Selamat pagi teman-teman, semoga sehat semuanya dan tetap produktif di dunia masing-masing ya. Saya sudah kembali ke rutinitas. Kembali ke Melbourne, artinya kembali melakoni peran ganda, mahasiswa PhD dan ibu. Kembali jauh dari suami di Surabaya. Yang lama ya kembali masak, bersih-bersih rumah, dan laundry. Yang baru, Adzra dan Ganta sudah mulai masuk sekolah. Ganta sudah masuk sejak hari Kamis kemarin dan memulai Year 11-nya. Sementara itu, Adzra sudah jadi 'a big girl' di Prep Year-Moreland Primary School. Hari Jum'at, 1 Februari kemarin adalah hari pertamanya.
Menyenangkan menikmati hari-hari pertama anak-anak bersekolah. Adzra excited dengan seragam barunya, baju terusan kotak-kotak biru putih, dipadukan dengan legging hitam dan kaos lengan panjang putih, plus jilbab biru muda. Seragamnya sih sebenarnya cuma yang kotak-kotak, yang lain terserah, asalkan matching.
Adzra dan Aelifya, sahabatnya sejak di Kindergarten
Pas hari pertama Jumat kemarin, saya dan ortu lain ikut menunggui selama 10 menit. Anak-anak duduk di karpet, mendengarkan guru-gurunya, dan ortu berdiri di sekelilingnya. Saya berdiri agak di belakang, sengaja sedikit menjauh dari Adzra, yang memang sudah mandiri sejak di Play Group di Surabaya dulu. Gurunya, Kerry, membuka kelas dengan sapaan, dan meminta anak-anak mendengarkan nada di piano yang dimainkan guru lain, Ben.
"Does anybody know what song Ben is playing?"
Anak-anak menyimak intro-nya, dan tiba-tiba terdengar salah satu anak berteriak, "Wheels on the bus."
Weleh, ternyata suara nyaring itu berasal dari anak berjilbab biru muda. Adzra. Saya tertawa geli. Lagu itu sudah lanyah dia nyanyikan dari salah satu Ipad application. Pantesan dia hafal musiknya. Serentak anak-anak berdiri dan bernyanyi bersama.
Sampai hari ketiga tadi pagi, alhamdulillah Adzra selalu ceria dan banyak cerita setiap kali saya tanya, "how was school today?" Jawabannya selalu "good" dan diikuti dengan detil cerita, campuran bhs Inggris dan Indonesia. Tadi sengaja saya lepas sendiri masuk kelas, tapi kemudian saya tengok apakah sudah bisa menaruh tasnya di locker-nya sendiri. Ternyata semua lancar.
Tadi malam, pas main Ipad dengan Ganta, Adzra mengajari masnya tentang sharing. "Gini lho, habis aku, terus mas, terus my turn, terus mas lagi." Ternyata siang kemarin anak-anak Prep sudah mulai pegang Ipad di sekolah. Adzra share dengan Ken, anak Indonesia juga. Ganta saya ingatkan, "tuh, adike sedang menerapkan budi pekerti. Ayo kamu ikuti saran adike."
Ganta sendiri juga enjoy dengan subject yang dia ambil. Mulai year 11, dia sudah ambil VCE sebanyak 6 subjects yang dia minati. ESL adalah wajib, dan isinya kebanyakan ya bau sastra pop. 5 lainnya pilihan, dan Ganta memilih Music, Media, Psychology, IT, dan Biology. Senang mendengar cerita dia menikmati kelas Media. Ndilalah sama dengan yang saya tekuni sekarang. Membahas image representation, kelasnya diminta menggambarkan happiness menurut persepsi masing-masing, dan diminta menjelaskan mengapa tiap orang punya cara berbeda dalam mengartikan happiness. Ganta misalnya, menggambar anak kecil yang memegang lollipop. Mereka juga belajar memaknai colour berdasarkan konotasi individu maupun kultural. Kata Ganta, "nek sekolah nang Indonesia ngene lak enak yo."
Saya sendiri belum penuh kembali ke tugas utama saya. Sedikit-sedikit curi waktu me-time seperti sekarang, sambil menunggu jam menjemput Adzra jam 1 nanti. Seminggu ini Adzra memang masih masuk setengah hari, jadi saya juga belum nongol ke kampus. Kerja dari rumah saja dulu, disambil masak soto ayam hari ini.
Memang sudah banyak tugas menanti, tapi masih bisa diatur. Yang penting supervisor sudah saya lapori perkembangan tesis saya. Annual progress report juga baru saja saya submit secara online di sistem kampus. Untuk sementara, anak-anak menjadi prioritas, agar adaptasi di sekolah berjalan lancar. Semoga minggu depan sudah mulai pindah persneling dan injak pedal gas.
Each and every minute counts if you always try to look around and see that even a falling leaf or a small drop of rain means something. But its meaning may fade quickly, unless you make an effort to keep the track.
Monday, February 04, 2013
Saturday, January 26, 2013
MENGENTAS KEMISKINAN MELALUI PENDIDIKAN: SEBUAH RESEPSI FILM HONG KONG HELPER NGAMPUS
Jumat pagi yang lalu saya menerima kiriman CD film Hong Kong Helper Ngampus (HHN) dari Ani
Ema Susanti. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya,
Ani adalah mantan buruh migran yang sukses menyelesaikan kuliahnya di bidang
psikologi. Saat ini Ani lebih menekuni bidang penyutradaraan film.
Film HHN sendiri adalah film dokumenter pertama Ani. Digarap
bersama dengan rekannya, Yuni Dhevie Hapsari, HHN menjadi finalis dalam Eagle Award 2007
yang diadakan Metro TV.
HHN yang berdurasi sekitar 17 menit ini berkisah tentang dua
mantan TKW Hong Kong. Subiantini bekerja di HK selama 8 tahun, sedangkan Acik
Saadah hanya bekerja selama 1 tahun 4 bulan. Tidak sampai finish kontrak. Dari hasil kerjanya , Tini memiliki cukup dana
untuk membayar hutang orang-tua dan membeli sawah, sedangkan Acik hanya
memegang cukup uang untuk membantu pengobatan ibunya dan membayar hutang
bapaknya. Dengan sisa dana terbatas dan dorongan orang-tua, Acik bertekad merealisasikan
cita-citanya kuliah di perguruan tinggi.
Sebagai media yang tidak terlalu panjang, HHN cukup utuh memotret
lika-liku TKW dari sudut pandang yang berbeda. Dari kacamata Tini dan Acik
misalnya, penonton disuguhi persepsi bahwa TKW bukanlah pekerjaan yang memiliki
martabat tinggi di mata masyarakat.
“Tahu sendirilah apa pekerjaan TKW. Tidak seperti guru yang
sangat dihormati, TKW atau petani itu sama, kayak orang biasa,” begitu
penuturan Acik.
Meski demikian, Tini menganggap bahwa pekerjaan TKW memberi
penghidupan bagi orang lain yang merasa lebih tinggi statusnya. Itu dia
ungkapkan ketika seorang pengusaha PJTKI (sekarang PPTKIS) merendahkannya.” Kamu
tahu nggak, kamu itu cuman babu.” begitu tirunya. Tini menimpali perlakuan itu
dengan cerdas, “Lho, bapak ini jangan seenaknya menghina babu, bapak ini bisa
makan juga dari babu.”
HHN juga tak lupa mengambil sudut pandang pengusaha PJTKI.
Situasi Balai Latihan Kerja milik PJTKI, di mana calon TKW yang belajar tentang
pengasuhan anak, belajar bahasa, dan saat proses pemberangkatan menjadi bagian
beberapa scene. Pelatihan seperti ini
diperlukan untuk menyiapkan calon TKW dengan kompetensi yang diperlukan sesuai
kontrak kerja. Pak Welem, sang pengusaha, mengatakan bahwa dia dan beberapa
koleganya juga menerapkan strategi pelatihan yang sama untuk pembekalan. “Saya
berharap sebagai pengusaha, mereka tidak hanya berorientasi pada keuntungan.
Namun juga ada pertimbangan kemanusiaan dan kepentingan sosial. Itu harusnya
jadi tujuan utama”
Potret pelatihan ini mengingatkan saya pada suasana balai
latihan kerja di kawasan Gempol di Jawa Timur. Sehari sebelum saya terbang ke
Hong Kong pada awal Januari 2013 yang lalu, saya mendapat ijin untuk melihat
sendiri kondisinya yang bersih dan cukup nyaman. Ada ruang pelatihan bahasa,
pengasuhan anak, perawatan orang-tua, dapur, ruang makan untuk praktek
penyajian makanan, dan mesin cuci berbagai model. Salah seorang managernya,
sebut saja Bu Puji, menyatakan bahwa sebelum kontrak kerja turun, semua calon
TKW memperoleh semua jenis pelatihan. Begitu kontrak kerja turun, mereka akan
dilatih lebih khusus sesuai dengan jenis pekerjaan yang tercantum di kontrak
kerja. Bu Puji sempat bercerita bahwa di kalangan PPTKIS memang ada pengusaha
yang cenderung profit-oriented. Bu
Puji malah mengaku bahwa dia bisa hidup dari para TKW juga. Itu sebabnya secara
pribadi, sebutan TKW atau buruh justru kurang dia sukai. Bu Puji lebih suka
menyebutkan mereka siswi Hong Kong atau Taiwan, bergantung pada negara yang
akan dituju. Setidaknya kode etik ini yang dia coba terapkan di antara para
stafnya.
Dengan judul HHN, sosok Acik memang menjadi sorotan film
ini. Meski tidak sampai menyelesaikan kontraknya, gara-gara majikannya dipecat
dan tidak mampu lagi membayar gaji, Acik tetap mempertahankan keinginannya
kuliah. Acik mengingat kembali masa-masa di mana dia selalu merasa minder bila
melihat sosok mahasiswa. Di matanya, mahasiswa adalah figur yang cerdas. Keinginan
ini tersampaikan ketika dia bisa duduk di bangku kuliah di Fakultas Tarbiyah di
salah satu universitas Islam swasta di Jawa Timur. Sambil kuliah, dia juga
mengajar SD di desanya di Jombang. Status guru di desa amat dihargai, dan ini
memberikannya identitas diri yang lebih berdaya. “Bila saya jadi TKW lagi, maka
selamanya ya akan tetap jadi TKW. Beda dengan kalau saya kuliah.” Dengan
memperoleh ilmu dari bangku kuliah, Acik melihat masa depan yang lebih cerah.
Dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, dan tidak perlu menjadi TKW
lagi. “Orang jadi TKW itu kan karena tidak ada lapangan pekerjaan di
Indonesia.”
Sebagai sebuah film dokumenter, HHN cukup berhasil mengajak
pemirsanya mengubah persepsi bahwa buruh migran adalah sosok yang tidak berdaya.
Acik sendiri menuturkan bahwa teman-teman
kuliahnya tahu statusnya sebagai mantan TKW. Bagi mereka, tidak ada masalah
dengan pekerjaan itu. Bahkan ketika mereka tahu bahwa Acik menggunakan hasil
kerjanya untuk membiayai kuliahnya dan adiknya, mereka sangat mengapresiasi
tekad dan semangat Acik. Sementara itu,
Tini bertekad mengupayakan agar anaknya yang berusia balita nanti dapat
mengenyam pendidikan tinggi, agar tidak bernasib sama seperti orang-tuanya.
Kalau untuk itu dia harus berangkat lagi menjadi TKW, asalkan suaminya
mengijinkan, dia mungkin akan berangkat lagi.
Pemberdayaan masyarakat membutuhkan banyak pihak untuk
berperan sebagai katalisator. Tentunya diperlukan peran PPTKIS yang
berorientasi kemanusiaan dan pemberdayaan perempuan. PPTKIS yang mau membuka
diri terhadap kalangan di luar, agar mereka juga bisa menjalankan perannya
dengan baik. Dalam hal ini, Ani, sang sutradara, menilik pengusaha PJTKI yang
membuka pintu perusahaannya menjadi tempat shooting.
Sang pengusaha ini akhirnya malah mengajak Ani untuk terlibat dalam pembekalan
calon TKW. Film HHN menjadi andalan Ani sebagai media informasi. Atas ijin Ani,
saya sendiri berharap bisa memberikan copy
CD film ini ke kalangan PPTKIS, bila mereka tertarik menggunakannya untuk
pembekalan. Berangkat ke luar negeri dengan misi jelas akan menjadi suntikan
semangat luar biasa bagi para calon TKW.
Di mata saya, Acik mewakili suara Ani sendiri. Sebagai
mantan BMI yang berhasil lulus kuliah, Ani (dan Acik) menorehkan harapan bagi
teman-temannya yang masih bekerja di Hong Kong atau negara lain, dan juga para
calon TKW yang berada di pembekalan. “Janganlah menyia-nyiakan kerja kerasmu. Kalau
kamu punya impian, apapun itu, kejarlah sampai dapat. Setiap orang yang mau
berusaha, pasti bisa.”
Ani, Acik, dan banyak mantan buruh migran yang sudah membuktikannya.
Sebagaimana pernyataan di awal film, “Bye
bye Hong Kong, I'm a teacher now.”
Tuesday, January 22, 2013
KETIKA BADAN MENUNTUT PERHATIAN
Hari-hari ini saya lagi diuji dalam urusan kesehatan. Ndilalah kersaning Allah, urusannya hampir selalu dengan organ reproduksi.
Entah saya yang ndableg atau gimana, sebenarnya sejak di Hong Kong sudah ada tanda-tandanya. Tapi mungkin karena lagi enjoy cari data sambil jalan-jalan (tepatnya, jalan-jalan plus cari data), saya anggap normal saja seperti beberapa bulan sebelumnya.
Ketika sudah sampai rumah Selasa malam yang lalu, mulailah rasa capek nglumpuk. Ngantuk terus tiap hari. Saya pikir karena kelelahan aja. Plus kangen bertepuk sebelah tangan. Maklum, setelah menjemput saya di Juanda, Rabu pagi giliran suami berangkat ke Jakarta, dan sorenya malah sms mau bablas ke KL. Ampun deh. Pergi kok gantian.
Masih dengan gaya sok sehat, saya buat janji ABCD dengan beberapa teman. Karena yakin tidak akan stabil naik sepeda motor, maka anak lanang lah yang jadi pegang kendali. "Untung ibu duwe anak wis gede," gitu kata Ganta, saat mengantar saya ke Ketintang kemarin siang.
Menjelang sore, badan semakin oleng. Saya putuskan ke dr. Warsanto, dokter kandungan (obgyn) yang menangani saya sejak Adzra belum lahir. Weleh, ternyata malam itu dia tidak praktik. Ganta saya minta mengarahkan sepeda motor ke RKZ saja, cari dokter lain di klinik praktik bersama.
Setelah antri berjam-jam, akhirnya giliran saya datang juga, lewat pukul 9 malam. Diperiksa rada kilat tapi sampai ke bagian dalam, dr. Maurin bilang, "ibu rawat inap aja ya. Itu pucat kayak gitu. Cek lab untuk lihat Hb-nya. Siapa tahu harus transfusi. Habis itu dikuret.
Saya tidak kaget dengan solusi kuret. Sejak Juli tahun lalu sebenarnya saya menunggu tindakan di Royal Women's Hospital di Melbourne. Tapi karena dianggap bukan life-threatening situation (meski Hb juga pernah turun karena penyebab yang sama), saya tidak juga dijadwalkan mendapatkan tindakan sampai balik ke Surabaya awal Desember lalu.
Entah dokter Indonesia yang suka buat pasien panik atau standar pelayanan Australia yang prosedural, yang jelas saya bingung karena suami masih dalam perjalanan balik ke Surabaya. BBM saya tidak kunjung dibalas. Ya lah, wong lagi di udara. Saya putuskan pulang aja, sambil minta rujukan ke lab dan minta resep obat penambah zat besi. Ini penanganan yang saya dapatkan saat di Melbourne. Eh, dokternya menolak. "Percuma bu dengan kondisi kayak gitu sebaiknya transfusi aja." Ya sudah, saya balik saja besok pagi.
Suami datang lewat tengah malam, dan saya terlalu ngantuk plus lemas untuk bercerita sampai detil. Alhasil agenda dia keesokan hari untuk memberikan pelatihan tidak mungkin saya minta untuk batalkan. Ganta lagi yang jadi andalan saya untuk antar ke lab di RKZ. Bahkan saya sudah siap dengan backpack berisi baju, just in case.
Benar perkiraan dr. Maurin. HB saya memang agak jauh di bawah rata-rata. Sambil ngeloyor ke UGD, masih dengan jalan tegak dan suara cukup lantang, saya update info ke suami. Ganta mengikuti ke manapun saya jalan sambil membawa backpack. Suamipun langsung tancap gas meluncur ke UGD, sambil berpesan untuk minta ditangani dr. Warsanto saja.
Jadilah saya pasien UGD. Saya masih bercerita runtut tentang rekam medik saya sambil duduk di tempat tidur. Sampai-sampai perawatnya minta saya untuk tidur saja, sambil ngomong bisa sekalian diperiksa. Hihihi, saya kok tidak merasa bahwa di balik kelambu, di kiri kanan saya ada pasien yang perlu ketenangan.
Sebentar kemudian wajah mas Prapto muncul dari balik kelambu. Jadilah saya ditemani dua orang lelaki paling cerewet dengan kondisi saya. Tapi kali ini mas Prapto cuma senyam-senyum.
"Wis itu Gan, ibumu kasih tahu. Ayah wis kesel bilang agar lebih banyak istirahat. Tapi nek suarane sik banter iku ibu sik sehat kok."
Saya mesem aja. Dia ada di samping saya, artinya separuh obatnya sudah datang.
Urusan diambil alih oleh mas Prapto. Memastikan dr. Warsanto sudah dihubungi. Tak sampai 15 menit saya berbaring, dokter jaga menyampaikan bahwa dr. Warsanto memberikan resep saja. Tak perlu rawat inap, karena tensi darah masih bagus. Obatnya untuk menghentikan pendarahan dalam. Sambil dilihat perkembangan dalam 2 hari ke depan.
Alhamdulillah, saya menjerit kecil sambil mengepalkan tangan kegirangan. Mas Prapto membawa saya pulang, dan kami ngobrol santai dan banyak tawa dalam perjalanan. Tentang Ganta yang sudah punya tanggung-jawab. Tentang hari-harinya saat kami berjauhan selama lebih dari 2 minggu. Saya bilang padanya, mengapa saat dia ada, penyakit saya seperti diangkat saja. Selama saya di rumah, kondisi saya baik sekali. Begitu berangkat ke HK, ada tanda-tanda kambuh lagi. Seperti biasa, dia selalu bilang bahwa saya suka aneh-aneh dengan bahasa sentimentil. Biar saja, saya tahu bahwa sebenarnya dia menikmatinya.
Saya tahu bahwa saya tetap harus kuret. Penebalan dinding rahim secara hormonal yang sudah terdeteksi sejak Juli yang lalu memang harus ditangani seperti itu. Pilihan saya adalah mau tindakan di Aussie atau di sini. Di Aussie, meski akan gratis dan ditangani dengan baik, tapi belum tahu kapan. Sementara kemungkinan kambuh akan selalu ada. Selain itu, saya harus mempertimbangkan Ganta dan Adzra. Saya akan sendirian menghadapi semuanya, meski saya tahu teman-teman saya pasti dengan senang hati mengurus anak-anak untuk sementara waktu. Mas Prapto yang pragmatis tidak mau spekulasi. Sebelum balik ke Melbourne, lebih baik ditangani segera di sini. Toh dr. Warsanto sudah tahu riwayat saya selama 8 tahun terakhir.
Saya sih nurut saja. Lebih enak pas ada suami mendampingi. Saya paham juga bahwa kondisi pekerjaan memang belum memungkinkan kami bersama-sama dalam waktu yang lebih lama.
Mengapa saya bercerita tentang kondisi saya? Saya percaya bahwa banyak perempuan (dan suami yang punya istri dan anak perempuan) bisa mengambil beberapa catatan. Pengalaman adik saya yang meninggal karena kanker payudara tanpa diketahui keluarga terdekat membuat saya semakin bertekad agar para perempuan saling menguatkan diri dengan berbagi kisah tentang kesehatan. Bukan untuk dikasihani. Tapi agar bisa saling belajar dan memberi solusi alternatif. Setidaknya, itu yang saya lakukan saat saya dioperasi di Texas 10 tahun yang lalu. Sendirian menghadapi kondisi darurat. Pertemanan saya di milis IMSA sisters untuk Indonesian female students/spouses lah yang menguatkan saya. Tidak hanya dukungan moral, namun ternyata sharing pengalaman senada dan bahkan advis kesehatan. Sebagian anggota milis memang dokter.
Mata boleh sayu karena anemia. Badan bisa saja lemes perlu asupan zat besi. Tapi hati tetap semangat menatap hari-hari menjelang. Menulis (semoga) menyembuhkan.
Entah saya yang ndableg atau gimana, sebenarnya sejak di Hong Kong sudah ada tanda-tandanya. Tapi mungkin karena lagi enjoy cari data sambil jalan-jalan (tepatnya, jalan-jalan plus cari data), saya anggap normal saja seperti beberapa bulan sebelumnya.
Ketika sudah sampai rumah Selasa malam yang lalu, mulailah rasa capek nglumpuk. Ngantuk terus tiap hari. Saya pikir karena kelelahan aja. Plus kangen bertepuk sebelah tangan. Maklum, setelah menjemput saya di Juanda, Rabu pagi giliran suami berangkat ke Jakarta, dan sorenya malah sms mau bablas ke KL. Ampun deh. Pergi kok gantian.
Masih dengan gaya sok sehat, saya buat janji ABCD dengan beberapa teman. Karena yakin tidak akan stabil naik sepeda motor, maka anak lanang lah yang jadi pegang kendali. "Untung ibu duwe anak wis gede," gitu kata Ganta, saat mengantar saya ke Ketintang kemarin siang.
Menjelang sore, badan semakin oleng. Saya putuskan ke dr. Warsanto, dokter kandungan (obgyn) yang menangani saya sejak Adzra belum lahir. Weleh, ternyata malam itu dia tidak praktik. Ganta saya minta mengarahkan sepeda motor ke RKZ saja, cari dokter lain di klinik praktik bersama.
Setelah antri berjam-jam, akhirnya giliran saya datang juga, lewat pukul 9 malam. Diperiksa rada kilat tapi sampai ke bagian dalam, dr. Maurin bilang, "ibu rawat inap aja ya. Itu pucat kayak gitu. Cek lab untuk lihat Hb-nya. Siapa tahu harus transfusi. Habis itu dikuret.
Saya tidak kaget dengan solusi kuret. Sejak Juli tahun lalu sebenarnya saya menunggu tindakan di Royal Women's Hospital di Melbourne. Tapi karena dianggap bukan life-threatening situation (meski Hb juga pernah turun karena penyebab yang sama), saya tidak juga dijadwalkan mendapatkan tindakan sampai balik ke Surabaya awal Desember lalu.
Entah dokter Indonesia yang suka buat pasien panik atau standar pelayanan Australia yang prosedural, yang jelas saya bingung karena suami masih dalam perjalanan balik ke Surabaya. BBM saya tidak kunjung dibalas. Ya lah, wong lagi di udara. Saya putuskan pulang aja, sambil minta rujukan ke lab dan minta resep obat penambah zat besi. Ini penanganan yang saya dapatkan saat di Melbourne. Eh, dokternya menolak. "Percuma bu dengan kondisi kayak gitu sebaiknya transfusi aja." Ya sudah, saya balik saja besok pagi.
Suami datang lewat tengah malam, dan saya terlalu ngantuk plus lemas untuk bercerita sampai detil. Alhasil agenda dia keesokan hari untuk memberikan pelatihan tidak mungkin saya minta untuk batalkan. Ganta lagi yang jadi andalan saya untuk antar ke lab di RKZ. Bahkan saya sudah siap dengan backpack berisi baju, just in case.
Benar perkiraan dr. Maurin. HB saya memang agak jauh di bawah rata-rata. Sambil ngeloyor ke UGD, masih dengan jalan tegak dan suara cukup lantang, saya update info ke suami. Ganta mengikuti ke manapun saya jalan sambil membawa backpack. Suamipun langsung tancap gas meluncur ke UGD, sambil berpesan untuk minta ditangani dr. Warsanto saja.
