Sunday, May 26, 2013

Towards a Literate Society

Tahukah beda antara masyarakat yang berbudaya lisan dan tulis? Walter Ong menuliskan dengan gamblang betapa jauhnya disparitas antara orality dan literacy dalam bukunya Orality and Literacy: The Technologizing of the World (1982).  Dalam masyarakat lisan, tidak ada istilah ungkapan seperti ‘coba dicek di buku,’ atau kalau dalam bahasa Inggris dengan idiom ‘look up something.’ Itu karena kata-kata memang tidak pernah divisualisasikan, dan hanya berupa bunyi. Dan karena hanya bunyi, maka akan cepat punah bila tidak dilestarikan. Kalaupun diabadikan, masyarakat lisan harus bergantung pada 'para tetua' yang dianggap lebih bijak dan berpengetahuan. 

Dalam masyarakat lisan, pemikiran (dalam bentuk tulisan) cenderung dianggap kurang penting, karena asumsi-asumsi sebagai berikut:

1.       Expression is additive rather than subordinative
Ekspresi dan pemikiran yang dituangkan dalam tulisan dianggap hanya tambahan saja, bukan subordinatif. Saya memaknainya sebagai cara berpikir di mana masyarakat lisan cenderung mengabaikan tulisan. Kalaupun ada, tidak terlalu dianggap keberadaannya, karena mereka lebih percaya ‘kata orang’ daripada ‘menurut buku.’ Sebaliknya, pemikiran yang subordinatif melihat tulisan sebagai rujukan yang diperlukan untuk memastikan kebenaran akan sesuatu.

2.       It is aggregative rather than analytic
Masyarakat lisan cenderung membawa kebenaran kolektif, apa kata kebanyakan orang, dan tidak membuka peluang untuk dikritisi. Itulah yang kemudian mengapa masyarakat lisan cenderung menjadi ‘follower,’ bukan ‘pioneer.’

3.       It tends to be redundant or "copious." 
Apa yang terungkap dari benak masyarakat lisan tidak terekam dalam teks, sehingga akan cenderung kabur dan gampang hilang. Teks itu sendiri berada ‘di luar’ benak, yang bisa senantiasa dirujuk bila pemikiran perlu dicek kembali kebenarannya. Teks yang dibaca akan membawa pikiran lebih lambat memproses informasi, dan memungkinkan masukkan pertanyaan-pertanyaan kritis.  Masyarakat lisan tidak memiliki ritual seperti ini.

4.       There is a tendency for it to be conservative
Pengetahuan yang tidak diulang-ulang akan mudah hilang, dan untuk itu, masyarakat lisan berupaya keras mengingatnya. Ini membawa konsekuensi cara yang konservatif, dengan mengandalkan ‘para tetua’ yang dianggap lebih bijak dan berilmu sebagai sumber informasi. Akibatnya adalah tertutupnya peluang ‘bereksperimen.’ Sementara itu, masyarakat tulis menempatkan ilmu keluar dari pikiran dan menuangkannya di teks, dan merevolusi anggapan bahwa yang senior adalah yang lebih paham. ‘Repeaters of the past’ digantikan perannya oleh mereka yang lebih muda dan berani berinovasi.

5.       Out of necessity, thought is conceptualized and then expressed with relatively close reference to the human lifeworld
Pemikiran yang dianggap tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata atau yang dialami langsung pada saat itu cenderung dianggap tidak bermanfaat. Barangkali ini alasannya mengapa dunia literasi (baca-tulis) dianggap tidak popular atau penting bagi sebagian orang-tua. Buku tidak membuat kenyang, dan tidak nampak hasilnya secara langsung.

6.       Expression is agonistic ally toned
Dalam masyarakat lisan, orang-orang yang ‘literate’ cenderung dianggap memicu perilaku agonistik. Perilaku ini lebih dari sekedar agresif, dan mengacu pada pergulatan dan persaingan. Jangan heran bila kemudian kita melihat reaksi masyarakat terhadap sebuah buku atau pemikiran yang controversial atau dianggap keluar dari pakem sosial. Tulisan tidak dilawan dengan tulisan tanding, namun dengan kebrutalan yang bahkan melibatkan konflik fisik.

7.       It is empathetic and participatory rather than objectively distanced
Dalam masyarakat lisan, pengetahuan baru dilihat sebagai sarana untuk identifikasi komunal dan menimbulkan kedekatan emosional. Sebaliknya, dalam masyarakat tulis, pemikiran yang didapat dari proses pembacaan memungkinkan mereka untuk mengambil jarak antara diri dengan pemikiran baru tersebut. Membaca pemikiran Karl Marx bukan berarti setuju dengan Marxisme. Namun bagi masyarakat lisan, mengenal pemikiran Karl Marx bisa dianggap sebagai pendukung komunisme.

8.       It is Homeostatic
Masyarakat lisan hidup pada jaman kekinian, dan mengambil makna ujaran atas dasar apa yang ditangkap pada saat itu. Sementara itu, tulisan tak lekang dimakan waktu, dan membuka peluang berlapis-lapis pemaknaan. Karena masyarakat lisan tidak memiliki kamus, maka makna sebuah kata atau konsep bergantung pada kondisi ‘sekarang dan di sini.’

9.        It is situational rather than abstract.
Tanpa tulisan, konsep pemikiran akan bergantung pada situasi di mana satu kejadian berlangsung.


Kita lihat sekarang betapa dahsyatnya kebodohan dan pembodohan berlangsung bila literasi tidak menjadi nafas masyarakat kita. Jalan satu-satunya adalah mentransformasi diri dan memberdayakan masyarakat kita menjadi bangsa yang ‘literate.’ Sejujurnya, Islam adalah agama yang sangat advanced dalam hal pentingnya tulisan. Lima ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW menjadi dasar yang tidak bisa dibantah. Menurut Yedullah Kazmi, dalam artikelnya, "The Rise and Fall of Culture of Learning in Early Islam (Islamic Studies 44, no. 1 (2005)), posisi ayat-ayat ini begitu berdaya untuk mentransformasikan masyarakat dari yang berbasis orality menuju literacy

Masyarakat lisan adalah mereka yang terkungkung dalam mitos, dan Allah menurunkan Al-Qur’an, mewajibkan manusia untuk tidak hanya membaca dan membaca kembali, namun juga untuk menciptakan kondisi yang mendorong masyarakat meninggalkan mitos dari kebiasaan hidupnya. Sebagai gantinya, mereka harus menumbuhkan kebiasaan berpikir melalui pembacaan terhadap dunia dengan cara yang ilmiah, dengan tetap berpegang pada Allah sebagai pencipta alam semesta.

Jadi, apalagi yang kita tunggu? Ayo menuju masyarakat berbasis literasi. Sekarang!


1 comment:

my creative forum said...

Ayo kita gerakkan terus setiap elemen masyarakat menuju masyarakat literasi. Salam JLI (Jaringan Literasi Indonesia).