Wednesday, August 07, 2013

MENJELANG KEMOTERAPI

Seharusnya aku bisa tuntas puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh. Kalau saja bukan karena mengikuti jadwal kemoterapi yang akan dimulai hari ini. Duh...seperti tidak ada hari yang tepat saja untuk memulainya. Tidak satu dua orang yang bertanya, emang gak bisa diundur setelah lebaran?

Saat konsultasi dengan Katherine, oncologist yang menangani kasusku, aku sebenarnya sudah menawarkan waktu yang tepat. Saat itu aku memilih tanggal 12 atau 14 Agustus. Pertimbanganku, aku ingin melalui Ramadhan dengan tenang, Selain itu, kupertimbangkan masih ada waktu cukup buatku untuk menuntaskan draf bab 3 tesisku. Dengan begitu, sesi kemoterapi bisa berjalan tanpa terlalu banyak beban.

Sayangnya tanggal yang aku pilih melewati 1 bulan dari tanggal kedua operasi yang kujalani tanggal 19 Juni dan 3 Juli. Itu artinya efek kemo akan kurang efektif. Maka demi kesehatan dan kepentingan lain, aku dan Katherine berkompromi menentukan tanggal. Dipilihlah Senin, 5 Agustus. Ndilalah kemudian aku dapat pemberitahuan dari Sue Thomas, salah satu breast care nurse yang rutin kontak denganku. Jadwal kemo hari itu sudah fully-booked. Maka aku digeser jadwal Rabu, 7 Agustus. Di Royal Women's Hospital, breast clinic memang hanya buka hari Senin dan Rabu saja.

Sebenarnya ketika puasaku sudah mencapai hari ke 25, aku diam-diam mulai khawatir. Kok puasaku lancar? Bukankah seharusnya jadwal mens sudah tiba. Tak urung deg-degan juga. Masak aku hamil? Mendekati hari ke 27, masih belum ada tanda-tanda mens juga. Sementara jadwal kemo tinggal 2 hari lagi.

Antisipasi demi keselamatan, akhirnya kuputuskan beli pregnancy test packs saja. Kupakai dua pagi berturut-turut. Sehari dan pagi menjelang kemo. Alhamdulillah hasilnya negatif. Namun tak urung aku juga harus mengutarakan hal ini nanti saat di chemo room. Bagaimanapun, kemo pada wanita hamil akan membahayakan janin. Dan di usiaku dan mas Prapto sekarang ini, yang sudah melewati angka 45. Untuk pikiran manusia, sudah saatnya kami lebih fokus mendidik dan mendewasakan anak-anak. Tapi siapa yang berani mendahului kehendak Yang Di Atas. So, let's hope for the best. 

No comments: