Sunday, September 11, 2011

MENJELANG KEBERANGKATAN

Selasa, 6 September 2011

Pagi ini aku ingin menghabiskan waktuku dengan anak-anak. Namanya juga hari terakhir, maunya ingin membisikkan pesan-pesan, nasehat-nasehat buat anak-anak dan mbak-nya di rumah, sambil meneruskan packing yang rasanya gak selesai-selesai. Ganta menemaniku sambil tiduran di kasur. Ini membuatku merasa nyaman. Terlebih lagi ketika dia tanya-tanya tentang sekolah di sana, tentang kemungkinan punya teman-teman sebaya dari Indonesia buat dia, keuntungannya kalau jadi ikut sekolah. Kujawab sebaik-baiknya, tanpa nada memaksa. Biarlah dia yang nantinya menetapkan hati, tugasku dan suami adalah berusaha ikhtiar dengan mengurus semua dokumen buat keluarga ikut nantinya.

Di tengah-tengah nyantai, packing, dan ngobrol dengan Adzra, di luar rumah terdengar deru beberapa sepeda motor berhenti di depan rumah. Ternyata 20-an mahasiswa sastra Inggris 2008 nggruduk dolan ke rumah. Meski mereka sudah bilang akan mampir, aku kaget campur senang juga didatangi anak-anak sebanyak itu. Ruang tamu segera diubah jadi lesehan, kue-kue lebaran kukeluarkan semua, dan langsung diserbu anak-anak. Ini terasa jadi the second 'farewel gathering' buat aku, setelah copy darat dengan teman-teman Ganesis di rumah mbak Sirikit. Kami ngobrol seru, tentang persiapan skripsi buat mereka, cara dapat beasiswa, dan curhat-curhat urusan kampus yang tidak pernah ada habisnya. Setelah 'perkuliahan 2 sks,' merekapun pamit pulang, seraya mendoakan aku supaya lancar dalam perjalanan, dan juga minta tetap bisa 'ngganggu' aku di dunia maya nanti.

Menjelang sore, ibu bapakku datang, dan nantinya akan ikut mengantar aku ke airport. Sama seperti ketika aku berangkat ke Amerika tahun 2002 dulu, ibu bapakku selalu hadir memberi restu dan dukungan. Sebentar kemudian, mas Prapto pulang dari kantor. Hal pertama yang dia lakukan adalah melakukan 'inspeksi' packing-ku, dan seperti sudah kuduga, dia menjadi 'cerewet' dengan cara penempatan yang kurang ringkes dan ribet. Mungkin sudah hapal dengan kebiasaanku yang suka lupa dan ceroboh menaruh barang, maka travel documents dan barang-barang penting yang kuperlukan selama perjalanan segera dia pindahkan dari tas jinjingku yang agak besar ke tas kecil yang biasanya dia pakai kerja. Hah, aku tahu dia cinta tas Mont Blanc-nya, tapi aku diam saja sambil senyum-senyum. Tas jinjingku berpindah ke koper. Benar juga, jadi lebih ringkes. 2 koper yang akan masuk bagasi, dan backpack isi laptop serta tas kecil isi travel documents, dompet, dan obat-obatan ringan. Urusan packing memang dia jagonya, tapi selalu aku yang harus memulainya, dan tinggal dia yang membereskan bila kurang pas. Katanya, biar aku juga belajar packing yang nyaman. Ya wis nurut aja, sing penting enak, kataku.

Sekitar pukul 6 sore kami sudah sampai di bandara Juanda. Pesawatku terjadwal pukul 19.50 ke Denpasar, transit 2 jam, dan pukul 23.55 terbang ke Melbourne. Selama menunggu check-in,  kupeluk terus Adzra, kubisikkan lagi pesan-pesan buat Ganta. Rasanya menit-menit ini menjadi sangat berarti. Kulirik ibu dan bapakku yang jadi ikut sentimentil. Juga Zubaidah, si mbak dari Madura yang setia ikut kami selama 2 tahun. Ganta dan Adzra kelihatan tetap riang, tapi ibunya yang tidak bisa nahan air mata. Mas Prapto, seperti biasa, tetap pragmatis. Dia beli beberapa donat dan minuman, dan memberiku beberapa ratus ribu rupiah buat airport tax dan makan selama di Denpasar. 'Aja lali makan, ben gak masuk angin. Wis gak ono sing ngeroki, lho. Hehe, dia tahu aku psikosomatis sejak 2 hari terakhir. Pusing, perut mules, dan kerokan sudah kurasakan sejak hari Minggu. 

Akhirnya detik perpisahan datang juga. Kuciumi dan kupeluk anak-anakku, kubacakan doa-doa di telinga mereka agar mereka tetap dilindungi Allah. Aku bersujud di lutut ibu dan bapakku, berharap doa restu dari mereka berdua, dan menitipkan anak-anak untuk dipantau. Aku rangkul pembantuku, yang dengan berkaca-kaca berpesan, "jaga kesehatan bu." Akhirnya, berlama-lama kusandarkan kepalaku di pelukan suamiku. Aku tidak bisa bilang apa-apa kecuali terima kasih atas dukungan dan restunya yang tidak pernah berhenti. Dia usap kepalaku, berpesan untuk jaga diri baik-baik, dan tidak usah mencemaskan anak-anak.

Time to go now. Kulambaikan tanganku buat suami, anak-anak, ibu bapak, dan si mbak. Diiringi doa mereka, semoga perjalanan lancar sampai tujuan. 

No comments: