Wednesday, April 24, 2024

I'M A PROUD MOTHER

Ganta is the definition of a die-hard Bonek, the fan community of Persebaya supporters. Born in Surabaya, Ganta has developed his deep interest in whatever is about Persebaya. When he was still small, my hubby would take him to football matches at Tambaksari Stadium. As he grew up, he went with his friends and collected merchandices. Green stickers and banners are all over our place. 

From a supporter to a prosumer to a researcher. Bajolball podcast channel that he manages with his friends has reached more than 100 episodes. This channel discusses anything related to Persebaya, but not limited to match reviews. This kind of volunteerism is then extended to the production of matchday programmes. Days prior to a match, he would drown himself in his room or our minilibrary to prepare the match preview. He would then go to Bung Tomo stadium and distribute the print version to supporters before the game. It's a fan literacy practice that connects supporters and serves as a free and alternative media. Often times a resistant one.

Today, April 24, 2024, he earned his MA in Anthropology from Gadjah Mada University. His ethnographic research on Bonek based in Boyolali, Klaten, and Sragen highlights the power of collective identities of football supporters that extend beyond the club's homebase in Surabaya.

While graduating from a study program that is currently ranked 51st in the World's University Ranking is something to be proud of, it's his perseverance and persistence against all odds that we are grateful for.


Big congrats, my beloved son. Kudos to you. Ayah, Ibu, and  Adik Adzra always take pride in you, no matter what. 


Yogyakarta, April 24, 2024

Monday, May 29, 2023

BERBAGI PENGALAMAN SEBAGAI PENYINTAS KANKER PAYUDARA

Kemarin malam saya menerima pesan dari Mbak Icha, seorang teman sesama anggota grup WA CISC Her2+. Grup ini adalah support group yang beranggotakan para perempuan penyintas kanker payudara dan yang sedang menjalani pengobatan. Saya diminta untuk mengupdate data medis yang nantinya akan digunakan untuk saling memberikan support, terutama untuk pasien kanker payudara yang membutuhkan teman untuk menjaga kondisi psikologis. 

Satu hal yang sama di antara semua anggota grup ini adalah jenis kanker yang sedang atau pernah kami derita, yakni Her2+. Jenis kanker payudara ini mengacu pada kanker yang menunjukkan hasil positif atas adanya protein human epidermal growth factor receptor 2 (HER2). Protein ini memicu tumbuhnya sel-sel kanker. Berdasarkan statistik penderita kanker payudara di dunia, 1 di antara 5 kanker payudara menunjukkan adanya gen yang menghasilkan protein HER2. Kanker payudara jenis HER2+ cenderung lebih agresif daripada jenis kanker payudara yang lain. Kabar baiknya, pengobatan yang langsung ditargetkan kepada HER2 tercatat sangat efektif dan prognosisnya (perkiraan kesembuhan di masa datang) dinilai sangat bagus. 

Saya sendiri sudah menjalani semua pengobatan, mulai mastektomi, kemoterapi 6 siklus, dan targeted therapy dengan trastuzumab sebanyak 18 kali selama saya masih studi di Melbourne. Ketika saya pulang ke tanah air, saya rutin check up 6 bulan sekali di RS Onkologi. Menginjak tahun 2023 ini artinya sudah berselang 10 tahun sejak saya didiagnosa kanker payudara HER2+. Alhamdulillah pada bulan Januari 2023 yang lalu, dr. Bob, oncologist saya, menyatakan bahwa jadwal check up cukup 1 tahun sekali. Alhamdulillah. Tentu saja saya senang dan lega sekali. Ini berarti bahwa selama 10 tahun ini, kondisi saya terpantau normal dan tidak ada indikasi bangunnya sel kanker. 

Bicara tentang ihwal berbagi pengalaman sebagai penyintas kanker, saya termasuk orang yang terbuka dengan kondisi yang pernah saya alami. Saya juga menuliskan beberapa episode saat menjalani pengobatan di blog ini. Pernah juga diminta memberikan testimoni di sebuah acara peringatan hari kanker payudara sedunia yang kebetulan diadakan di kampus Unesa. Nah, obrolan di WA dengan Mbak Icha membuat saya ingat bahwa saya pernah diundang sebagai narasumber di sebuah kanal siniar (podcast) yang dikelola oleh klinik Parahita cabang Dharmawangsa Surabaya. 

Pada bulan Januari 2023 yang lalu, kebetulan saya memang tengah menjadwalkan untuk pengecekan tahunan. Pengecekan ini meliputi pemeriksaan darah CEA dan CA 15-3. Kedua tes ini dilakukan untuk mendeteksi adanya sel kanker payudara. Biasanya setelah cek darah ke klinik, saya ke RS Onkologi untuk melengkapi check up dengan melakukan mammografi, rontgen paru-paru, USG bagian perut, payudara, dan leher. Semuanya untuk mendeteksi kemungkinan penyebaran kanker di organ tubuh yang lain. Jadi karena mau diajak ngobrol, sekalian saja saya melakukan pemeriksaan CEA dan CA 15-3 di Parahita cabang Dharmawangsa. 

Setelah bersiniar itu, saya praktis lupa tentangnya. Bahkan saya tidak sempat bertanya kepada pihak pengundang apakah ada rekamannya. Maka saya cari-cari di Youtube. Barangkali ada rekamannya yang sudah diunggah. Akhirnya ketemu videonya. Baru ingat juga bahwa agendanya saat itu adalah untuk memeringati Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada tanggal 4 Februari 2023. Di dalam video ini, saya menceritakan pengalaman saya sebagai penyintas, tantangan-tantangan yang dihadapi, pengobatan yang saya terima, dan sistem pendukung yang mendorong saya untuk terus berjuang sampai sembuh. Bersedia berbagi melalui PARAHTALK, nama kanal siniar Parahita, juga merupakan salah satu cara untuk menjadi bagian dari support system.  Tautan ke video ini saya bagikan ke Mbak Icha dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi teman-teman penyintas kanker payudara yang tergabung dalam grup WA CISC HER2+. 

Anda juga ingin tahu lebih banyak tentang pengalaman saya sebagai penyintas kanker payudara?
Silakan menyimak video berikut ini. Semoga bermanfaat.




Kebraon, 29 Mei 2023

Sunday, August 22, 2021

CONNECTING DOTS WITH BUDI DARMA


Kepergian sosok sepenting Prof. Budi Darma adalah sebuah kehilangan yang tak tergambarkan. Waktu terasa berhenti dan hanya tangis yang mengisi. Tiba-tiba ingatan masa lalu seolah berjajar bak foto-foto yang membawa kenangan. Betapa tanpa saya sadari Pak Budi Darma telah menggoreskan warna kuat dalam perjalanan karir saya.

Saya termasuk yang percaya bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang kebetulan. Kejadian yang kita alami atau orang yang kita temui adalah bagian dari takdir. Termasuk di antara bagaimana sosok Budi Darma menjadi tanda dalam peta kehidupan saya. Serpihan kisah rendezvous saya dengan Pak Budi adalah titik-titik yang suatu saat terhubung. Connecting dots

1) Di sekitar tahun 1985-1990, ketika saya menjadi mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP     Surabaya, Pak Budi Darma adalah Rektor IKIP Surabaya mulai tahun 1984-1988. Karena beliau menjadi Rektor, maka saya belum pernah masuk ke kelas beliau sampai tahun 1989. Peran beliau sebagai Rektor saya rasakan kalau saya wira-wiri dari Sekretariat Himapala di Kampus Ketintang ke Rektorat yang waktu itu ada di Jalan Kayun. Maklum, sebagai anggota Himapala, saya ikut sok sibuk mengurus surat perijinan atau pengajuan dana kegiatan. Tapi saya lebih banyak masuk ke ruangan Pembantu Rektor III yang memang mengurusi bidang Kemahasiswaan. 

Pendek kata, saya hanya tahu bahwa dosen saya, yang sastrawan, adalah Rektor. Dan saya baru pada tahap berangan-angan ingin diajar beliau sebelum saya lulus. 

Sampai suatu saat saya diberi tugas menyerahkan pemukul gong kepada Rektor untuk membuka acara Pentas Seni Himapala di tahun 1986. Tidak tanggung-tanggung, saya harus turun dengan tali dari dinding Gedung Gema dengan ketinggian kurang lebih 10 meter.  Bersama dengan rekan saya, mas Agus Guo, kami turun saat lampu gedung yang dimatikan. Spotlight mengarah ke dua anak muda yang sedang rappling dari atap gedung dan kemudian beratraksi melompat ke kiri dan ke kanan sambil membalikkan badan. Entah dari mana saya mendapatkan kenekadan ini. Kenekadan yang direncanakan karena latihan hampir tiap hari. Saat itu adrenaline saya mungkin sedang puncak-puncaknya. Seandainya ini terjadi di masa kini, mungkin foto-fotonya sudah memenuhi akun medsos saya. 

Sesampai di bawah, saya berlari ke arah Rektor dan menyerahkan pemukul gong yang tergantung di carabiner di celana jeans saya. Lamat-lamat saya mendengar pembawa acara menyebut nama saya sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. 

Hampir empat tahun kemudian, saya duduk di sofa Jurusan, di depan tiga dosen senior Jurusan. Pak Budi Darma, Pak Santiko Budi, dan Pak Djoko Soeloeh Marhaen. Saya tengah menghadapi ujian skripsi. Pak Budi Darma menjadi penguji saya. Beliau bertanya sambil tersenyum, “masih suka naik-naik atap gedung?” 

Saya terpana. Terpesona. Bagaimana mungkin ulah anak picisan ini diingat oleh sosok VIP seperti beliau. Saya lupa apa jawaban saya. Yang saya ingat hanyalah gelengan saya dengan wajah tersipu malu. 

2) Tapi itu bukan pertama kalinya saya merasa dekat dan dikenal oleh beliau. Ketika Pak Budi sudah tidak lagi menjabat sebagai Rektor, beliau kembali mengajar ke Jurusan. Di akhir semester saya di semester 8, beruntunglah saya dapat duduk di kelas Literary Appreciation. Sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan, kami tidak banyak mendapatkan mata kuliah murni. Hanya ada Introduction to Literature yang kurang sukses membuat saya mencintai sastra. Tapi saya sering meminjam novel-novel di ruang baca Jurusan dan memfotocopynya. Membaca untuk dinikmati. Bukan untuk dikritisi. 

Kelas kami membahas novel Ernest Hemingway, The Sun Also Rises. Semua mahasiswa memegang fotocopyan novel, mencoba mencari kalimat yang dibacakan Pak Budi. Tak kunjung ketemu. Saya perhatikan wajah beliau. Baru kemudian saya tersadar bahwa sebenarnya beliau sedang menganalisis dengan gaya berkisah. Ah, kalimat-kalimat yang tertata rapi dan runtut ini muncul terucap tanpa script. Menghipnotis. Meski pemahaman saya tidak sampai separuhnya. 

Merasa kuliah ini standar tinggi dan saya tidak mudeng, saya mencoba mencari cara agar paham isi novel ini. Bayangkan kuliah di tahun-tahun 80-90an, ketika referensi harus dicari di perpustakaan yang masih terbatas koleksinya. Saya belani mencari referensi ke perpustakaan di atas toko buku di jalan Tunjungan. Saya lupa apakah namanya Sari Agung atau sudah berganti menjadi Gramedia. Toko ini adalah jujugan saya sejak kecil. Tapi baru tahu belakangan saat kuliah bahwa di atasnya ada perpustakaan kecil. Di situ akhirnya saya menemukan buku-buku sastra yang tebal dan menyuguhkan kritik sastra karya-karya Hemingway. 

Eureka

Ketika masa UTS datang, kami diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bersifat analisis novel The Sun Also Rises. UTS yang open book. Kami tentunya dapat mengutip baris-baris dari novel sebagai bukti. Saya mengambil tempat duduk di belakang. Agar dapat fokus menulis analisis. Tidak pakai tengok kiri kanan. Karena teman-teman saya juga sedang sibuk berpikir. Mau nulis apa. Atau mungkin tidak tahu apa yang mau ditulis. Saya sendiri juga tidak yakin. Pokoknya nulis saja. 

Dua minggu kemudian, beliau memanggil nama kami satu-persatu. Memberikan hasil UTS. Sambil memberikan umpan balik. Rata-rata dikomentari karena kebanyakan menulis analisis seperti menulis daftar menu. Hanya point-point saja. Saya mendengar nama saya disebut. Deg-degan. Takut jawaban saya juga tidak memuaskan. “Pratiwi, would you please come here and read your answer?”

Dengan sangat groggy, karena tidak tahu mengapa saya diminta maju ke depan, saya berjalan ke depan kelas dan menerima kertas jawaban dari tangan beliau. Saya bacakan jawaban saya yang panjangnya kira-kira 2 halaman kertas folio bergaris. Setelah saya selesai membaca, barulah kemudian beliau menyampaikan bahwa analisis sastra seharusnyalah deskriptif seperti itu. Bukan seperti daftar menu atau belanjaan. 

Pengalaman ini sangat membekas di benak saya. Ternyata saya bisa menganalisis karya sastra yang masterpiece. Ternyata begitu caranya interpretasi sastra. Sejak itu saya merasa jatuh cinta pada sastra. Tepatnya, Pak Budi membuat saya mencintai sastra dan mensyukuri pentingnya menulis. Saya punya kebiasaan menulis di buku harian atau surat berpanjang-panjang halamannya. Mungkin saja tulisan saya ada emosinya. Buktinya beberapa coretan yang saya tulis menghasilkan patah hati. 

(bersambung)





Monday, January 25, 2021

KISAH COVID-KU (1): PROKES, POSITIF COVID-19, DAN TRACING

Akhirnya saya terpilih juga diampiri Covid-19. Sejak hari Sabtu, 16 Januari 2021, saya resmi positif Covid-19. Resmi karena sudah berdasarkan hasil swab antigen, dan diperkuat dengan hasil swab PCR. Dengan hasil CT 24/23, artinya sebenarnya virus ini sudah masuk ke tubuh saya beberapa hari sebelumnya.

Bagaimana ceritanya sampai saya bisa kena Covid-19?  Tanpa harus mencari kesalahan diri sendiri atau orang lain, pelacakan aktivitas diri di beberapa hari sebelumnya memang harus dilakukan. Itu juga pertanyaan yang umum ditanyakan beberapa teman baik yang mendengar bahwa saya positif Covid-19. ‘Habis pergi-pergi ta mbak?’, ‘Habis kumpul-kumpul atau ada tugas ke mana mbak?’. 

Sejak pandemi di pertengahan Maret 2020, saya hampir tidak pernah pergi kemana-mana. Kantor Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Unesa jarang sekali saya tengok. Paling sebulan sekali. Itupun bila ada yang betul-betul penting. Selain itu, undangan workshop atau menjadi narasumber atau fasilitator di luar kota tidak lagi saya terima, kecuali bila dilaksanakan secara daring. Anteng di rumah bukan berarti saya jadi pengangguran dan makan gaji buta. Lha selama pandemi ini jam kerja menjadi 24/7. Tidak ada hari libur. Tugas dari kampus dan pertanyaan ini itu dari kolega dan (terutama) mahasiswa bisa datang kapan saja. Tidak peduli pas orang sudah siap-siap mancal kemul

Jadi balik lagi ke tracing. Sejak tanggal 27 Desember 2020 saya tidak pernah lagi ke kampus. Saya juga tidak ada agenda pergi-pergi dengan keluarga. Route saya bila harus keluar rumah hanya ke minimarket terdekat atau ke pasar Kebraon. Itupun tidak setiap hari. Itupun tidak di pagi hari ketika pasar sedang ramai. Itupun paling hanya 2 kali dalam seminggu. Kalau ke pasar, saya biasanya memilih agak siang sekitar pukul 9-10. Sekalian bersepeda cari keringat dan panas matahari. Dan acara ke pasar paling hanya 10 menit. Beli seperlunya. Dan masker tidak pernah lepas. Plus hand sanitizer di kantong celana. 

Hidup di masyarakat komunal seperti di Indonesia, rasanya tidak mungkin saya memutuskan untuk tidak ketemu orang sama sekali. Namanya manusia adalah makhluk sosial. Bisa saja ada virus berseliweran di dekat saya ketika menerima kembalian pas beli martabak sore-sore, atau pas kartu debit saya dikembalikan mas/mbak kasir saat belanja di minimarket. Atau ada virus nempel di bungkus plastik tempe gres yang nangkring di meja kios Mbak Atik langganan saya pasca boikot para pengrajin tempe. Atau bisa saja pas tiba-tiba hati saya bolong dan pingin cuci mobil di bawah sinar mentari pagi. Lalu pas masker saya sedikit melorot, pas ada tukang sayur tak bermasker lewat sambil teriak, ‘sayur sayur.’ 

Embuh lah. Pendeknya, virus Corona sudah merajalela. Selama ada anggota keluarga yang masih keluar masuk rumah, di situlah akan tetap ada potensi kena. Mosok ya saya mau bilang ke suami saya untuk mendekam di rumah saja. Lha wong Adzra juga sesekali pingin ke minimarket. Just to get the feeling of ‘going out.’ Ghanta juga menikmati kegiatannya berpodcast di Bajolball Studio (alias perpustakaan rumah). Itu artinya sesekali akan ada beberapa orang yang dia undang sebagai narasumber. Apalagi ART saya, Abay, datang pagi pulang siang/sore. Dengan dua anaknya setiap kali datang. Dia kos di salah satu kampung Kebraon. Cuma 5 menit dari rumah. Ya wis. Yang penting prokes ketat ditaati dengan baik di rumah. 

Memang seberapa ketat prokes kami di rumah? Siapapun yang baru saja keluar rumah wajib  cuci tangan pakai sabun sebelum melakukan hal-hal lain. Ganta termasuk orang yang paling cerewet mengingatkan hal ini. Dia juga yang menyiapkan tempat cuci tangan dan dilengkapi dengan sabun di depan rumah. Kalau habis ada tamu, Gantalah yang menyemprotkan disinfectant spray ke ruangan dan mengelap meja, kursi, dan gagang pintu. Adiknya pasti akan kebagian disuruh membantu. Nah, orang yang paling tinggi mobilitasnya di rumah kami adalah Mas Prapto. Gak ada cerita WFH, kecuali di 2 minggu awal pandemi dulu. Oleh sebab itu, rutinitas baru sejak pandemi adalah menyediakan handuk setiap kali suara mobilnya terdengar di depan pagar. Wajib mandi dulu. Tidak peduli jam berapapun dia pulang. Tidak ada acara cium tangan, rangkul anak wedok, atau saling njiwit sebelum dia keluar dari kamar mandi dengan bau segar. Pernah suatu kali sepulang kerja, mas Prapto langsung masuk ke ruang perpustakaan dan buka laptop. Lanjut nge-zoom. Maka saya dan anak-anak memilih menjauh dan pindah ke lantai atas. Nah, kalau sudah protokol kesehatan (prokes) ketat seperti masih juga kena, ya sudah mau apa lagi. Ikhlas saja dijalani. Alhamdulillah. Tetap harus bersyukur karena tidak ada gejala berarti. 

Apakah saya mengalami gejala-gejala Covid-19 sehingga harus swab? Sejak habis cuci mobil sambil cari Vit-D di bawah sinar matahari pada hari Sabtu, 9 Januari 2021 yang lalu, saya memang mulai merasa pilek. Ringan saja. Gak pakai demam. Saya pikir hanya karena kelelahan. Memang ini minggu UAS dan koreksi tugas-tugas mahasiswa. Cuaca juga sedang kurang bersahabat. Abay dan anak-anaknya gantian batuk di minggu sebelumnya.  Satu hari kemudian menyusul Ganta ikut pilek dan batuk. Tenggorokan terasa tidak nyaman. Dia bahkan kelihatan loyo. Sudah pindah tidur ke Bajolball Studio di bawah. Kebetulan sofanya bisa disetel menjadi tempat tidur. Mengisolasi diri meski tidak ketat banget.. Alhasil saya jadi cerewet menyuruh dia agar tidak telat makan. 

Repotnya, Ganta tidak pernah mau minum obat. Bahkan yang herbalpun dia sangat hati-hati. Mintanya hanya air hangat, teh panas, air jahe tanpa gula, atau air jeruk panas tanpa gula. Ganta memang punya kelainan bawaan. G6PD deficiency. Intinya dia kekurangan enzim yang berfungsi membuat sel darah merahnya bertahan. Karena pilek 3 hari tidak kunjung sembuh dan kelihatan lemes terus, saya minta mas Prapto untuk mengajaknya swab antigen. Jaga-jaga saja. Alhamdulillah hasilnya negatif. Dampaknya positif banget. Ganta jadi semangat dan mulai beraktivitas. 

Nah, saya sendiri mulai merasakan ada yang berbeda. Kok tidak bisa bau masakan apapun? Baik pas masak di pagi hari maupun pas makan. Saya berdalih. “Ah, memang hidung saya lagi buntu. Pilek belum pulih benar. Yang penting badan tetap segar.” Dua hari merasakan anosmia, akhirnya saya putuskan untuk swab antigen. Sabtu pagi, 16 Januari 2021, saya menyetir sendirian menuju ke klinik Pa*ah*ita di dekat kampus B Unair. Klinik ini langganan kantor mas Prapto. Jadi hasilnya akan dikirim ke suami. Usai swab, saya langsung pulang. Mungkin karena ada rasa cemas, sempat keliru ambil jalan. Sejujurnya saya sudah merasa kemungkinan akan positif. Jadi saya mampir ke apotek dekat rumah, membeli masker dan beberapa multivitamin yang direkomendasikan untuk penderita Covid-19. Sedia payung sebelum hujan. 

Sesampai di rumah saya langsung ikuti vERtual talk, webinar tentang Extensive Reading. Sengaja saya lakukan di kamar agar tidak lagi ada kontak dengan yang lain. Habis webinar langsung lanjut rapat kecil dengan teman-teman IERA dan Binus untuk mempersiapkan sesi berikutnya. Di tengah-tengah rapat itulah saya mendapatkan kiriman hasil swab. Mas Prapto yang mengirimkannya di grup keluarga kami. Saya mungkin kurang fokus karena sedang rapat, jadi sempat salah baca. Saya kira negatif. Sudah girang di grup, ‘Alhamdulillah ya Allah.’ Ganta yang kemudian mengetuk pintu kamar. Memberitahu ibunya bahwa hasilnya positif. Saya yang belum percaya langsung membandingkannya dengan hasil Ganta sebelumnya dari klinik yang sama. 

Meski agak cemas, saya berusaha tenang. Untunglah rapat pas mau usai. Mas Prapto yang sedang berada di luar kota meminta saya untuk kembali ke klinik untuk swab PCR. Akhirnya kami berinisiatif agar Adzra sekalian swab antigen. Ganta yang sdh sudah sehat mengambil alih semua urusan, dan dia mengantar kami ke klinik. Di mobil saya sudah mulai jaga protokol lebih ketat. Duduk di belakang. Tanpa ada sentuhan fisik dengan anak-anak. 

Swab PCR akan memberikan konfirmasi dengan CT value, jadi kami sudah menganggap bahwa saya memang positif. Meski hasilnya baru akan keluar esok harinya atau bahkan Senin, kami sudah mulai mengatur bagaimana mengelola isolasi mandiri. Diskusi tentang skenario yang perlu diterapkan. Alhamdulillah punya anak-anak yang terbiasa tenang dan tidak emosional. Tidak ada drama. Mungkin karena sudah banyak baca informasi tentang apa dan bagaimana isolasi mandiri. Mungkin juga karena mereka sudah ditempa pengalaman saat saya menjalani kemoterapi selama 5 bulan di Melbourne dulu. 

Sesampai di rumah, saya langsung ke kamar dan mengambil beberapa setel pakaian. Masukkan ke koper. Ganta menyiapkan Bajolball studio alias perpustakaan untuk ruang isolasi mandiri (isoman). Adzra membantu menyiapkan bantal, selimut, dan peralatan makan minum. Tak lupa mengusung laptop dan buku-bukunya sendiri ke atas. Setelah mandi, saya masuk ruang isoman. Memberikan instruksi ini itu. Termasuk memberitahu dan meminta ART saya, Abay, untuk tidak datang dulu selama 2 minggu ke depan. 

Pakaian sudah. Bantal dan selimut tersedia. Teko listrik siap. Persediaan air mineral cukup. Laptop, HP, dan charger aman. Resmilah saya isoman!
Bismillah semoga tetap sabar dan segera negatif. 


Ruang isoman 


Bajolball Studio, Kebraon, Surabaya

Isoman hari ke-9


Sunday, October 18, 2020

WFH, Pecel, dan Identitas Budaya

Sudah beberapa bulan terakhir ini saya meminta Abay, ART saya untuk tidak datang terlalu pagi. Dia kos di kampung sekitar Kebraon. Saya melihat tidak lagi ada urgencynya untuk menyiapkan sarapan pagi-pagi ketika saya sendiri praktis WFH tiap hari.
Bekerja menatap laptop dan melakoni zoom sessions beruntun dan sering simultan hampir tiap hari membuat saya mengalami zoom fatigue. Saya butuh relaksasi memecah rutinitas pekerjaan berlapis yang sebenarnya malah jadi tidak fokus.
Rutinitas baru di pagi hari adalah menyiapkan sarapan. Terutama buat Mas Prapto yang WFO terus. Dia biasanya berangkat ke kantor sekitar pukul 7. Jadi saya menyediakan waktu maksimal 1 jam untuk umeg di dapur. Biasanya pukul 6 semua sudah tersaji di meja makan Ganta, Adzra, dan saya bisa sarapan jam berapa saja karena kami tidak ke luar rumah.
Menyediakan waktu bekerja di dapur di pagi hari ternyata menjadi relaksasi dan inspirasi. Sembari minum kopi, Mas Prapto menemani saya. Ngobrol ringan. Membayar waktu us time yang kadang terlewat di hari sebelumnya. Berdua saja. Anak-anak masih di kamar di lantai atas, cenderung kembali memeluk guling seusai shalat Shubuh.
WFH membawa model kerja baru. Batas hari libur dan hari kerja jadi tidak jelas. Setidaknya buat saya Mau bagaimana lagi, saat suami pulang kerja lepas maghrib, saya masih di depan laptop. Sering sampai lewat pukul 9 malam. Kapan dulu dia bilang begini ke Adzra. "Dzra, ibuk itu ya. Ayah pulang sore, di depan laptop. Pulang malam, sik ngezoom. Itu laptopnya apa gak protes ya." Saya nyengir saja. Wong saya ya pingin mengurangi screen time, dan belum berhasil.
Kompensasi saya adalah waktu masak di pagi hari. Ngobrol berdua dengan suami sembari masak jadi quality time yang saya tunggu tiap pagi. Sering juga saat masak, saya malah dapat wangsit atau troubleshooting untuk tugas-tugas yang belum kelar.
Ini mengingatkan saya pada hari-hari di Melbourne dulu. Waktu memasak menjadi waktu mencari inspirasi menulis tesis. Tiba-tiba saja 'tuing', dan langsung cari buku catatan dan orer-oret (lalu tiba-tiba ada bau gosong).
Minggu pagi identik dengan pecel. Ditambah dengan tempe goreng dan omelette (my signature dish). Cuma gitu aja. Sederhana. Tidak ada yang istimewa. Yang spesial adalah karena Ibu dan Bapak saya lagi nginep di rumah. Semoga hidangan anak sulung bisa berfaedah. Meski dari segi rasa, masakan ibu saya selalu juara satu. Saya mah tidak kecipratan bakatnya.
Inspirasi pagi yang 'tuing' saat menggoreng omelette adalah: buat rekaman video untuk kelas besok karena akan ada rangkaian rapat offline di kampus. Video diunggah di YouTube dan share link ke Google Classroom. Topik di kelas Intercultural Communication besok adalah Cultural Identity and Diaspora. Mungkin saya bisa unggah foto hidangan pecel ini dan bertanya: apakah Indonesian diaspora masih suka menghadirkan pecel di meja makan? Kalau pas di Melbourne dulu, cara saya menghidangkan pecel adalah dengan mengakali sayurnya. Apa saja yang lagi 'sale'. Yang penting ada bumbu pecelnya. Saya harus punya bumbu pecel di rumah (apartemen). Entah dengan beli di Asian Store atau stock bumbu gunting. Itu sebutan saya untuk bumbi instant. Setiap kali suami datang dari Indonesia, dia selalu bawa berbagai bumbu satu koper.

Lain lagi cerita sohib ya yang pinter dan manis, dik Yuseva Wardhana. Dia lagi studi PhD di Ohio State University di Columbus, OH. Baca postingan saya di FB, dia ikut komentar seperti ini:
    Beberapa hari yang lalu saya habis mecel lho Bu 
Pratiwi Retnaningdyah
. Kecambahnya nunggu 4     hari "thukul" dulu, daun katesnya saya ganti Kale yang rasanya cukup saudaraan, plus kobis, wortel,     timun, kacang panjang. Lauknya cukup krupuk bulet beli di Asian Market. Sambil makan sambil             
berefleksi untuk lebih menghargai apa yang dulu mudah sekali di dapat di Indonesia, di sini musti 
    usaha ekstra.

Penuturan dik Yuseva ini bukti bahwa makanan menjadi satu cara untuk menjaga identitas budaya ketika kita berada jauh dari tanah air. Jadi pingin segera buka laptop untuk buat materi perkuliahannya. Eh...berarti hari Minggu ini saya tetap kerja dong? 😁





Sunday, February 10, 2019

Kembalinya Sang Sarung

Perjalanan hidup manusia pada dasarnya mengikuti siklus atau tahap layaknya seorang pahlawan. Kan setiap orang pada hakikatnya adalah pahlawan dalam perjuangan hidup masing-masing. Konsep Monomyth yang diusung Joseph Campbell di bukunya The Hero with a Thousand Faces gamblang menggambarkan 12 tahap perjalanan seorang pahlawan. 


Tengok saja perjalanan Wiro Sableng, Spiderman, Wonder Woman, atau pendeta Tong di kisah Sun Go Kong. Bila dibuat perbandingan, semua tokoh fiktif dan kehidupan nyata awalnya akan melalui tahap kehidupan normal yang serba nyaman, sebelum kemudian menemui tantangan atau cobaan hidup. Si tokoh akan berusaha menghindar dari tantangan karena banyak keraguan dan ketakutan akan terjadinya ini itu.  Meskipun begitu, akhirnya si tokoh akan nyemplung juga di dunia petualangan. Wujudnya bisa macam-macam. Perjalanan mencari kitab suci a la pendeta Tong, upaya membuang cincin rame-rame lewat gunung terjal seperti yang dilakukan Frodo dan Sam, atau keputusan untuk studi S2/S3. Semuanya adalah bagian dari tahap Call to Adventure.
Biasanya keberanian muncul karena bertemu orang pintar tur wigati. Bahasa kerennya, ada peran the wise old man/woman. Kalau di kisah Wiro Sableng, sang guru Sito Gendeng bisa jadi adalah the wise old woman. Sementara itu, Frodo punya mbah Gandalf. Spiderman terpanggil menyelamatkan kota New York karena mengingat pesan almarhum pakdenya. With great power comes great responsibility
Namanya petualangan pasti akan banyak rintangan dan musuh. Lihat saja peran the Green Goblin, the Joker, atau Rahwana. Mereka adalah the villain. Si antagonis. Tokoh semacam ini dibutuhkan agar sang protagonis dapat dinilai sebagai manusia yang baik hati dan tidak sombong. Layaknya oposisi biner. Warna putih jadi kelihatan jelas bila dijejerkan dengan warna gelap yang kontras. Dalam kenyataan, acapkali peran antagonis menempel pada diri sendiri. Hanya orang yang rutin melakukan refleksi diri yang dapat merunut sisi-sisi gelap dalam diri. Mungkin Anakin Skywalker tidak mampu berkontemplasi sehingga bertransformasi menjadi Darth Vader. Luke Skywalker, sang protagonis, harus berhadapan dengan ayah sendiri.
Dalam menjalani petualangan, sang pahlawan mungkin akan kalah dulu. Dia harus mundur sebentar untuk mengumpulkan kesaktian, sebelum kemudian balik lagi ke medan perang. Tantangan terkuat bisa saja ditemui di gua tergelap yang hanya bisa dicapai melalui sungai bawah tanah (dan tidak ada perahu untuk rafting), atau di laut terdalam. Untungnya Aquaman jago berenang (sayang tidak ikut olimpiade). Mas ganteng berotot kawat tulang besi ini hanya beda tipis dengan Gatotkaca, yang jago terbang, tapi tidak bisa menyelam. Aquaman menemukan trisula dewa Neptunus di gua Atlan. Tak seorangpun pernah lolos keluar sebelumnya. 
Di moment ini, sang tokoh akan menghadapi ordeal, life-or-death crisis. Mahasiswa yang lagi menulis skripsi/tesis/disertasi mungkin mengalami tahap ordeal dalam bentuk revisi tiada henti yang dituntut dosen pembimbingnya, sementara masa studi semakin mepet. Dalam situasi krisis seperti ini, seringkali pandangan mahasiswa menjad kabur. Susah melihat apakah dosennya berubah peran menjadi the biggest enemy atau the wise old man/woman. (Hayoo yang suka ngrasani dosennya ngaku!)
Cobaan yang bisa membuat si tokoh sekarat ini pada akhirnya berhasil dilalui, dan membuahkan imbalan besar. Bisa harta karun, jadi raja, menemukan kitab terhebat di dunia persilatan, bertemu dengan seseorang yang amat dinanti, membawa ramuan awet muda, atau dapat meraih gelar PhD misalnya😉.
Nah, sang pahlawan sudah menyelesaikan misinya, dengan membawa ilmu kedigdayaan dan menjadi sosok yang sakti mandraguna. Maka saatnya untuk kembali ke dunia nyata (sebelumnya hanya fantasi???), dengan hati yang lebih bersih dan niat tulus untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Di dunia sastra dan mitologi, tahap ini kerap disebut sebagai tahap RETURN WITH THE ELIXIR (jadi ingat iklan obat batuk). 
Jadi kalau Anda menemukan judul film ...RETURNS atau RETURN OF ..., siap-siap saja melihat apakah sang tokoh utama kembali dengan sifat yang lebih bijak dan menyejukkan hati. Menjadi qurrota a'yun bagi masyarakat. Jangan-jangan ini akal-akalan berbau kapitalisme produsernya yang berharap mencetak box office kembali. 
Minggu lalu pas libur Imlek saya main ke Borobudur. Tahu nggak? Ternyata ada mitos yang belum pernah dikenal siapapun. Bukan tentang kisah hidup Sang Buddha, yang bisa dibaca melalui relief candi. Di salah satu tenda menjelang pintu keluar terpampang tulisan RETURN OF SARUNG. Mak deg! Kisah fenomenal apa lagi ini? Apakah sarung yang dipakai suami saya karena dia mengenakan celana pendek di atas lutut membawa misi besar daripada sekedar menutupi aurat (baca: lutut dan paha)? Sama halnya dengan pesona betis Ken Dedes yang bercahaya gara-gara jaritnya tersingkap dan membutakan mata hati Ken Arok. 



Saya menengok ke belakang. Mencari suami saya. "Mas, sarunge wis dibalekno ta?😜


Kebraon, 9 Februari 2019

P.S. Mungkin perlu ada mahasiswa PKL di sana dan membantu membenahi penggunaan Bahasa Inggris di tempat wisata.


Saturday, April 28, 2018

AKU KANGEN BAU IBU

Hal apa yang membuat Anda ingin segera pulang ke rumah? Buat saya, bayangan sambutan dan keceriwisan Adzra adalah salah satu faktor penarik utama agar cepat pulang bila kebetulan ada tugas ke luar kota.

Ketika saya ke Jepang untuk sebuah konferensi internasional pertengahan Maret lalu, Adzra sebenarnya sudah merengek-rengek agar saya tidak usah pergi saja. Apalagi setelah tahu bahwa saya akan pergi selama seminggu. Tahu apa alasannya? Di hari saya terjadwal pulang ke Indonesia, 29 Maret 2018, dia akan mengikuti Outdoor Learning (ODL), acara buat siswa kelas IV di SDIT At Taqwa. Saya katakan, “kan tidak apa Adzra berangkat ODL. Toh orangtua tidak ikut serta.” Ternyata yang dia inginkan berbeda dengan dugaan saya. “Aku pingin cerita-cerita sama ibu pas pulang ODL. Pingin lihat wajah ibu langsung pas aku cerita.” Saya katakan lagi bahwa dia bisa cerita lewat videocall di Google Hangout atau WA. “Tapi aku ingin pegang tangan ibu,” rayunya. Pada akhirnya Adzra luluh juga. “Ceritanya ditahan sampai ibu pulang malam itu juga ya.”

Indera penciuman nampaknya memegang peranan penting dalam menumbuhkan emotional bonding antara orangtua dan anak. Pasti banyak orangtua yang punya cerita unik tentang bagaimana anak suka ndusel di bawah ketiak ibu. Setiap hari Adzra juga suka menciumi tangan saya. Bukan hanya ketika saya pulang dari kampus atau ketika dia pulang les. Habis dolan ke tetangga sebelahpun, begitu masuk rumah, dia suka memeluk saya dan mencari tangan dan sikut saya untuk diciumi. Ketika saya tanya mengapa, jawabannya lucu tapi membuat haru. “Ibu baunya makes me…happy, calm, want to sleep.” Kali lain dia bilang, “aku suka tangan ibu, rasanya gimana gitu kalau kena kukunya.”

Jadi begitulah. Bila saya habis ke luar kota 2-3 hari, maka sesampai di rumah dia selalu pingin segera masuk kamar. Cerita tentang sekolah, atau ambil buku dan meminta saya untuk membacakan cerita. Meski Adzra sudah menjadi pembaca mandiri, tapi bedtime story masih ingin selalu dihadirkannya. Padahal ritualnya ya tetap saja. Saya akan membacakan cerita, dan dia akan memeluk lengan saya. Ketika sudah mengantuk, dia akan katakan, “ibu terus baca ya sampai aku tertidur.” Ketika saya lihat dia sudah merem, kadang saya pelan-pelan beranjak. Tapi selalu saja Adzra meraih tangan saya. Jadilah saya kembali merebahkan badan dan membiarkannya memegang lengan saya.

Maka ketika saya sedang suntuk mengerjakan sesuatu, suara Adzra yang mengatakan, “aku kangen bau ibu” membuat saya pingin segera merampungkan tugas.

Jadi jangan remehkan bisikan hati yang meminta Anda segera pulang. Bisa jadi bau anggota tubuh Anda tengah dirindukan. Tidak seperti Pinokio, hidung tidak pernah berdusta!

Tuesday, January 09, 2018

Semoga Tetap Baik-baik Saja

‘Mbak, dapat salam dari dr. Bob,’ begitu sapa mbak Sirikit Syah di WA hari Minggu kemarin. ‘Lho, habis check-up ta mbak?, tanya saya. Maka mengalirlah percakapan kami tentang kondisi masing-masing. Kami berdua adalah sahabat baik, dan semakin terhubung secara emosional karena sama-sama didiagnosa breast cancer pada saat yang sama, ketika kami sedang di tengah-tengah studi S3. Mbak Ikit menjalani perawatan di RS Onkologi Surabaya, sementara saya nun jauh dari sanak saudara, menjalani semua proses operasi, kemoterapi, dan targeted therapy di Melbourne.
Dr. Bob yang disebut mbak Ikit adalah dokter bedah di RS Onkologi. Dari mbak Ikit pula saya tahu lebih banyak informasi tentang rumah sakit khusus kanker itu. Saat masih di Melbourne, saya sudah ancang-ancang untuk meneruskan proses check-up di RS Onkologi bila nanti pulang kampung. Memang akhirnya saya langkahkan kaki saya ke RS ini, 2 tahun setelah kepulangan saya ke tanah air. Ini langkah yang teledor sebenarnya. Harus saya akui itu. Harusnya saya check-up 6 bulan sekali. Saya pulang kampung di bulan Agustus 2015, Pemeriksaan terakhir secara lengkap saya lakukan di bulan Juni tahun itu, sekaligus meminta semua berkas rekam medis untuk dibawa dan dipindahkan ke Indonesia. Harusnya saya segera mencari rujukan tidak lebih dari 1 tahun kemudian. Dan pekerjaan yang padat menjadi alasan penundaannya. Ah, jangan-jangan sebenarnya saya takut memulai ritme ketemu dokter.
Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan segera memulai check-up rutin di bulan Juni 2017 yang lalu. Saya ditangani oleh dr. Bob, dokter bedah yang muda, pintar (iya lah), dan ramah. Sesi konsultasi terasa seperti ngobrol dengan teman. Tapi tetap saja saya deg-degan. Gaya dr. Bob yang charming belum bisa menghapus rasa was-was saya. 2 tahun tidak pernah kontrol atau konsultasi dengan dokter manapun. Sementara aktivitas saja rodok nggilani. Muter koyok kitiran. Kurang piknik. Maka serangkaian pemeriksaan, mulai tes darah, x-ray, USG, mammogram. Pokoknya apapun yang diminta dokter, saya iyakan. Saya pingin tahu bagaimana kondisi saya. Saya agak pede bilang ke dr. Bob, “sejak pulang berat badan saya cenderung naik, dok. Karena saya tambah happy kali ya.” Dia bilang, “bagus sih mbak, tapi better watch out. Kenaikan berat badan bisa menjadi indikasi kambuh lagi.” Mak deg!
Setelah selesai semua rangkaian check-up di sore-malam itu juga (saya wegah menunda dan balik lagi esok paginya), saya balik lagi ke dr. Bob. Semua hasil pemeriksaan sudah muncul di layar komputernya. Sudah nge-link pastinya dengan ruangan pemeriksaan lain. “Bagus semua mbak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sudah 4 tahun berarti ya. Sudah bagus banget. Dijaga aja kondisinya mbak. Jangan terlalu banyak kenaikan berat badannya.”
Alhamdulillah ya Allah. Pernyataan seperti itu serasa mengangkat semua beban dari bahu. Saya dijadwalkan check up lagi 6 bulan berikutnya. Dan sayapun kembali ke rutinitas. Semester gasal kemarin semakin terasa nggilani. Waktupun bergulir begitu cepat. Dan sapaan mbak Ikit membuat waktu berjalan lebih lambat. Seperti slow motion, saya diingatkan untuk segera bertemu dr. Bob lagi.
Maka pagi tadi, setelah membereskan urusan di kampus, saya meluncur ke RS Onkologi. Saya sudah membuat appointment sebelumnya untuk periksa Selasa pagi. Jalanan padat saya tembus dari sisi barat Surabaya di kawasan Lidah menuju sisi timur. Butuh 1 jam lebih, tapi memberikan cukup waktu untuk menata hati. Biasanya ketika mau check-up begini, rasa ngilu, cenut-cenut, atau pusing bisa dimaknai macam-macam. Jangan-jangan...., semoga bukan ....
Saya mendapatkan antrian nomor 8. Sudah ada 3 pasien yang masuk sebelumnya. Mata saya menyapu ruang tunggu. Cukup ramai siang ini. Saya tolah-toleh mencari sesuatu yang bisa dibaca. Ternyata ada lemari buku di depan kasir. Saya beranjak dan mengambil 1 buku. Dari judulnya, nampaknya buku itu adalah testimoni para perempuan yang pernah didiagnosa kanker. Saya buka dari halaman pertama. Dari buku itu saya baru tahu bahwa mantan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu, dan Linda Gumelar, mantan menteri pemberdayaan perempuan, istri Agum Gumelar, ternyata juga pernah kena kanker.
Lagi asyik menikmati buku itu, nomor antrian saya dipanggil. Tidak terasa, sudah 20 menit saya duduk di ruang tunggu. “Hallo mbak,” begitu sapa dr. Bob. “Salamnya sudah saya terima dari mbak Ikit,” jawab saya. Setelah basa-basi, tanya ada keluhan apa tidak, dr. Bob mulai memeriksa via USG, sambil ngobrol dan flash back tentang treatment yang saya dapatkan selama di Melbourne dulu. “Hardcore juga mbak ini.” Dia katakan begitu ketika saya sampaikan bahwa di sebagian treatment dulu, saya menyuntikkan sendiri obatnya, baik di rumah maupun di RS. Lha saya memang diperbolehkan begitu oleh perawatnya waktu itu.
Ternyata pemeriksaan kali ini hanya cukup USG yang juga tidak terlalu lama. Tidak pakai x-ray, tes darah atau lainnya. Kembali ke meja kerjanya, Dr. Bob membuka obrolan kembali. “Mbak Sirikit biasanya suka baca puisi kalau lagi ada gathering BC survivors.” Saya menyahutnya, “Iya, mbak Ikit ajak saya masuk ke WAG para BC survivors.” “Ah, syukurlah. Bagus itu mbak. Bisa saling support.” Saya mengiyakan, “mbak Ikit memang jago puisi. Kalau saya nulis di blog tentang pengalaman treatment di Melbourne dulu.” (mulai deh promosi blog pribadi). Dr. Bob langsung menyodorkan kertas. “Tulis blognya mbak, saya pingin baca juga.” Eh dokter satu ini memang beda. Saya tuliskan di notebooknya, http://tiwi-lioness.blogspot.com/. “Wah, dari namanya saja sudah terasa nih aumannya. Lioness.” Saya terkekeh. Saya membatin, bukan kalimat itu yang sebenarnya ingin saya dengar.
“Semua baik-baik saja mbak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Alhamdulillah. Sambil memejamkan mata, saya merasakan tubuh saya jadi ringan. Kalimat dr. Bob selanjutnya saya iyakan dan okay-okay saja. Check-up berikutnya bulan Juli, lengkap seperti Juli lalu. Dia berikan surat pengantar untuk pemeriksaan lab. Harus segera saya simpan agar tidak ketlisut.
“Sehat-sehat terus mbak, gak usah yang aneh-aneh lagi.” Iyalah, siapa juga yang ingin sakit lagi. Mengingat kembali hari-hari berat selama paruh kedua 2013 itu saja sudah cukup membuat saya tidak ingin sakit lagi.
Hari sudah beranjak lewat tengah hari. Saya menyetir dengan santai. Sambil menyusuri kembali jalanan Surabaya yang padat di udara yang terik, saya rancang agenda hari ini. Tidak balik kampus, mampir beli rujak, terus pulang. Shalat dulu, makan rujak, lalu tidur siang.
Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan!

