Tuesday, September 17, 2013

MENONTON GANTA MANGGUNG

Akhirnya keturutan juga nonton Ganta manggung. Bermain musik. Sudah beberapa kali Ganta terlibat dalam acara musik di sekolah, waktunya tidak pas buat saya duduk di antara penonton.

Tadi malam menjelang pukul 18.30, setelah maghrib, kami berempat, mas Prapto, aku, Ganta, dan Adzra berangkat menuju Mooney Valley Clocktower Centre. Malam ini adalah gelar Brunswick Secondary College (BSC) Music Concert 2013. Ini adalah acara tahunan sekolah Ganta, dan diadakan di gedung teater terdekat. Cuma 10 menit dari sekolah. 

Sebagai acara rutin, konser musik ini adalah ajang unjuk kemampuan para siswa dan guru di Music Department. Siswa yang mengambil mata pelajaran Music dan mereka yang ikut ekskul musik ikut ambil bagian.Mulai yang ekskul alat instrumental sampai olah suara. Mulai siswa year 7 sampai year 12. Sebagaimana umumnya di Australia, Secondary College memang tingkat sekolah SMP dan SMA dalam satu lokasi. 

Ganta sendiri ada di kelompok VCE Unit 2 Rock Band. Kelompok siswa dari kelas 11 yang mengambil mapel Music sebagai bagian dari VCE (Unas) nanti. Selain Ganta, ada 2 siswa Indonesia yang juga ikut tampil. Saskia, year 7, dan Sarah, year 10. Mereka berdua tergabung di Brunswick Voice, kelompok paduan suara. Secara kebetulan juga, kami bertetangga satu area, dan para bapaknya satu tim kerja di restoran di kampus Unimelb.

Sebagai sebuah konser musik tingkat sekolah, acara ini layak diacungi jempol dari sisi program yang ditampilkan. Nampak sekali bahwa sekolah memberikan perhatian tinggi pada pengembangan bakat dan kemampuan musik. Ada 14 penampilan yang kami nikmati selama 1.5 jam. Semua genre musik terwakili. Ensemble berbagai alat musik bisa dinikmati. 

Acara dibuka dengan concert band yang memainkan musik rancak a la Mexico. Lengkap dengan sombrero yang bertengger di kepala para pemain di baris belakang. Diikuti dengan permainan piano solo yang ciamik soro. Pianisnya, Lulu Tian, nampaknya anak Vietnam, memainkan satu komposisi Chopin. Saya bisa menikmati musik klasik, meski sampai mengenal detil komposisinya. Dan Lulu memainkan tuts piano sambil meliuk-liukkan badannya, mengikuti irama yang bergerak dari lembut sampai cepat sekali. Para penonton seperti dibius karenanya. Sang pianisnya sendiri sudah mulai dapat banyak tanggapan dari luar sekolah karena kepiawaiannya.

Kelompok suara diwakili oleh Brunswick Voice dan Vocal Solo, serta grup A capella. Kelompok suara ini banyak menampilkan lagu-lagu pop kontemporer yang cukup ramah di teliga audience. Dari kelompok instrumental, permainannya sedikit berat, kecuali guitar solo yang membawakan nada Can You Feel the Love tonight-nya Elton John. Yang lain adalah musik klasik lewat piano solo oleh Lulu, aliran jazz diusung oleh Saxophone Quintet dan Jazz Combo. Ada juga String ensemble, di mana semua alat musik petik (gitar, bass, cello, biola) memainkan musik swing jazz. 

Aliran rock menjadi jatah siswa kelas 11 dan 12. Masing-masing kelompok VCE ini memiliki rock band. Kelompok Ganta, Year 11 Rock Band, membawakan Can't Stop dari Red Hot Chilli Pepper. Cassie dan Larrisa, personil perempuan, menjadi vokalis. Ganta membetot bas listrik, dan menjadi back vocalist. Tristan, yang sebelumnya bermain gitar solo, kembali tampil bersama kelompok. Dibantu dua personil lain memegang keyboard dan drum.

Year 12 Rock Band tampil dengan dua lagu, sekaligus sebagai penampilan terakhir bagi mereka di ajang musik sekolah. Tahun ini mereka akan Unas, dan komposisi yang ditampilkan adalah bagian dari persiapan mereka untuk final assessment di term 4 nanti. 

Yang menarik di konser ini adalah penampilan para guru musik di BSC. Selain tampil secara terpisah sebagai conductor di konser, atau menjadi salah satu pemain musik dan penyanyi di penampilan lain, para guru juga tampil bersama. Lili, guru vokal, menjadi vokalis, dan 8 guru lainnya masing-masing memegang alat musik. Lengkap, mulai trumpet, seruling, saxophone, gitar, bas, drum, dan keyboard. Tentu saja penampilan para guru ini amat berkelas. Dari biodata yang tercantum di booklet acara, kesembilan guru musik di BSC ini tidak hanya menyandang gelar akademik di bidang musik. Semuanya memiliki pengalaman manggung yang matang di berbagai festival, selain juga ada yang berkarir rekaman musik di jalur indie. 

Penampilan percussion ensemble yang amat rancak dan eksotis menjadi penutup acara. Tapi bagi telinga orang Indonesia seperti saya, ensemble ini lebih suka saya sebut sebagai permainan berbagai jenis gendang, ketipung, dan musik bambu. Suara yang dihasilkan berhasil membuat saya melayang ke kampung halaman. Mengingatkan pada kothekan musik bambu menjelang sahur di jaman kecil saya dulu. Serasa menghadirkan tabuhan gendang a la Dayak atau mungkin Papua. 

Secara keseluruhan, acara konser musik sekolah ini patur diacungi jempol dari banyak sisi. Penampilan musik tiap kelompok yang apik menunjukkan hasil pembelajaran yang cukup lama. Mungkin ada kelompok yang baru intensif latihan seperti grup A capella. Penampilan ini adalah debut mereka. Namun personilnya adalah para penyanyi handal dari Music Dept, termasuk salah satunya, Lili, sang guru vokal. 

Dari segi penyelenggaraan, konser ini amat sangat efisien. Jauh dari segi formalitas. Tidak ada pidato satupun. Yang bicara di panggung hanya MC, salah satu siswa senior. Saya lihat wakaseknya juga datang sebagai penonton. Masuk sama-sama menjelang acara. Acara berlangsung tepat waktu, dan buyar sesuai rencana pertunjukan 1,5 jam. 

Jeda pergantian penampilan berlangsung hanya sekitar 1-2 menit. Pada saat lampu panggung dimatikan, pemain musik keluar panggung lewat sisi kanan, dan dari sisi kiri, tim pendukung naik panggung untuk mengemas properti, kemudian menggantinya dengan properti untuk penampilan berikutnya. Tanpa ada suara gaduh, glodakan, apalagi gojekan. 

Bagaimana dengan penontonnya? Gedung teater yang tidak terlalu luas, dengan tempat duduk seperti di gedung bioskop, dipenuhi para orang-tua dan keluarga pemain musik. Lampu gedung dimatikan di sisi penonton sejak acara dibuka. Lighting hanya tertuju ke panggung. Dari awal acara hingga akhir, tidak ada suara bising orang ngobrol sama sekali. Bahkan suara handohone pun tak terdengar. Semua penonton khidmat menikmati musik yang ditampilkan. Tepuk tangan tentu saja membahana saat menjelang dan selesai tiap tampilan. Tak terlihat lampu kamera berkilatan. Sampai-sampai saya harus hati-hati mengambil video agar tidak mengganggu penonton di sebelah saya. 

Dari segi kualitas musik, sebenarnya anak-anak Indonesia tidak kalah. Kan banyak yang bisa main musik lewat jalur otodidak. Namun yang patut dicatat dari konser ini adalah bahwa pendidikan di sini amat memperhatikan seni dan serius menanganinya. Tentu saja dukungan fasilitas juga tidak main-main. Didukung oleh tim guru yang amat mumpuni. Saya yakin para siswa banyak belajar tentang proses, yang melibatkan kerja keras, kedisiplinan, dan kerja sama. Apapun hasilnya kemudian, apresiasi sekolah dan orang-tua akan selalu menjadi penyemangat.

Saat perjalanan pulang, saya merangkul pundak Ganta. "Well-done, Gan. Ibu bangga deh lihat kamu. PD banget." Tidak heran gurunya pernah bilang saat rapotan, "Ganta is just adorable. Full of enthusiasm. He just never asks me enough." 

Melihat Ganta berproses dengan minat musiknya di tempat yang tepat, saya berharap suatu saat pendidikan di tanah air juga akan ke arah yang sama. Sama halnya harapan saya untuk bidang-bidang lain yang selama ini terpinggirkan. Dengan demikian bidang sains, sosial, seni, bahasa, dan olahraga akan setara di mata masyarakat.

Oh ya, foto-foto konser sudah dipasang di website Brunswick Secondary College. Silakan menikmatinya di sini. Salah satunya ada pose Ganta lagi beraksi. 
  

Monday, September 16, 2013

APA BAHASA INGGRISNYA (MAAF) KENTUT?

Mencari terjemahan kata yang agak saru dalam Bahasa Inggris kadang membuat rikuh . Mau tanya teman biasanya harus agak bisik-bisik. Saya punya cerita tentang bahasa Inggris kata (maaf) kentut dari masa ke masa. Maksudnya dalam sejarah kehidupan saya.

Beberapa minggu yang lalu, tanpa angin dan hujan, Adzra bertanya pada saya. "Mommy, do you know what 'pass gas' is?" Dan seperti biasa, saya balik bertanya, 'what do you think?" Dan sambil senyum-senyum dia bilang, I know what that is. Ngentut." Saya tanya lagi, how do you know that word? "Jawabnya lagi, 'from lalaloopsy. At youtube." Bagi yang belum tahu, lalaloopsy adalah mainan boneka anak perempuan yang lagi ngetrend. Adzra suka nonton videonya di youtube, dan punya beberapa boneka mungilnya.

Padanan lain yang cukup sering kita dengar adalah 'fart.' Kata ini termasuk salah satu bodily noises, di samping burp, yawn, hiccup, dan queef. Saya menemukan video yang amat bermanfaat, dengan penjelasan yang lucu tentang bagaimana menghandle situasi yang memalukan ini di http://www.engvid.com/slang-bodily-noises/. Di video ini, ada definisi yang dianggap lucu dan scary. What is a fart? A small explosion between the legs. Hehe, ngeri deh kalau kentut disebut sebagai explosion. Saat saya buka kamus Collins, terjemahannya berbau sains.Emission of gas from the anus. (Kayak asap knalpot aja). 

Kita punya banyak humor tentang kentut ini. Di dalam bahasa Inggris juga ada slang buat fart. S B D = Silent but Deadly, atau S B V = Silent but Violent. Ayo tebak dulu maknanya apa sebelum lihat video di atas.

Tahu nggak, kata angin juga sering dipakai untuk emisi gas ini. Saat saya masuk rumah sakit 1 bulan yang lalu, Jessie, salah satu perawat bertanya (sambil bisik-bisik nyengir). "have you been able to pass wind, Tiwi?" Saya tidak terbiasa mendengarkan kata 'wind' untuk kentut, jadi rada gelagapan. Sampai beberapa detik kemudian saya baru jawab, 'oh yeah, I've passed gas a couple of times already."  Jessie menepuk saya, "Good." Hehe, urusan bisa ngentut buat orang yang habis operasi atau infus termasuk penting lho.

Ada satu lagi terjemahan kata 'kentut.' Yang ini justru pertama kalinya saya terlibat obrolan tentang kentut dalam bahasa Inggris. Awal tahun 1990-an dulu, saat saya masih mengajar di YPIA di Dharmahusada Indah, ada teman guru senior yang amat lucu bila bercerita. Bu Yul namanya. Alkisah, Bu Yul bersama di satu kesempatan dengan teman-teman bule. Saat itu, beliau juga tidak tahu apa bahasa Inggrisnya kentut (dan malu mencari tahu). Saat ngobrol itulah, salah satu teman bule bertanya, "Who did it?," sambil tolah-toleh mencari sumber masalah. Yang beredar di ruangan saat itu adalah bau tanpa ada suara (persis kayak S B D itu). 

Bu Yul langsung menangkap konteksnya. Ada yang baru ngentut (dan belum ngaku). Tuing! Tuing! Ketemulah bahasa Inggris kentut di benak bu Yul. 

"Oh, jadi bahasa Inggrisnya kentut itu DIDID." 

Happy Monday, everybody!

P.S: Don't try to look up the last word in the dictionary.

Sunday, September 15, 2013

MITOS LITERASI

Saya bangun pagi dengan kebingungan. Keraguan akan arah tesis saya. Apakah argumen saya bahwa para buruh migran menjadi sosok yang lebih smart, educated, dan tech-savvy melalui praktik literasi berterima secara ideologis. Jangan-jangan argumen ini malah menghasilkan sebuah sub-teks, di mana TKW yang tidak membaca dan menulis, yang tidak kenal dengan perpustakaan lesehan, yang tidak ikut berdiskusi tentang sastra, adalah TKW yang dungu, terbelakang, dan akibatnya, menjadi sasaran empuk kekerasan majikannya.

Rasa sangsi ini juga dipicu oleh obrolan di milis Keluarga Unesa tentang buku Jangan Tinggalkan Kami. Buku ini adalah kumpulan kisah perjuangan paa guru SM-3T Unesa di Sumba. Mas Satria Dharma, teman milis, memberikan ulasan tentang buku ini (selengkapnya bisa dibaca di sini). Tulisan ini kemudian dikomentari Habe Arifin, yang menganggap bahwa ulasan mas Satria Dharma memberikan gambaran bahwa buku itu ditulis dengan perspektif Jakarta. Amat tidak ramah dengan konteks Sumba dan daerah SM-3T lainnya. Seolah-olah pembelajaran yang dibawa para pendidik SM-3T mengajak siswa untuk berbondong-bondong ke Jawa, yang dianggap sebagai pusat peradaban di Indonesia.

Sebenarnya saya tahu bahwa Habe tidak hanya sekedar paham akan pentingnya pendidikan. Yang dia kritisi adalah pandangan bahwa model pendidikan yang betul adalah yang berpusat di daerah urban. Pendidikan yang seperti ini memang menjadi tidak kontekstual, yang berpotensi menempatkan siswa daerah di posisi subordinat. 

Sama halnya dengan pandangan umum bahwa literasi adalah tiket untuk menjadi masyarakat beradab. Literasi yang menempel erat pada pendidikan formal akan meningkatkan mobilitas sosial seseorang. Dari orang miskin menjadi terpandang di mata masyarakat. Orang yang berpendidikan dan melek literasi adalah sosok yang percaya diri, lebih mandiri, dan lebih siap terjun ke masyarakat.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan pandangan itu. Namun nampaknya kita perlu awas untuk tidak terpeleset ke dalam mitos literasi. Konsep di atas cenderung membuat kita membayangkan bahwa literasi adalah proses yang linier, universal, dan satu warna. Pandangan ini pada akhirnya akan bermuara pada ekspektasi kuat dan nilai positif pada individu dan masyarakat. 

Di dalam perdebatan teori literasi, ada yang disebut sebagai The Great Divide. Literasi sebagai model kognitif dan autonomous cenderung diusung bidang-bidang pedagogi dan psikologi. Berbagai teori literasi di kelompok ini menghasilkan gambaran 'the triumph of literacy,' yang ujung-ujungnya adalah mitos literasi. Ada jurang pemisah antara orang yang melek aksara dengan yang buta huruf, yang suka baca dengan yang tidak, yang sekolah tinggi dengan yang lulusan SD. Itu karena literasi dipandang sebagai aksi penyelamatan atas nasib individu dan masa depan masyarakat atau suatu bangsa. 

Di sisi seberang, literasi dilihat sebagai model ideologis, sebagai praktik sosial yang amat kompleks. Di dalamnya tersimpan berbagai jenis literasi yang diasosiasikan dengan berbagai domain kehidupan. Praktik literasi juga dipola oleh institusi sosial dan hubungan kekuasaan, dan dengan demikian sebagian literasi lebih dominan daripada literasi yang lain. Praktik literasi juga memiliki berbagai tujuan yang melekat erat pada tujuan sosial dan praktik budaya, selalu berlangsung dalam konteks sejarah. Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa praktik literasi selalu berubah, dan bentuk literasi yang baru diperoleh melalui proses pembelajaran dan pembentukan makna yang informal.

Melihat begitu dinamis dan cairnya praktik literasi di masyarakat, konsekuensinya adalah mengubah arah studi tentang literasi dari setting ruang kelas saja menjadi lebih lebar ke domain lain di masyarakat. 

Bagaimana saya baru mengalami kesadaran ini, sementara secara teoritis sudah saya pahami hampir dua tahun ini? Kemungkinan besar saya terjebak dalam subjektivitas saya sendiri. Bahwa mitos literasi itu bukanlah mitos di mata saya. Secara tidak sadar, kalimat-kalimat di tesis saya selalu ingin bermuara ke sana. Padahal di depan mata saya berkeliaran banyak data yang menyatakan bahwa literasi dipandang sebagai ancaman, literasi bukanlah tujuan di HK. Secara tidak sadar, di mata para TKW yang menulis juga terbentuk dikotomi TKW penulis dan non penulis, yang berpeluang menghasilkan subordinasi di komunitas sendiri. 

Atas kesadaran ini, saya ingin lebih berhati-hati untuk tidak memberikan kesan keliru. Jangan sampai agenda keberpihakan saya terhadap TKW malah menimbulkan keberpihakan pada kelompok tertentu. Para TKW yang tidak berpraktik literasi (baca: menjadi penulis) bisa jadi amat literate dalam kewirausahaan, berkesenian, bermain saham. Sama halnya dengan TKW yang menjadi blogger, TKW yang juga pemain saham mampu merekonstruksi identitas mereka dan memberdayakan komunitasnya dengan cara yang berbeda. Sama halnya dengan sosok-sosok di masyarakat yang di mata kita, dinilai belum melek aksara atau tidak terlalu suka membaca dan menulis. Mereka adalah orang-orang yang bisa jadi amat literate di domain lain. 

Bagaimana kita bisa menghapus iliterasi tanpa 'menghapus' sosok-sosok yang tidak literate? Nampaknya saya harus berharap pada dunia pendidikan. Pembelajaran kontekstual yang sudah lama didengungkan di dunia pendidikan kita perlu menengok kepada kearifan lokal pada tataran yang lebih praktis. Di sekitar kita ada begitu banyak sosok masyarakat yang mungkin buta huruf, namun sangat literate dalam membaca alam, paham bagaimana alam menawarkan remedi untuk penyakit jasmani dan rohani, menguasai life skills yang bahkan tidak diajarkan di ruang kelas, bijak dan menjadi panutan dalam budi pekerti. Pada sosok-sosok inilah anak didik kita perlu belajar.