca buku resep yang saya punya. Jadi biasanya laptop saya usung ke dapur untuk panduan memasak. Bila banana bread atau macaroni schotel yang saya bawa ke pengajian atau kirimkan ke tetangga dipuji, maka file resep atau websitenya berpindah ke FB group teman-teman pengajian. Media ini yang juga saya pakai untuk menengok resep maknyus yang pernah dibagikan teman lain.
Saya juga perlu membaca kandungan bahan makanan yang tercantum di kemasan ketika saya belanja. Maklum, harus hati-hati dengan bahan yang tidak halal. Informasi seperti ini juga menghiasi FB group yang sama. Alhasil kami jadi tahu supermarket mana yang perlu jadi jujugan bila ingin membeli bahan tertentu. Atau mengingat kode bahan kimia apa yang dianggap halal.
FB group pengajian Aisyah menjadi wadah komunikasi kegiatan utama kami, yakni pengajian dan TPA anak-anak kami. Untuk peran sosial ini, literasi dalam bentuk digital kental mewarnai kegiatan saya. Yang menarik, bahkan ketika pengajian, banyak di antara kami yang menggunakan IPhone atau IPadnya. Untuk bergantian membaca Al-Qur’an, mengecek surat dan ayat yang sedang menjadi pokok bahasan, dan juga mencatat point-point penting dalam tausiyah.
Sebagai bagian dari komunitas, hidup saya juga praktis diwarnai oleh teknologi komunikasi. Milis keluarga unesa, jurusan, dan indomelb misalnya, sering menggoda saya untuk sering-sering cek email dan melihat postingan baru atau mengirimkan postingan saya. Semua milis saya arahkan ke akun saya di yahoo, sedangkan urusan lain yang lebih pribadi mengumpul di gmail. Akun email kampus tentunya lebih banyak untuk urusan administrasi dan akademik.
Sementara itu, update status Facebook saya semakin jarang saya lakukan. FB praktis lebih banyak berfungsi untuk menjaga komunitas saya di pengajian, melakukan pengamatan virtual FB group teman-teman BMI, dan membagi postingan yang baru saya unggah di blog saya. Yah, baru tersadar bahwa saya juga masih sering sekali menggunakan FB. Perasaan saya tentang FB masih terbelah. Di satu sisi, saya butuh untuk penelitian saya, di sisi lain, seliweran status baru kadang menggoda saya untuk ikut berkomentar. Beberapa teman yang sudah masuk tahun kritis biasanya men-deaktivasi akun FBnya. Saya lihat beberapa teman buruh migran di Hong Kong juga melakukan hal sama bila sibuk dengan tugas-tugas domestiknya.
Bagaimana dengan interaksi saya dengan anak-anak? Dengan Adzra, saya lebih suka menggunakan cara yang lebih konvensional. Buku-buku cerita yang saya beli di secondhand stores banyak mengisi jam-jam menjelang tidur, atau saat menemani Adzra bermain. Cerita-cerita tentang Adzra juga menginspirasi saya untuk menulis catatan harian di blog saya. Adzra sendiri suka fanatik dengan buku-buku tertentu. Meski sudah dibaca bolak-balik, dia sering minta dibacakan cerita yang sama. Biasanya dia akan menyela dan meneruskan ceritanya dengan versinya sendiri.
Ganta sendiri lebih banyak terpapar dengan literasi digital. Setiap hari dia mengecek portal sekolah untuk mengunduh tugas atau melihat pengumuman terbaru. Saya juga punya akses ke portal sekolah, dengan akun sebagai orang tua. Di situ saya bisa melihat status presensi Ganta, jadwal pelajaran, pengumuman terbaru, termasuk misalnya mengirimkan email kepada gurunya. Beberapa guru Ganta juga suka mengirimkan email kepada orang-tua untuk memberitahukan tugas dan materinya. Dasarnya saya sendiri punya rasa ingin tahu yang tinggi, saya hampir selalu ikut membaca materi pelajaran Ganta. Dari situ saya ikut belajar tentang Nazi dan Hitler yang menjadi pokok bahasan pelajaran Sejarah, melihat rubrik penilaian yang digunakan untuk mengevaluasi esai siswa, atau mengikuti bagaimana pelajaran Physical Education kental sekali dengan materi Biology.
Kadang saya merasa capai karena terpapar dengan screen. Mulai pagi sampai malam, di rumah, di jalan, dan di kampus, mata saya tertuju pada IPhone, laptop, dan desktop. Bila begitu, saya suka refreshing. Sekedar jalan saja ke secondhand store dekat rumah. Herannya juga, setelah pegang-pegang barang tanpa beli, saya malah suka mengitari rak buku. Yang terjadi, keranjang belanja malah terisi dengan novel-novel yang belum pernah saya baca. Yah, mau bagaimana lagi, apa saya harus menyalahkan bapak saya yang suka melepas anaknya berjam-jam di Sari Agung atau Gramedia pada masa kecil dulu?
Refleksi diri seperti ini menyadarkan saya bahwa ternyata saya memang suka membaca dan menulis. Baik dalam memainkan peran saya sebagai mahasiswa, ibu, maupun bagian dari komunitas, tulisan mewarnai hari-hari saya. Yang berubah secara drastis (dan baru saya sadari) adalah ketergantungan saya dengan teknologi informasi dan komunikasi untuk melakoni praktik literasi saya. Jujur, saya rindu suasana menenangkan di masa kecil ketika saya menghabiskan siang hari di atas atap rumah dan membaca komik pinjaman. Ketika pohon jambu kami ditebang, saya termasuk yang paling sedih. Batang pohon yang kokoh yang menjulur sampai ke atap rumah itulah yang mengantarkan saya ke tempat persembunyian favorit. Sekarang, gadget screen-lah yang menyambungkan saya dengan dunia lebih luas, dan ironisnya, memutus saya dari lingkungan terdekat.
Saya kok jadi bingung sendiri, maunya menulis literasi sebagai praktik budaya, ternyata ending-nya malah bernostalgia. Atau memang seperti ini yang diharapkan dalam penelitian literasi dalam dimensi sosial budaya ya?
Tuesday, December 18, 2012
ETIK JUWITA, TULKIYEM, DAN CEK YANG MENJADI PEMBATAS BUKU
Siang ini saya ada janji untuk bertemu dengan Etik Juwita. Sosok ini sudah setahun lebih menghiasi draft proposal penelitian saya tentang dunia literasi buruh migran Indonesia.
“Ada kuliah tadi pagi, mbak?” tanya saya, sembari merangkul bahunya, ketika kami bertemu di dekat pintu gerbang Universitas Gajayana Malang.
Etik di hadapan saya nampak lebih nyempluk dengan rambut pendeknya. Beda dengan foto-fotonya yang sempat saya cari di google image. Wajahnya segar, dan perutnya membuncit. Ada jabang bayi yang akan mencerahkan hari-harinya dalam 2 bulan mendatang.
“Kosong tadi, bu. Dosennya pergi.”
Etik tengah belajar di jurusan Bahasa Inggris di Uniga, dan menginjak semester 7, setelah kurang lebih 9 tahun bekerja di luar negeri. Selepas sekolah di SMA Talun Blitar di tahun 2000, Etik memulai perjuangannya memperbaiki nasib dengan bekerja di Singapura selama 2 tahun. Modal yang masih belum cukup dan keengganannya untuk menjadi sekedar penjaga toko membawanya kembali ke luar negeri. Kali ini tujuannya Hong Kong, yang dilakoninya selama 2 kali masa kontrak.
Seberapapun menariknya berbincang tentang suka dukanya menjadi BMI, bagi saya, jauh lebih menarik mengungkap kreativitasnya di bidang literasi. Di bemo dalam perjalanan ke Matos, kami memulai obrolan tentang karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Cerpen “Bukan Yem,” adalah salah satu cerpen yang pertama kali saya kenal dari kalangan BMI. Cerpen ini dimuat di Jawa Pos, dan kemudian termasuk dalam 20 cerpen terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008.
Pernahkah Anda mendengar seramnya Terminal 4 bagi para TKI? Cerpen “Bukan Yem” bolehlah dianggap mewakili cerita serangkaian mafia yang berupaya menjerat dolar, ringgit, atau riyal yang dikais para BMI dengan keringat dan air mata. Versi bahasa Inggrisnya, “Maybe Not Yem,” boleh dikatakan sebagai indikator keberhasilannya menembus batas dunia sastra. Cerpen ini masuk dalam koleksi Tropical Currents: Writings by Indonesian Women, dan dianggap mewakili sastra transnasional di website Words without Borders.
Bila kita menggunakan mesin pencari Google, kita akan temukan bahwa nominasi cerpen ini sebagai salah satu cerpen terbaik juga menimbulkan polemik. Sebagian juri menganggap bahasanya terlalu lugas dan polos, namun sebagian lain melihat itu sebagai kekuatan yang mencerminkan tema cerita. “Dengar-dengar, pak Budi Darma termasuk salah satu yang mempertahankan cerpen saya,” begitu tutur Etik. Budi Darma memang menjadi salah satu jurinya.
Persinggungan Etik dengan Budi Darma bukanlah pertama-kalinya. Tiga tahun sebelumnya, di tahun 2005, Etik pernah menerima SMS dari Budi Darma. ““Bu Etik, selamat ya, cerpennya dimuat di Jawa Pos. Bagus.” (Budi Darma).” Begitu kira-kira bunyi pesan singkatnya, saat cerpen “Seharusnya Berjudul Celana Dalam” dimuat.
“Pak Bon, Budi Darma iku sopo?” tanya Etik dengan polosnya kepada Bonari Nabonenar, seraya mem-forward sms itu. Bonari, alumnus Sastra Indonesia IKIP Surabaya, sudah cukup lama dikenal Etik melalui milis Kosa Kata. Etik menilai Bonari sebagai sosok yang selama ini banyak membantunya memoles tulisan-tulisannya. Bonari pulalah yang diam-diam mengirimkan cerpen itu ke JP. Etik mengakui bahwa milis seperti inilah yang dia pandang sebagai komunitas satu dunia, di mana semua anggota memiliki minat yang sama, yakni bahasa tulisan.
Memperoleh apresiasi dari sastrawan besar sekelas Budi Darma tak ayal memberikan dorongan pada Etik untuk terus menulis. Waktu-waktu senggang yang dihabiskannya di Hong Kong Central Library membuahkan berbagai tulisan dalam bentuk opini dan cerpen yang dimuat di berbagai media di Indonesia dan Hong Kong. Yang menarik, Etik juga menjadi salah satu kontributor cerita bersambung tentang Tulkiyem di koran Suara yang terbit di Hong Kong. Tugas ini dilakoninya selama kurang-lebih 4 tahun, dan berlanjut ketika dia sudah kembali ke tanah air dan duduk di bangku kuliah. Keseharian Tulkiyem, nama yang dipilih untuk mewakili sosok domestic helper, menjadi sosok yang lumayan ditunggu sebagian BMI, saat mereka menghabiskan hari liburnya. Si Tulki, dengan segala kenorakannya dan ke-ndeso-annya, dilihat sebagai bagian dari diri kebanyakan BMI.
“Tulki ngopo saiki?,” begitu celetukan teman-teman Etik. Mengetahui tulisannya ditunggu pembaca memberikan kepuasan baginya. Di satu sisi, teman-temannya tidak tahu bahwa dialah penulisnya. Nama pena Etik Juwita memberikannya kebebasan untuk bersuara apa saja dan menjadi siapa saja. Tulki, tokoh BMI yang berasal dari Banyumas, khas dengan celotehan ngapak-ngapaknya. Ketika akhirnya sebagian besar BMI tahu bahwa Etik penulisnya, mereka malah tidak percaya, “ngapusi. Kok ora ngapak.”
Selama penerbitannya, Tulkiyem membawa pembaca pada isu-isu kekinian di kalangan BMI saat itu. Etik menggunakan tokoh Tulki untuk menyampaikan uneg-unegnya. Mungkin saking akrabnya dengan kondisi BMI, ada yang percaya bahwa Tulki itu sosok nyata. Ada proses resepsi yang kreatif, ketika demo perburuhan di kalangan BMI Hong Kong juga diwarnai dengan hadirnya sosok-sosok yang mengaku “Aku lho Tulkiyem,” dengan dandanan yang diyakini mewakili gambaran tokoh tersebut. Sayangnya, pada akhirnya Tulki terpaksa harus ‘dipulangkan’ ke tanah air karena terminate contract. Itu ketika Etik mulai kewalahan membagi waktunya antara kuliah dan seabreg kegiatan lain setelah beberapa lama kembali ke tanah air.
Dalam perbincangan kami di salah satu sudut food court di Matos, saya melihat Etik sebagai sosok dengan kepribadian yang kuat. Bahasanya lugas, dengan suara yang tegas dan penuh percaya diri. Pernyataan tentang lekatnya hari-hari dia dengan literasi begitu kental. Salah satu temannya di penampungan PJTKI di Singosari memiliki kesan tentang itu. “Yang paling saya ingat tentang Etik, tidak satu haripun terlewat tanpa membaca,” begitu tiru Etik. Diakuinya sendiri, segala jenis yang mengandung tulisan akan dia baca. Apakah itu koran bekas pembungkus ataukah brosur dan pengumuman.
Terlebih lagi, buku memang menjadi sahabat Etik sejak kecil. Etik mengisahkan kenakalannya ‘mencuri’ buku perpustakaan di SD dekat rumahnya. Dia mengambil buku hampir tiap hari untuk dibaca. Diam-diam pula dia kembalikan setelah selesai, untuk kemudian mengambil buku yang lain. Sampai kemudian dia marah ketika semua buku di rak perpustakaan sudah habis dia baca. Kecintaaannya pada buku dan bahasa itu pulalah yang membawa dia pada keputusan untuk bersekolah di SMA Talun Blitar. Hanya sekolah ini yang saat itu mempunyai jurusan Bahasa.
Dalam hal kesempatan membaca, Etik melihat dirinya sebagai BMI yang amat beruntung. Tugas dia sebagai aged carer saat bekerja di Singapura boleh dikata cukup ringan. Koran dan majalah berbahasa Inggris dia baca, bahkan ketika majikannya belum menyentuhnya. Kemudian itu menjadi tugasnya, menceritakan isi berita kepada majikannya.
Tidak seperti kebanyakan BMI di Hong Kong, Etik hanya mengandalkan bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi. Ini dia lakoni baik di kontrak pertama dengan majikan orang Hong Kong, maupun di kontrak kedua, dengan majikan orang bule. Selama itu pula Etik bisa menikmati me-time yang cukup leluasa. Bahkan majikannyalah yang menyarankan Etik untuk memanfaatkan hari liburnya di public library. Itupun akhirnya dirasa Etik tidak cukup memuaskan hobi membacanya. Saat belanja di hari kerja, dia suka mencuri waktu mampir ke perpustakaan. Novel-novel Inggris menjadi salah satu jenis bacaan yang dilalapnya.
Keterpaparannya terhadap karya sastra asing ini pulalah yang mengajarkan Etik menulis dengan bahasa lugas. Menyebut Hemingway sebagai salah satu contohnya, Etik tidak terlalu suka dengan bahasa yang flowering. Maka ketika cerpen “Bukan Yem” menjadi polemik, dia cukup memahami bahwa sebagian sastrawan Indonesia masih mengedepankan permainan kata-kata sebagai tolok ukur kualitas tulisan.
Etik termasuk salah satu BMI yang cukup sering menjadi jujugan peneliti asing. Interaksi keilmuan ini berlangsung baik ketika Etik masih berada di Hong Kong, maupun ketika sudah kembali ke tanah air. Prof. Ming-Yan Lai, seorang pakar Cultural Studies dari Chinese University of Hong Kong, adalah salah satu scholar yang menggali profil Etik dalam kegiatannya di dunia perburuhan. Bukan sebuah kebetulan ketika Etik menyebut nama Prof. Lai. Saya menggunakan beberapa artikelnya sebagai referensi saya. Saya bahkan ingin menemuinya saat ke Hong Kong nanti. Sayangnya, Prof. Lai sudah meninggalkan perguruan tinggi tersebut, dan tidak memberikan alamat terbarunya kepada koleganya.
Etik memandang penulisan kreatif sebagai proses belajar yang tidak instant. Menengok dirinya sendiri, Etik melihat bahwa tulisan-tulisannya dibentuk dari kesukaannya membaca, bahkan ketika dia sendiri tidak sadar bahwa dia cinta pada dunia buku. Lebih dari itu, Etik menyebut menulis sebagai katarsis. Meski tidak mengalami sendiri, cerita-cerita miris berkelebat di sekitarnya, di antara hari-hari teman-temannya. Kalau dikatakan balas dendam, tulisannya adalah bentuk resistansi atas kondisi yang dialami sebagian besar BMI.
Menyoal tentang keberadaannya di dunia sastra, Etik tidak terlalu sepakat dengan sebutan sastra BMI. Apakah tulisannya dan teman-teman BMI lainnya digolongkan sebagai sastra BMI karena mereka adalah pelaku, ataukah karena isunya tentang BMI. Etik juga mempertanyakan, apabila dia terus menulis tentang BMI pada saat dia tidak lagi bekerja di luar negeri, apakah karyanya tidak lagi dimasukkan dalam kategori itu. Siapapun bisa menulis tanpa harus terjebak dalam kategorisasi, karena sastra harusnya membebaskan.
Meski begitu, Etik cenderung tidak terlalu mempersoalkan cara pembaca meresepsi karya-karyanya. Sikapnya sedikit cuek ketika saya beritahu bahwa cerpen tentang celana dalam kemungkinan besar dijiplak oleh penulis sesama BMI dari Taiwan. Ada cerpen dengan alur praktis sama dan judul senada diterbitkan pada tahun 2010. Dia sudah mendengar isu ini baru-baru ini juga dari teman lain, dan komentarnya, “karepmu.” Dia melihat ini sebagai satu apresiasi juga.
Etik bahkan merelakan ketika cek yang dia terima dari ijin penterjemahan “Bukan Yem” ke dalam Bahasa Inggris ternyata tidak bisa dicairkan. Pasalnya, cek tersebut menggunakan nama penanya, Etik Juwita. Meski jengkel juga pada awalnya, Etik menceritakan ini sambil ngakak saja. “Cek-e malah tak laminating, bu. Tak jadikan pembatas buku.”
Dua jam dengan Etik Juwita adalah menit-menit yang bernas. Sarat dengan kalimat cerdas dan pemahaman yang cukup dalam tentang dunia penulisan kreatif. Dengan pencapaian seperti itu, saya pribadi ingin melihat nama Etik Juwita tetap berkibar di dunia sastra Indonesia. Saya bahkan melihat potensi karya Etik sebagai salah satu representasi Indonesia di kancah sastra dunia, atau setidaknya di Asia. Ketika sebuah karya sudah menyebar dalam versi bahasa Inggris, maka kaburlah batas negara dalam dunia kata.
Subscribe to:
Posts (Atom)