Monday, April 24, 2017

ISLAM DAN BARAT: OPOSISI BINER?

Hari ini umat Islam merayakan Isra' Mi'raj. Hari besar ini seringkali kita maknai sebagai sarana mengingatkan umat Muslim tentang sejarah turunnya perintah shalat lima waktu. Dalam perjalanannya naik ke surga, Rasulullah SAW bertemu dengan para Nabi. Allah juga memerintahkan umat Nabi Muhammad SAW untuk shalat 50 kali sehari, namun saat Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa AS, beliau menyuruh Rasulullah untuk kembali ke Allah dan memohon untuk diturunkan jumlah shalat dalam sehari. Rasulullah kembali dari Nabi Musa AS ke Allah SWT sampai 3 kali, sampai kemudian jumlah shalat wajib diturunkan menjadi 5 kali, yang akan dihitung pahalanya 10 kali lipat oleh  Allah SWT. 

Namun bukan hikmah di atas yang akan saya bahas dalam tulisan berikut. Saya akan mengulas bagaimana kisah Isra' Mi'raj menjadi salah satu bukti bagaimana budaya Timur dan Barat di jaman Abad Pertengahan berkelindan secara dinamis dan saling memengaruhi. Tulisan ini saya sarikan secara singkat dari tesis MA saya berjudul The Representation of Islam in Medieval Literature (2004). Versi singkat dalam bahasa Indonesianya pernah saya sajikan dalam Pidato Ilmiah Lustrum ke-8 Unesa pada akhir tahun 2004 (baca lengkapnya di sini).  

Apabila ditelusuri sejarah peradaban Islam, akan diketahui betapa besar pengaruh Islam terhadap dunia Barat, dan begitu juga sebaliknya. Tercatat tiga tempat yang menjadi jembatan hubungan ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, dan agama antara Timur dan Barat, yakni Syria (Suriah), Spanyol, dan Sicilia. Spanyol Andalusia dan Syria merupakan tempat berinteraksinya peradaban Barat dan Islam, sedangkan Sicilia sempat menjadi kota Muslim di jaman kekhalifahan Fatimah sekitar tahun 948, dengan sedikitnya 3000 mesjid berdiri di kota ini (Hitti, 1962: 71).

Peradaban Barat seringkali menjadi panutan dan tolok ukur dalam menilai berbagai aspek dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia sastra. Namun tak banyak yang menyadari bahwa sebenarnya peradaban Islam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sastra Barat. Salah satunya adalah pengaruh kisah Isra' Mi'raj terhadap The Divine Comedy karya Dante.  Dante (1256-1321) adalah seorang penyair Italia dari abad ke-13. Dalam karyanya yang menjadi tonggak sastra Barat kanon (sastra yang sudah mapan dan menjadi tolok ukur kualitas sebuah tulisan), yakni The Divine Comedy (terdiri dari Inferno, Purgatorio, dan Paradiso), Dante mengisahkan tentang perjalanan imajiner dirinya melewati neraka, alam barzakh (purgatory), dan surga. Dengan ditemani oleh Virgil, penyair jaman Romawi, sebagai pembimbingnya, Dante bertemu dengan berbagai tokoh terkenal di dunia pada masa-masa sebelumnya. Di Inferno (Canto XXVIII.28-36), di neraka lapis bawah, Dante bertemu dengan Muhammad yang digambarkan sedang meratapi penderitaan karena siksaan yang diterimanya.



Muhammad dan Ali ditempatkan bersama-sama dengan tokoh-tokoh lain yang menurut Dante memikul dosa sebagai pemecah belah masyarakat. Gambaran siksaan kepada Muhammad bisa dikatakan amat kejam dan mengerikan. Dengan tubuh yang terbelah menjadi dua, lalu utuh kembali, dan terbelah lagi, dan seterusnya,  Muhammad dianggap pantas menerima hukuman atas dosanya menjadi pemecah belah dunia menjadi dengan mendirikan agama baru. Kemungkinan besar Dante juga mengetahui sejarah Islam tentang pecahnya umat Islam menjadi Sunni dan Syiah, karena dia juga menempatkan Ali di lingkar yang sama. Dengan menghukum dua figur Islam yang paling berpengaruh di neraka lapis bawah, Dante telah menunjukkan kebenciannya terhadap Islam.

Namun sebenarnya Dante sedikit banyak menunjukkan simpatinya kepada Islam, khususnya dalam bidang filsafat dan kenegaraan. Di karya yang sama, Inferno, Dante menyebut tiga tokoh yang berpengaruh dari dunia Islam. Ketiga tokoh Muslim ini adalah Avicenna (Ibn Sina), filsuf dan ilmuwan dari Baghdad di abad ke-9 yang karya-karyanya menjadi acuan ilmu kedokteran di Timur dan Barat selama berabad-abad lamanya (Fakhry, 1999:275), Averroes (Ibn Rushd), filsuf Andalusia/Spanyol Muslim di abad ke-11 yang lebih dikenal di Barat sebagai komentator Aristoteles, dan Sultan Saladin dari Mesir yang berhasil merebut Jerusalem dari tangan penguasa Kristen. Ketiga tokoh ini ditempatkan di Limbo, tempat orang-orang baik dikumpulkan tetapi tidak ditempatkan di surga karena mereka tidak dibaptis. Dengan menempatkan ketiga tokoh ini di Limbo, berarti Dante membuka kesempatan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan (salvation).

Bagaimana kita sebagai masyarakat yang literat menyikapi karya sastra kanon seperti ini? The Divine Comedy bisa saja dianggap sebagai karya kanon dalam artian bahwa karya ini digunakan di pendidikan Barat dalam pembelajaran Sastra. Meskipun begitu, karya yang sama bisa saja dianggap bukan kanon dalam hal sentimen agama yang disampaikan. Pandangan agama Dante cenderung menguatkan hegemoni budaya Barat, dan sah-sah saja dijadikan bahan kritik Kajian Budaya atau Poskolonial karena mengamini oposisi biner Islam/Barat.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa sepak terjang Dante juga menunjukkan sikap yang ambivalen--benci dan simpati--terhadap Islam. Dante memberi penghargaan tinggi kepada dua filsuf Muslim (Avicenna dan Averroes) yang juga adalah pakar ilmu Al-Qur’an. Dante juga menaruh hormat tinggi kepada Sultan Saladin, seorang negarawan yang menjadi simbol jihad melawan penguasa agama yang dianut Dante. Bukankah lebih masuk akal bila Dante memasukkan Saladin ke neraka? Bila kita telusuri sejarah perkembangan Islam pada masa itu, Saladin ternyata banyak disebut sebagai tauladan seorang ksatria dan negarawan sejati, yang memperlakukan musuhnya dengan cara-cara yang baik dan manusiawi. Ini sangat jauh berbeda dengan perlakuan para tentara Kristen yang secara membabi buta membunuh orang-orang tidak berdosa, terutama di Perang Salib ke-1 (Munro, 1931;338).

Banyak sumber yang menyatakan bahwa Avicenna dan Averroes berupaya untuk menghadirkan harmoni antara filsafat Aristoteles dengan hikmah dalam Qur'an. Misalnya saja, Averroes berpandangan bahwa ayat-ayat di dalam Qur'an, bila ditafsirkan dengan tepat dan menggunakan akal, maka dapat digandengkan dengan filsafat. Filsafat agama seperti ini besar pengaruhnya terhadap munculnya Christian Scholasticism (Chejne 1974). Averroes banyak memberikan pengaruh kepada perkembangan pemikiran di Barat pada abad ke-13. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sehingga filsafat Aristoteles lebih mudah dipahami di dunia Barat. Dante sendiri bahkan dituduh sebagai pengikut Averroes dan dikucilkan dari kota kelahirannya, dan karya-karyanya dibakar oleh penguasa (Cantor: 1996:138). Pandangan ini bisa menjadi penjelasan mengapa Dante menolak Islam sebagai sebuah keyakinan beragama (sebagaimana tercermin dalam gambarannya tentang Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Ali), namun mengagumi Islam sebagai sebuah filsafat.
  

Pengaruh Islam yang lebih mengejutkan lagi, terutama bagi dunia Barat adalah kritik terhadap keaslian The Divine Comedy. Karya besar yang menjadi bacaan “wajib” bagi mereka yang menekuni Sastra Barat di dunia Barat, ternyata banyak sekali kesamaannya dengan kisah perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Adalah Miguel Asin Palacios, seorang pastur dari Spanyol, yang telah menghabiskan sekitar dua puluh lima tahun untuk menelusuri sumber-sumber yang memberikan inspirasi bagi Dante. Palacios menyatakan bahwa Dante mengambil kisah Isra’ Mi’raj dan berbagai tulisan dari dunia Islam. Dalam bukunya yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Islam and The Divine Comedy (1919), Palacios memberikan begitu banyak detil kesamaan dalam membandingkan keduanya, sehingga hampir mustahil kesamaan-kesamaan itu hanyalah kebetulan saja.





Penelitian Palacios patut diakui kebenarannya. Apabila kita betul-betul menelusuri episode-episode dalam The Divine Comedy yang menggambarkan neraka, alam barzakh, dan surga. Kita bisa menemukan begitu banyak kemiripan dengan gambaran neraka dan siksaan-siksaan terhadap berbagai macam dosa di setiap lapis neraka, maka sebagaimana tertulis di Al-Qur’an dan Hadith. Ambil saja sedikit contoh: Baik kisah Isra’ Mi’raj (Sahih Bukhari, Kitab 23, no. 468) maupun The Inferno (Canto XII.46-8) menggambarkan siksaan yang sama kepada orang yang meribakan uang. Mereka ditenggelamkan ke dalam sungai darah, dan dilempari batu yang kemudian mereka telan. 

Kemiripan yang patut disebut juga adalah bentuk siksaan yang terus menerus, misalnya kondisi fisik yang pulih dan utuh kembali untuk kemudian disiksa lagi. Dante memberikan gambaran di hampir seluruh bagian di Inferno. Sementara itu, umat Muslim sudah akrab dengan gambaran seperti ini, sebagaimana yang tersebut di Al-Qur’an  (QS An-Nisa: 56: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

Mungkinkah seorang Dante membaca Al-Qur’an dan/atau hadist secara langsung sebagai sumber inspirasinya? Isu tentang keaslian The Divine Comedy ini cukup kontroversial. Untuk memberi jawaban yang singkat, penjelasan yang sementara ini dianggap paling memungkinkan adalah bahwa Dante terinspirasi oleh karya seorang Sufi dari Andalusia pada abad ke-13, Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Karyanya, Futuhat Al Makkiyah, adalah kisah perjalanan mistis Ibn ‘Arabi, yang ditulis dengan menggunakan kisah Isra’ Mir’aj sebagai dasar (Morris, 1987). Ada pula banyak bukti bahwa pada masa hidup Dante, kisah Isra’ Mi’raj dalam versi bahasa Latin cukup dikenal. Mentor Dante, Brunetto Latini, pernah bekerja untuk Raja Alfonso X di Toledo, Spanyol. Alfonso X memerintahkan penterjemahan banyak karya bahasa Arab ke bahasa Latin, dan salah satunya adalah kisah Isra’ Mi’raj. Kita bisa berspekulasi bahwa Dante juga mendapatkan sumber-sumber ini dari gurunya (Asin Palacios, 1926:248-9; Chejne, 1974: 405).

Melalui tulisan ini, saya berharap agar kita semua umat manusia untuk belajar menerima perbedaan tanpa harus kehilangan keyakinan beragama kita masing-masing. Kita semua sadar bahwa ketidaktahuan masyarakat awam non-Muslim tentang Islam adalah akar dari Islamophobia. Sama halnya umat Muslim yang awam tentang keyakinan lain bisa menjadi ladang subur tumbuhnya kebencian. Kita bertetangga dengan berbagai pemeluk agama, namun tahukah kita, atau pernahkah kita saling bertanya dengan tulus tentang makna peringatan hari raya agama lain? Kita diharapkan untuk menunjukkan toleransi terhadap agama lain, namun apalah artinya toleransi bila tidak disertai dengan keterbukaan terhadap adanya perbedaan?   Di jaman yang bersifat multikulturalis ini, perbedaan bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan demi sebuah keseragaman, karena pada dasarnya perbedaan membuat kita semakin kaya, tanpa harus kehilangan identitas agama dan budaya masing-masing.

Sudah banyak yang dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara Islam dan Barat, namun jalan yang harus ditempuh masihlah sangat panjang. Benturan peradaban masih campur aduk dengan konflik agama. Barangkali tak perlu diperdebatkan mana yang ayam, mana yang telur. Kita benar-benar membutuhkan upaya yang keras dan terus menerus untuk membuka mata dunia bahwa batas-batas dan dikotomi Timur/Barat, Superior/Subordinat, dan Modern/Tradisional sebenarnya hanyalah garis maya.

Satu-satunya cara untuk membangun kesepahaman adalah dengan mengupayakan keterbukaan terhadap satu sama lain dan kesungguhan untuk menghargai tradisi masing-masing. Bukankah Allah telah menciptakan dunia ini penuh dengan perbedaan agar manusia bisa mengenal satu sama lain. Allah berfirman:
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al-Hujuraat: 13).


Daftar Rujukan

Alighieri, D. The Inferno. Trans. Allen Mandelbaum. New York: Bantam, 1980.
Cantor, P.A. 1996. “The Uncanonical Dante: The Divine Comedy and Islamic Philosophy.”  
       Philosophy and Literature 20: 138-53.
Chejne, A.G. 1974. Muslim Spain: Its History and Culture. Minneapolis: The U of
       Minnesota P.
Fakhry, M. 1999. “Philosophy and Theology from the eighth century C.E to the 
       present.” The Oxford History  of Islam. Ed. John L. Esposito. New York: Oxford UP. 
       269-304.
Munro, D. C. 1931. “The Western Attitude toward Islam during the Period of the Crusades.” 
       Speculum 6 (1931):329-243.
Hitti, P. K. 1962. Islam and the West: a Historical Cultural Survey. Princeton: Nostrand.
Morris, J.. 1987. “The Spiritual Ascension: Ibn ‘Arabi and the Mi’raj Part I.” Journal of the 
       American Oriental Society 107: 629-52.
Palacios, M.A. 1926. Islam and the Divine Comedy. New York: E.P. Dutton.


Sunday, April 16, 2017

SAYA TIDAK BISA MEMBUAT SEMUA ORANG BAHAGIA

“Kamu tidak bisa menyenangkan semua orang.” Kalimat ini acapkali saya dengar dari mulut mas Prapto setiap kali saya curhat tentang hari-hari saya. Kadang saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri. Mengapa ketika saya merasa melakukan hal-hal yang menurut saya baik, orang lain bisa menganggapnya  sebagai tindakan punya pamrih. Kadangkala bahkan ditentang habis-habisan. Ada juga yang sebenarnya mengamini tapi nampak cuek, kemudian diam-diam mencari tahu lebih dalam  dari orang lain. Itu hanya karena kebetulan ada yang merasa kurang cocok secara personal dengan saya.

Ada banyak pertanyaan ‘mengapa’ di benak saya. Tapi melelahkan juga mencari jawabannya. Ketika sudah mentok seperti ini, maka saya mengingat kembali ucapan suami saya. “Masak semua orang suruh setuju dengan apa yang kamu lakukan.”

Saya sedang merenung tentang pemaknaan literasi dalam persepsi orang-orang yang saya kenal. Harus saya akui bahwa antusiasme saya terhadap literasi memang amat tinggi. Praktis dalam setiap pandangan mata saya, yang saya cari adalah bukti-bukti orang sedang terlibat dalam praktik literasi. Entah itu di rumah, di kampung, di kampus, di hotel, di tempat umum, dan sebagainya. Saya mengikuti beberapa grup di medsos yang berorientasikan kepada literasi. Di beberapa grup saya cukup aktif, sementara di beberapa lainnya saya hanya sebagai pengamat. Tapi beragamnya anggota masing-masing grup ini menunjukkan bahwa literasi memang amat luas maknanya sebagai praktik sosial.

Karena literasi tidak lagi hanya terbatas pada kegiatan membaca dan menulis, saya cenderung meyakini bahwa orang-orang yang tahu benar pentingnya literasi informasi akan sepakat bahwa literasi memang wajib dipahami oleh semua orang. Guru semua mata pelajaran, para orangtua, birokrat, dan siapa saja butuh mengetahui bagaimana menyampaikan, memperoleh, mengelola dan mengevaluasi informasi melalui berbagai jenis teks. Apakah melalui buku, koran, majalah, fiksi, nonfiksi, radio, televisi, dan media lain, semua informasi perlu diolah dengan kacamata kritis.

Dalam hitungan saya, semakin banyak mahasiswa S1, S2 dan S3 yang mengangkat literasi sebagai bahan kajiannya. Ada banyak jalan yang mereka lalui untuk mengenal konsep literasi itu. Ada yang lewat kelas-kelas yang saya ajar, tulisan saya di blog, presentasi saya di seminar dan workshop. Dan tentunya jauh lebih banyak yang mengenal literasi dari dosen lain atau buku-buku dan artikel yang mereka baca. Saya kan termasuk ‘pemain’ baru. Ada banyak pegiat yang sudah jauh lebih lama dan berpengalaman menggeluti literasi. Saya ‘mah’ tidak ada apa-apanya. Hanya saja timingnya memang tepat saat ini. Pendek kata, kata literasi memang semakin trendy saja. Saat ini, mudah sekali mencari artikel di media massa yang mengulas literasi di masyarakat. Perubahan ini tentunya membahagiakan para pegiat literasi.

Itulah sebabnya saya sempat terhenyak ketika seorang teman baik melontarkan ketidaksetujuannya secara terbuka terhadap sepak terjang saya. Oops. Sebenarnya saya tidak sedang menyepak atau bahkan menerjang siapapun. Saya pun mencoba mencari penjelasan kepada yang bersangkutan. Di manakah kiranya hal tentang literasi yang membuatnya jengah? Di mata saya yang orang sastra, rasanya muskil ada penikmat dan akademisi sastra yang justru menolak masuknya literasi dalam ranah sastra. Dalam waktu sekejap, kami seolah-olah sedang sama-sama pasang badan, membela posisi masing-masing.

Usut punya usut, cara pandang kami ternyata berbeda. Sobat saya menilai saya sedang ‘memaksakan’ literasi sebagai teori sastra baru. Dia tidak bisa menerimanya. Di matanya, disiplin sastra sudah mapan dan tidak seharusnya diutak-atik. Dan saya gantian yang bingung. Wong saya tidak pernah mengatakan bahwa literasi adalah teori sastra baru. Bagi saya, literasi dalam sastra sebuah isu yang menarik dan layak dikupas melalui tokoh-tokoh di dalam cerita atau film. Tak ubahnya dengan isu kecemasan, depresi, bias gender, rasisme, konflik strata sosial dan sebagainya. Bila isu bias gender dan emansipasi perempuan dapat dikupas dengan teori feminisme, maka representasi literasi dalam sastra dapat ditelaah dengan teori New Literacy Studies. It’s as simple as that. Saya memilih teori NLS karena persepsinya tentang literasi sebagai praktik sosial, dan bukan sekedar serangkaian ketrampilan bahasa. Ini teori yang sedang saya dalami dan kembangkan dalam berbagai aktivitas literasi saya.

Setelah disentil sobat saya ini, saya mencoba merenungkan kembali. Di mana kesalahan langkah saya. Saya termasuk orang yang khawatir menyakiti perasaan orang lain. Jangan-jangan ‘kampanye’ literasi saya terlalu berisik dan mengganggu sebagian orang. Jangan-jangan tanpa sadar saya sedang melakukan kekerasan simbolik kepada orang lain. Maka saya mulai mengumpulkan bukti-bukti.

Di dalam catatan saya, ada 5 mahasiswa S1 bimbingan saya yang menulis tentang representasi literasi dalam novel-novel pilihan mereka. Isu yang diangkat bervariasi, mulai tentang literasi dan kekuasaan, literasi sebagai ancaman, literasi dan pemberdayaan perempuan, sampai literasi sebagai terapi penyembuhan diri. Tiga di antara mereka sudah lulus tahun lalu. Di luar itu, saya juga memasukkan tema literasi dalam kelas-kelas yang saya ajar. Mulai tema media literacy dalam mata kuliah Popular Culture Studies, tema reading as family practice di kelas Poetry, dan literacy as self-development di kelas Prose.

Di kelas S2, literasi malah menjadi bahasan utama di mata kuliah baru, Literacy in Education. Dalam kurun waktu 1 semester, kami mengulas berbagai konsep yang terkait dengan literasi dalam berbagai ranah. Di akhir semester, saya memandang setidaknya 30an mahasiswa Pasca memahami berbagai konsep literasi di ranah sekolah, keluarga, dan komunitas. Semester ini, ada sekitar 6 mahasiswa S2 bimbingan saya yang mengangkat literasi di ranah pendidikan. Saya memang sempat menyampaikan bahwa saya hanya mau membimbing tesis yang berbasis sastra. Namun ternyata ada beberapa mahasiswa yang tertarik menulis tentang literasi di ranah pendidikan. Saya akhirnya bersedia membimbing tesis nonsastra, dengan syarat temanya literasi.

Mungkin saya memang terlalu berisik. Saya cukup sering menyampaikan peran literasi yang menyatukan disiplin sastra, linguistik, dan pembelajaran bahasa. Bahwa ketiga disiplin ini berbeda dan punya keunikan masing-masing memang benar. Tapi bahwa ada banyak irisan di antara ketiganya juga harus dicari kemungkinannya. Di depan teman-teman yang bidangnya Sastra, saya mencoba menampilkan tema literasi sebagai isu baru. Dengan teman-teman Linguistik, saya menunjukkan bahwa konsep New Literacy Studies justru tumbuh dan berkembang dari sana. Pendek kata, Linguistik adalah rumahnya. Sementara itu, dengan teman-teman disiplin Pendidikan (bahasa dan nonbahasa), saya cukup banyak mengulas pentingnya penumbuhan minat baca di kelas, berbagai strategi membaca, dan saat ini pentingnya strategi literasi dalam pembelajaran yang dapat dipraktikkan di semua mata pelajaran.

Sebenarnya saya juga tidak ingin asal bicara. Di berbagai forum saya memaparkan pengembangan iklim literasi sekolah dan memodelkan penerapan strategi literasi untuk tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran kepada para guru. Ini saya lakukan dalam kapasitas saya sebagai anggota Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud. Di kelas-kelas yang saya ampu, saya sudah cukup lama menggunakan strategi-strategi literasi. Di dinding kelas banyak poster mahasiswa yang mencerminkan pemanfaatan strategi literasi dalam pembelajaran. Dengan menerapkannya sendiri, saya bisa tahu plus minus dan dinamikanya.

Barangkali saya terlalu bersemangat, sampai tidak sadar bahwa ada pihak-pihak yang mulai terganggu kenyamanannya. Meski saya dapat berdalih bahwa saya ingin mengajak banyak pihak ikut melakukan perubahan, saya kurang awas bahwa tiap orang punya preferensi sendiri dalam melakukan perubahan. Bisa jadi saya pasang persneling agak tinggi karena membandingkan langkah saya dengan para pegiat literasi yang jauh melesat. Saya ingin ikut berlari dan menggandeng orang-orang di sekitar saya, sampai lupa bahwa tiap orang punya jalan berbeda. Saya memang tidak pernah memaksa orang lain mengikuti langkah saya, tapi cara saya bisa saja dimaknai berbeda.

Sekilas saya baca kembali paragraf-paragraf di atas. Mencoba mengonfirmasi dugaan saya, dan menguatkan niat saya untuk sedikit mengubah haluan. Mungkin saya perlu berdiam diri sejenak dan beralih mengamati langkah-langkah orang lain. Menjadi pengamat aktif, layaknya melakukan pengamatan partisipasi dalam metode etnografi.

Dalam renungan ini, saya merasakan hal yang berbeda. Saya menikmati antusiasme seorang teman yang aktif berbagi informasi tentang pencarian referensi yang dia lakukan di dunia maya, dan tentang praktik-praktik literasinya di kelas. Saya bisa menangkap binar matanya, dan tinggal mengiyakan pandangannya. “Sekarang ini mau tidak mau semua orang perlu tahu literasi,” begitu katanya. Saya tahu dia lakukan ini bukan karena saya yang menyuruh, tapi karena dia meyakini bahwa yang dia lakukan di kelas-kelasnya ternyata mendapatkan penguatan. Tidak cuma satu dua orang yang menunjukkan ketertarikannya terhadap literasi dengan cara begini. Ada beberapa yang meminta bantuan saya mengirimkan referensi untuk kajian literasi yang akan mereka garap, membaca draf mereka untuk dikomentari, atau sekedar ngobrol ringan tentang literasi. Dan mereka tahu literasi bukan dari saya. Mungkin mereka menghubungi saya karena mencari orang yang dapat mendukung ide-ide mereka.

Ternyata literasi memang bisa dimaknai berbeda. Sikap teman-teman saya menunjukkan bahwa literasi bisa memberdayakan, namun juga dapat menjadi ancaman. Jadi saya tidak perlu risau karenanya. Saya justru harus berterima kasih karena sudah diberikan bukti penerapan prinsip pendekatan New Literacy Studies. Saya jadi berpikir untuk melakukan kajian lebih mendalam tentang persepsi orang terhadap literasi.

Suami saya memang benar. Saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Tapi setidaknya ada saja yang tergugah dan ikut bergabung bersama menyatukan langkah. Di sini saya merasa bahagia.

Kebraon, 15 April  2017