Jadilah saya pasien UGD. Saya masih bercerita runtut tentang rekam medik saya sambil duduk di tempat tidur. Sampai-sampai perawatnya minta saya untuk tidur saja, sambil ngomong bisa sekalian diperiksa. Hihihi, saya kok tidak merasa bahwa di balik kelambu, di kiri kanan saya ada pasien yang perlu ketenangan.
Sebentar kemudian wajah mas Prapto muncul dari balik kelambu. Jadilah saya ditemani dua orang lelaki paling cerewet dengan kondisi saya. Tapi kali ini mas Prapto cuma senyam-senyum.
"Wis itu Gan, ibumu kasih tahu. Ayah wis kesel bilang agar lebih banyak istirahat. Tapi nek suarane sik banter iku ibu sik sehat kok."
Saya mesem aja. Dia ada di samping saya, artinya separuh obatnya sudah datang.
Urusan diambil alih oleh mas Prapto. Memastikan dr. Warsanto sudah dihubungi. Tak sampai 15 menit saya berbaring, dokter jaga menyampaikan bahwa dr. Warsanto memberikan resep saja. Tak perlu rawat inap, karena tensi darah masih bagus. Obatnya untuk menghentikan pendarahan dalam. Sambil dilihat perkembangan dalam 2 hari ke depan.
Alhamdulillah, saya menjerit kecil sambil mengepalkan tangan kegirangan. Mas Prapto membawa saya pulang, dan kami ngobrol santai dan banyak tawa dalam perjalanan. Tentang Ganta yang sudah punya tanggung-jawab. Tentang hari-harinya saat kami berjauhan selama lebih dari 2 minggu. Saya bilang padanya, mengapa saat dia ada, penyakit saya seperti diangkat saja. Selama saya di rumah, kondisi saya baik sekali. Begitu berangkat ke HK, ada tanda-tanda kambuh lagi. Seperti biasa, dia selalu bilang bahwa saya suka aneh-aneh dengan bahasa sentimentil. Biar saja, saya tahu bahwa sebenarnya dia menikmatinya.
Saya tahu bahwa saya tetap harus kuret. Penebalan dinding rahim secara hormonal yang sudah terdeteksi sejak Juli yang lalu memang harus ditangani seperti itu. Pilihan saya adalah mau tindakan di Aussie atau di sini. Di Aussie, meski akan gratis dan ditangani dengan baik, tapi belum tahu kapan. Sementara kemungkinan kambuh akan selalu ada. Selain itu, saya harus mempertimbangkan Ganta dan Adzra. Saya akan sendirian menghadapi semuanya, meski saya tahu teman-teman saya pasti dengan senang hati mengurus anak-anak untuk sementara waktu. Mas Prapto yang pragmatis tidak mau spekulasi. Sebelum balik ke Melbourne, lebih baik ditangani segera di sini. Toh dr. Warsanto sudah tahu riwayat saya selama 8 tahun terakhir.
Saya sih nurut saja. Lebih enak pas ada suami mendampingi. Saya paham juga bahwa kondisi pekerjaan memang belum memungkinkan kami bersama-sama dalam waktu yang lebih lama.
Mengapa saya bercerita tentang kondisi saya? Saya percaya bahwa banyak perempuan (dan suami yang punya istri dan anak perempuan) bisa mengambil beberapa catatan. Pengalaman adik saya yang meninggal karena kanker payudara tanpa diketahui keluarga terdekat membuat saya semakin bertekad agar para perempuan saling menguatkan diri dengan berbagi kisah tentang kesehatan. Bukan untuk dikasihani. Tapi agar bisa saling belajar dan memberi solusi alternatif. Setidaknya, itu yang saya lakukan saat saya dioperasi di Texas 10 tahun yang lalu. Sendirian menghadapi kondisi darurat. Pertemanan saya di milis IMSA sisters untuk Indonesian female students/spouses lah yang menguatkan saya. Tidak hanya dukungan moral, namun ternyata sharing pengalaman senada dan bahkan advis kesehatan. Sebagian anggota milis memang dokter.
Mata boleh sayu karena anemia. Badan bisa saja lemes perlu asupan zat besi. Tapi hati tetap semangat menatap hari-hari menjelang. Menulis (semoga) menyembuhkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
